Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Pendidikan

Prestasi sma rambut cepak

Sma taruna nusantara meraih nilai ebtanas sangat tinggi. sebagian besar akan masuk akabri. sekolah calon pemimpin bangsa yang komplet: cerdas, sehat, dan berkepribadian baik.

ACARA wisuda itu mirip upacara militer, megah dan penuh semangat kejuangan.
Dipimpin langsung oleh Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, 277 siswa
diwisuda sebagai lulusan SMA Taruna Nusantara, Sabtu pagi pekan lalu, di
balairung kompleks sekolah itu di Magelang.
Para siswa mengenakan seragam biru muda, rambut cepak, dan tegap langkahnya.
Masing-masing menghormat lambang SMA Taruna Nusantara sebelum menerima surat
tanda tamat belajar (STTB) dan daftar nilai ebtanas murni (NEM). Acara wisuda
pertama itu, selain disaksikan 500 orang tua murid, juga dihadiri sejumlah
pejabat teras ketiga angkatan dan Polri. Di samping itu ada pula beberapa
jenderal purnawirawan, seperti L.B. Moerdani dan Dading Kalbuadi, serta
sejumlah tokoh Taman Siswa.
Para siswa yang pagi itu diwisuda boleh bangga karena nilai rata-rata mereka
hampir 54 untuk tujuh mata pelajaran. Nilai tertinggi 62,82, atau rata-rata
hampir 9, diraih Firman Dwi Cahyono. Secara keseluruhan, nilai paling menonjol
adalah pelajaran matematika. Delapan siswa memperoleh nilai 10. Dan nilai
terendah adalah 44,38 atau rata-rata masih 6,5 per mata pelajaran. Alhasil,
hasilnya memang jempolan.
Lulusan pertama yang nilainya di atas rata-rata kebanyakan SMA itu merupakan
hasil pendidikan SMA plus. Sejak dibuka tiga tahun lalu, SMA Taruna Nusantara
memang menyeleksi calon muridnya dengan ketat dari 27 provinsi. Selain dilihat
kecerdasannya, mereka juga dipilih dari lulusan SMP yang berbadan sehat dan
berkepribadian baik.
Pendidikan bukan cuma di kelas seperti laiknya SMA. Mereka diasramakan.
Selain mengikuti pendidikan dengan kurikulum SMA biasa, mereka juga mendapat
tambahan pendidikan selama 24 jam berupa latihan disiplin, kepemimpinan,
keterampilan, kesehatan, dan pengembangan bakat. Fasilitas pun komplet,
termasuk 11 setel pakaian gratis dan uang saku Rp 15.000 per bulan.
Dari 281 siswa yang diterima tiga tahun lalu, 145 anak menyatakan ingin
meneruskan ke Akabri setelah lulus SMA. Namun, menjelang pengumuman hasil
ujian, siswa yang ingin masuk Akabri menjadi 160 orang atau hampir 60%.
Ide membuat SMA plus itu datang dari Panglima ABRI ketika itu Jenderal L.B.
Moerdani. Salah satu tujuannya adalah menyiapkan kader pemimpin bangsa yang
cerdas, sehat jasmani, disiplin, dan berkepribadian baik, sejak dini. Sebab,
ketika itu, dianalisa bahwa lulusan SMA yang diseleksi masuk Akabri pun tak
begitu memuaskan. ''Banyak taruna Akabri yang harus dikerek,'' kata Benny
Moerdani ketika itu.
Maka, Mabes ABRI mengajak Taman Siswa mencetak kader pemimpin yang berwawasan
kebangsaan. Setiap pihak mendirikan yayasan untuk mengelola SMA itu, yakni
Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman (ABRI) dan Yayasan Kebangkitan
Nasional (Taman Siswa). Kedua yayasan itu membentuk Lembaga Pendidikan Taman
Madya Taruna Nusantara, yang mengelola langsung SMA itu.
Dalam melaksanakan pendidikan, SMA Taruna Nusantara pun memadukan dua hal
yang sering dianggap bertolak belakang. Menurut Kolonel Sadja Muljoredjo,
wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana, pendidikan di situ memadukan
disiplin yang tinggi dan kreativitas yang menonjol. ''Ini penting karena dari
manusia yang berdisiplin itu muncul manusia yang kreatif,'' katanya. ''Mereka
memang dipersiapkan untuk bersaing di forum internasional,'' kata Sri Martoyo,
wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Dalam pendidikan sehari-hari, mereka
diajar untuk biasa hidup dengan persaingan yang sehat, disiplin ketat, dan
suasana intelektual yang serius.
Yang pertama kali memetik panen SMA Taruna Nusantara itu tentu tetangganya,
Akabri, yang berada di seberang kompleks SMA itu. Selain nilai lulusannya
tinggi, sekolah itu juga berhasil menyediakan lulusan yang sehat badan dan
berkepribadian matang. ''Ini membuktikan seleksi dulu tak keliru, hingga
hasilnya baik sekali,'' kata Komandan Jenderal Akabri, Laksda Wahyono, kepada
Juwarno dari TEMPO. Secara keseluruhan, kata A.M.W. Pranarka dari Taman Siswa,
yang ikut membidani lahirnya SMA itu, tak ada pengarahan agar mereka masuk
Akabri. ''Masuk Akabri bagi mereka toh tak ada kemudahan apa-apa,'' katanya
kepada TEMPO.
Selain ingin masuk Akabri, menurut angket yang diisi, sebagian akan masuk
perguruan tinggi. Ada lagi yang ingin menjadi pilot, mendapat beasiswa dari PT
Telkom, dan 36 anak melanjutkan ke STPDN.
Namun, setiap siswa tentu punya cita-cita yang lebih jelas. Firman, yang
juara pertama, ingin masuk Akabri agar jadi jenderal. Sedangkan temannya,
Haryadi, masuk Akabri ingin jadi polisi. ''Saya ingin memperbaiki citra
polisi,'' katanya. Keduanya punya cita-cita sama, yakni menjadi orang nomor
satu di ABRI. Dan pemimpin bangsa seperti itulah yang diimpikan para
pendirinya akan lahir dari Magelang.
Melihat hasil pendidikan terpadu yang menggembirakan itu, Feisal Tanjung
lantas berharap ada pihak swasta lain yang berani membuat SMA serupa. Di masa
mendatang, kata Feisal, SMA Taruna Nusantara hasil kerja sama Mabes ABRI dan
Taman Siswa itu juga akan menerima siswa putri. ''Tapi itu menuntut persiapan
matang dan penyesuaian,'' katanya.
Agus Basri dan Marcelino X. Magno (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data