Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Kriminalitas

Golden venture kandas di new york

Empat kapal dengan awak indonesia ditangkap di as, mencoba menyelundupkan imigran dari rrc. siapa kin sin lee dan mister wong? wawancara tempo dengan nakhoda amir h. lumban tobing.

"SAYA baik-baik saja dalam penjara. Hanya pinggang saya yang masih sakit,''
kata Amir Humuntal Lumban Tobing, 45 tahun, kepada TEMPO, Ahad pekan lalu.
Nakhoda Golden Venture ini sudah sepekan tidur di penjara Kota New York.
Amir dituduh menyelundupkan hampir 300 pendatang gelap dari Cina Daratan
(RRC) ke Amerika Serikat. Mungkin ia juga didakwa lalai bertugas sebagai
nakhoda, sehingga menewaskan enam penumpang kapalnya pada 6 Juni silam.
Bermula ketika sekitar 200 penduduk asal Fujian (RRC) itu terjun dari kapal
Golden Venture ke laut. Waktu itu ombak besar menghantam dinding kapal. Dalam
suhu dingin sekitar 12 derajat Celcius, mereka mencoba berenang sejauh 200
meter ke pantai, sejak pukul 2 subuh. Namun, empat di antara mereka hanyut
dibawa arus. Tewas. Sedangkan dua orang lagi yang terjun ke laut itu meninggal
karena serangan jantung, kendati sempat diselamatkan dan dirawat di rumah
sakit.
Korban mungkin akan lebih banyak seandainya polisi tidak memergoki mereka
pada pukul 3 pagi itu. Dua ratus lima puluh polisi yang dilengkapi 4
helikopter dan 53 ambulans serta di- bantu petugas pemadam kebakaran datang
menolong para perenang dari kapal yang kandas itu.
Sekitar 29 perenang yang nekat tadi harus mendekam di rumah sakit karena
kecapakan dan menderita hipotermia. Sedangkan 295 lainnya, termasuk 100 orang
yang bertahan di kapal, seperti Amir Lumban Tobing, sempat mengalami perawatan
ringan di rumah sakit. Maklum, Golden Venture sudah berlayar 112 hari sebelum
tiba di AS.
Mereka yang sudah keluar dari rumah sakit segera pula masuk kerangkeng. Pihak
imigrasi AS menyatakan akan menahan mereka sampai proses pengadilan selesai.
Mungkin mereka akan ditahan berbulan-bulan, atau lebih dari setahun.
''Perlakuan terhadap bekas penumpang Golden Venture itu akan menjadi
pelajaran bagi yang ingin mengikuti jejak mereka ke AS,'' kata Duke Austin,
juru bicara kantor imigrasi AS. ''Jika kami melepaskan mereka untuk bekerja,
itu berarti memberi apa yang mereka inginkan, jadi berarti kami mendukung
elemen kriminal yang ada di dalamnya,'' tambah Austin.
Ternyata, kebijaksanaan imigrasi AS kini sudah berubah 180 derajat. Sejak
pemerintahan Presiden Reagan, pendatang gelap dari Cina yang minta suaka
politik biasanya diberi surat izin bekerja sementara, selama permohonannya
diproses. Lazimnya, imigran Cina minta suaka politik dengan alasan tertekan
beleid pemerintah RRC yang hanya membolehkan satu anak dalam keluarganya.
Celah hukum ini rupanya dimanfaatkan sejak tahun 1980-an. Arus pendatang
gelap Cina ke AS mulai menggelombang. Minat besar mereka berimigrasi ke Meiguo
sebutan penduduk Cina terhadap AS, yang berarti negeri nan indah menerbitkan
peluang bisnis. Penyelundup profesional mulai menjamur, termasuk memanfaatkan
paspor Indonesia yang dibeli dari Sofiandi, Kepala Kantor Imigrasi di
Tanjungbalai, Sumatera Utara (TEMPO, 9 November 1985). Penyelundupan imigran
ini muncul pula di Hawaii dan Meksiko.
Celah hukum ini juga dimanfaatkan oleh Sheik Omar, yang diisukan terlibat
dalam peristiwa pengeboman World Trade Center, sehingga wakil rakyat AS
mendesak untuk meninjau kembali kebijaksanaan ini. Bahkan di New York
pendatang gelap dari Indonesia pun mulai mencoba jurus ini. Menurut sebuah
sumber, setidaknya 15 warga Indonesia minta suaka politik di kota tersebut.
Tindakan itu menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia di New York, yang
legal maupun yang bukan, tersinggung. Seorang di antaranya bahkan
melaporkannya dengan mengirim surat ke Kotak Pos 5000 di Jakarta.
Tidak jelas bagaimana kelanjutan laporan itu karena pengacara para pemohon
suaka ini menolak memberikan keterangan. ''Peng- acara itu meminta bayaran US$
800 untuk mengurus soal ini,'' kata sumber di Konsulat Jenderal RI di New
York.
Ada sebabnya kegiatan pendatang gelap dari RRC banyak diperhatikan. Kegiatan
menyelundupkan manusia ini semakin gila sejak meletusnya peristiwa Tiananmen,
