Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Ekonomi dan Bisnis

Utak-atik sang komponen

Pengusaha mobil dipersilahkan untuk mengutak-atik kemampuan memakai komponen lokal, agar bisa bersaing. perhitungannya cukup rumit. ada peluang untuk main mata dengan penilai? ada tabel.

KINI industri mobil dihadapkan ke dua pilihan. Mau memakai banyak komponen
lokal atau royal dengan komponen impor. Menentukan salah satu dari dua pilihan
ini tampaknya kini sedang menjadi kesibukan bos-bos industri mobil di
Indonesia, terutama setelah Pemerintah mengumumkan paket deregulasi otomotif
Kamis pekan lalu.
Kenapa? Karena hitungan kandungan komponen lokal akan menentukan bonus yang
akan diberikan Pemerintah, terutama korting dalam tarif bea masuk dan pajak
penjualan barang mewah. Sebagai contoh, dalam aturan baru itu bagi mobil jenis
sedan, misalnya, jika kandungan komponen lokal lebih dari 60%, akan gratis
(0%) tarif bea masuk. Sebaliknya, kalau boros menggunakan komponen impor,
misalnya sampai 80% (hanya 20% lokal), industri mobil tersebut membayar tarif
bea masuk 100%, seperti yang selama ini mereka lakukan.
Demikian pula dengan pajak penjualan barang mewah. Sedan 1.600 cc ke bawah,
jika menggunakan komponen lokal lebih dari 60%, kini cukup membayar pajak
penjualan barang mewah 20%. Padahal, sebelumnya mereka harus membayar 35%.
(lihat tabel).
Ketentuan baru tentang insentif pemakaian komponen lokal ini tampaknya
menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian, karena besar kecilnya fulus
yang diberikan Pemerintah ini tentunya ikut mempengaruhi biaya produksi. Dan
pada gilirannya akan mempengaruhi harga jual mobil.
Toh beberapa pengusaha menyanggah bahwa ketentuan baru itu bisa menurunkan
harga jual dalam waktu dekat. Karena target untuk menurunkan kandungan
komponen impor bukan pekerjaan mudah dan bukan jaminan mampu menekan harga.
Hal ini seperti yang dikatakan Adirizal Nizar, Direktur Teknik Toyota Astra
Motor. Untuk pembuatan sebuah transmisi mobil (gigi-gigi untuk perpindahan
persneling), misalnya, Toyota selama ini masih mengimpor dari Jepang. ''Tapi
kalau transmisi itu kita buat sendiri, bisa jadi lebih mahal dua kali lipat,
karena biaya pembuatan di dalam negeri lebih mahal,'' katanya kepawa wartawati
TEMPO Bina Bektiati.
Dalam kasus kendaraan niaga bahkan ada contoh. Transmisi buatan PT Wahana Eka
Paramita (patungan Astra International dengan Gemala Kempa Daya) di
Pulogadung, Jakarta Timur, merupakan produk rakitan, bukan hasil manufaktur
setempat. Di sini mereka hanya menggabungkan komponen yang didatangkan dari
Jepang. Transmisi yang menggunakan teknologi Toyota Motor untuk segala jenis
kendaraan niaga dari kategori I sampai V itu akhirnya tetap lebih mahal
dibandingkan dengan impor dalam keadaan jadi.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, deregulasi otomotif ini tampaknya tidak
kaku. Artinya, Pemerintah tidak menetapkan harus 100% komponen lokal. Tapi
pihak industri mobil boleh pilih- pilih, komponen mana yang bisa diproduksi
secara lokal. Jadi, strategi yang digunakan adalah bagaimana menambah
kandungan lokal dengan biaya seefisien mungkin.
Rincian komponen lokal yang dipakai sedan keluaran Toyota, menurut Adirizal,
pada umumnya sama: kaca, radiator, ban, aki, knalpot, dan kursi. Bahan-bahan
ini memang kurang membutuhkan teknologi tinggi, hingga sungguh tidak efisien
bila masih diimpor. Jika dihitung-hitung, kandungan lokal seperti itu baru
dinilai sekitar 15%. Kalau mereka tetap bertahan seperti itu, tentu saja bonus
tidak bakalan mereka terima. Hampir sebagian besar merek sedan yang
berseliweran di jalanan rata-rata komponen lokalnya kurang dari 20%. Kecuali
sedan Mazda MR, yang sudah memakai komponen lokal sekitar 40%. Ada yang
menyebut, sedan merek Honda sudah mengandung komponen lokal sekitar 35%.
''Sekarang ini tidak mungkin menggunakan komponen lokal lebih dari 60%. Untuk
mencapai komponen lokal 40% saja setengah mati,'' kata sumber TEMPO.
Kecuali sedan, menurut Bambang Trisulo, Direktur Teknik Astra Mobil Company,
beberapa merek mobil memang sudah mempunyai kandungan komponen lokal lumayan,
seperti Toyota Kijang sekitar 47% dan Daihatsu Zebra 42%.
Kalau ada pejabat yang beranggapan Indonesia sudah waktunya bikin mobil
sendiri alias 100% komponen lokal, bicara begitu boleh-boleh saja. Menurut
kalangan industriwan, di antaranya Presiden Direktur Indomobil Soebronto
Laras, industri mobil yang memproduksi mesin sendiri baru bisa efisien kalau
tingkat produksi mencapai 50 ribu unit per tahun. Di sini banyak merek yang
skala produksinya masih di bawah 10 ribu unit per tahun.
Keinginan untuk meningkatkan kandungan lokal, menurut Bachrum Harahap,
sebetulnya bukan kali ini saja. Tekad untuk back to local, kata Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Industri Departemen Perindustrian ini, pernah
didengungkan lewat pendekatan peraturan. Namun, pendekatan semacam itu
dipandang akan menentang kekuatan pasar.
Untuk itu, dalam paket deregulasi ini para industriwan mobil dipersilakan
mengutak-atik kemampuan memakai komponen lokal, supaya mobil yang mereka jual
bisa bersaing di pasaran.
Dalam hal menghitung bobot kandungan lokal, menurut salah seorang yang ikut
aktif terlibat menggodok deregulasi ini, dihitung dari dua hal: sumbangan
komponen lokal terhadap mobil dan nilai rupiahnya. ''Jadi, sama-sama besi,
kalau yang satu mesin dan lain bodi, ya jelas bobotnya gede mesin,'' katanya.
Perhitungan komponen lokal ini nantinya, menurut seorang pengusaha mobil,
cukup njelimet. Penilaian untuk kaca mobil, misalnya, perlu dilihat dulu:
bahannya dari mana, dikerjakan di mana, pemrosesannya bagaimana. Itu semua
harus diteliti satu per satu hingga tim penilai mengeluarkan ''sertifikat''.
Untuk melakukan penilaian itu, nantinya Departemen Perindustrian akan
menunjuk PT Surveyor Indonesia. ''Cara pemberian nilai ini bukan mustahil akan
merupakan peluang untuk main mata dengan petugas,'' kata sumber TEMPO.
Gatot Triyanto, G. Sugrahety, dan Iwan Qodar


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data