1989, hingga Presiden Bush mengeluarkan instruksi memberikan suaka politik
bagi warga RRC terutama mahasiswa yang khawatir akan mengalami tekanan
pemerintahnya. Dalam catatan International Institute for Education, lembaga
swasta yang aktif mengamati mahasiswa asing di AS, 110.000 dari 180.000
mahasiswa RRC mengambil suaka.
Rupanya, penyelundupan yang semula dilakukan dalam skala kecil-kecilan itu
karena keterbatasan transportasi udara mulai beralih memanfaatkan jalur laut.
Tapi, sejak tahun 1991, pihak keamanan AS hanya berhasil menangkap 20 imigran
gelap Cina di laut. Tahun ini, kepolisian New York memperkirakan arus
pendatang haram dari Fujian ke New York saja mencapai 2.500 hingga 3.000 orang
sebulan, dan sudah 2.000 yang tertangkap di laut.
Sebagian dari kapal yang ditangkap itu ternyata diawaki bahkan dinakhodai
oleh pelaut Indonesia. Golden Venture adalah kapal keempat sejak tahun lalu
yang masuk kategori menyelundupkan manusia.
Yang pertama adalah kapal Lucky 1 yang ditangkap pihak keamanan laut AS, 19
Juni tahun lalu, di California. Nakhoda- nya, Supriyadi Sugiyono, mengaku
dikudeta penumpangnya ketika menunggu perahu yang menjanjikan akan menjemput
119 penumpang pendatang haram di lepas pantai tapi ternyata tak muncul-
muncul.
Supriyadi Sugiyono kini masih menjalani hukuman penjara 14 bulan di Texas.
Tujuh anak buahnya sudah bebas setelah menjalani hukuman 8 hingga 10 bulan.
Sedangkan delapan anak buahnya dideportasi.
Enam bulan kemudian, kapal Manyoshi Maru membuat berita di San Francisco.
Sebanyak 180 imigran RRC di dalamnya menguasai kapal dari awak berkebangsaan
Indonesia yang dinakhodai Abner Sammy Mandak itu, lalu minta pertolongan
melalui pemancar radio. Kapal patroli AS menangkap kapal ini tidak jauh dari
jembatan Golden Gate yang terkenal itu.
Mandak kini sedang menunggu vonis pengadilan. ''Kami perkirakan sekitar 15
bulan potong tahanan,'' kata Renywati Zulkarnaen, kepala bagian konsuler di
Konsulat Jenderal RI di San Francisco yang menangani masalah ini. Adapun
delapan awak Indonesia lainnya dihukum penjara 4 hingga 6 bulan potong masa
tahanan. ''Mereka sudah menjalani hukuman itu dan sudah dideportasi,'' kata
Renywati.
Hukuman penjara itu tampaknya tidak meciutkan nyali pelaut Indonesia. Awal
Maret lalu, petugas keamanan di Kepulauan Marshall menangkap kapal Eastwood,
yang dipenuhi hampir 500 pendatang haram Cina di lepas pantai. Kapal ini juga
diawaki pelaut Indonesia. ''Sembilan awaknya semua langsung dideportasi,''
kata Santoso, Kepala Bidang Konsuler Konsulat Jenderal RI di Los Angeles.
Faktor yang membuat para pelaut Indonesia cukup nekat itu tampaknya berpulang
ke soal rezeki juga. ''Saya dijanjikan gaji US$ 2.000 sebulan ditambah bonus
US$ 40.000,'' tutur Amir Lumban Tobing (lihat Dijadikan Kambing Hitam). US$
15.000 di antaranya sudah dibayar, tapi hampir US$ 4.000 di sakunya, menurut
Amir, dirampok penumpangnya.
Pada hari Amir ditangkap di AS, istrinya, Zahratun, pindah ke rumah baru di
kompleks BTN di Palembang. Itulah hasil kiriman Amir, yang tiap bulan rajin
mengirimkannya ke Palembang. Terakhir, ayah seorang putri yang duduk di kelas
VI SD ini mengirim surat kepada istrinya, 5 Maret lalu, ketika di Singapura.
''Bapak rajin salat lima waktu dan selalu membayar zakat,'' tutur Zahratun
kepada Hasan Syukur dari TEMPO.
Amir agaknya belum tentu nakhoda Indonesia terakhir yang akan terlibat
penyelundupan imigran RRC ke AS. Pasarnya menggiurkan. Tiap imigran
diperkirakan membayar US$ 25.000 hingga 30.000 un- tuk hijrah ke Meiguo.
Peminatnya memang banyak. Amir sendiri mengatakan, ia menolak ratusan calon
penumpang asal RRC di Afrika Selatan naik ke Golden Venture, karena sudah
penuh. Tapi tim Kin Sin Lee menyiapkan perjalanan ini dengan rapi. Di setiap
pemberhentian, Golden Venture sudah ditunggu ratusan imigran dalam kapal-kapal
kecil.
Selain itu, jaringan pengatur penyelundupan warga RRC ke AS ini tampaknya
punya banyak kontak dengan Indonesia. Salah satu pemimpinnya disebut Mister
Wong. Maka, timbul pertanyaan, apakah ini karya Mister Wong yang sama, yang
membeli paspor dari Tanjungbalai tempo hari.
Bambang Harymurti (Washington DC), Sudirman Said, Ahmed K. Soeriawidjaja (New
York), dan Taufik T. Alwie (Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data