Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Catatan Pinggir

Koloni

Seorang manusia akan hadir sebagai individu di hadapan sang hakim terakhir. tak peduli ia seorang terhukum di daerah koloni atau sang opsir yang siap menyiksa terhukum.

SEORANG musafir datang ke sebuah koloni hukuman. Seorang opsir menunjukkan
dengan bangga sebuah mesin untuk menyiksa seorang terpidana: sebuah garu
dengan gigi-gigi tajam. Garu itu akan mengguratkan, di jangat si terhukum,
sebuah kalimat yang menyatakan apa kesalahannya ....
Kafka menuliskan karyanya yang masyhur itu pada tahun 1914. Ternyata, novel
pendek yang ganjil itu mengungkapkan apa yang terjadi pada hari ini. Gayanya
bertutur seperti sebuah reportase yang tenang tentang kejadian sehari-hari:
seakan-akan cara menghukum yang sekeji itu adalah sesuatu yang lazim dan mudah
dimaklumi.
Sang musafir pun memandang ke si terpidana, yang sebentar lagi akan
dibaringkan telanjang untuk disiksa pelan-pelan sampai mati. ''Tahukah dia apa
hukumannya?'' ''Tidak,'' jawab sang opsir. ''Tak ada perlunya ia diberi tahu.
Ia akan mengetahuinya sendiri dari tubuhnya.''
Kemudian kita tahu bahwa si terpidana dianggap tak menghormati atasan. Ia
diberi tugas untuk tidur di depan pintu seorang kapten. Tiap kali jam
berdenting, ia harus berdiri dan menghormat. Tapi kemarin malam sang kapten
mendapatkan si pelayan tertidur. Maka, diambilnya cambuk dan dipecutnya wajah
si lalai. Orang itu terbangun dan memegangi kaki tuannya, berteriak, ''Buang
cambuk itu atau kumakan kau hidup-hidup.''
Maka, ia diadukan. Langsung hukuman pun jatuh dan ia di- rantai. Kata sang
opsir, ''Seandainya ia saya panggil menghadap dan saya interogasi lebih dulu,
perkaranya akan jadi berbelit- belit membingungkan. Ia akan berbohong ....''
Memang sang opsirlah yang diangkat oleh komandannya menjadi hakim. ''Prinsip
yang saya anut adalah ini: kesalahan sama sekali tidak boleh diragukan.''
Sang musafir tak banyak berkomentar. ''Ia bukan anggota koloni hukuman itu
ataupun warga dari negara yang empunya tempat itu. Sekiranya ia akan mengecam
cara eksekusi itu atau bahkan mencoba menghentikannya, mereka akan dapat
mengatakan kepadanya: ''Kau seorang asing, urusilah urusanmu sendiri!''.
Tiga perempat abad lebih setelah Kafka menulis itu, masalah sang musafir
menjadi masalah yang nyata dan pelik. Terutama dalam elan
''pascamodernisme'', ketika orang mencoba menampik untuk memandang dunia
sebagai suatu keseluruhan yang universal, ketika sentrum yang tunggal kian
melenyap, ketika berbagai satuan budaya, agama, dan bangsa mengibarkan diri
masing- masing, bangga bila berbeda dari yang lain. Paradoks hari ini: elan
pembebasan itu, yang menginginkan 1.000 jenis bunga, datang bersamaan dengan
semangat pembebasan di sisi lain pembebasan manusia sebagai individu-individu
yang punya hak yang asasi, kapan dan di mana pun ia berada, dan siapa pun tak
boleh mengalami nasib si terpidana ala Kafka. Si terhukum dalam cerita In der
Strafkolonie itu juga bukan orang luar biasa ia bahkan tokoh yang tampak
goblok dan akhirnya juga tak acuh terhadap tindakan kejam.
Sebuah paradoks yang merisaukan. Mungkin kita telah mengacaukan
''universalisme'' dengan ''internasionalisme'', dan memandang keanekaragaman
nilai sebagai perbedaan ciri nasional. Artinya: yang menjadi inti adalah
nasion, bukan individu orang seorang yang justru secara universal merupakan
calon korban kesewenang-wenangan.
Edward Said berpidato untuk The Oxford Amnesty Lectures 1992 dan menunjukkan
betapa tendensi nasionalistis itu terasa di mana-mana, juga di Amerika Serikat
(yang sering berbicara tentang ''hak asasi yang universal''), dan juga di
dunia non- Barat yang bangkit dengan ''nasionalisme yang reaktif''. Edward
Said pun bertanya: bisakah kenyataan adanya nasionalitas, dan bukan
individualitas, menyediakan kemungkinan agar individu atau kelompok bisa
dilindungi dari nasionalitas itu? Bagaimana bila pemerintah nasional kita
mengirim Anda ke koloni hukuman, karena Anda dianggap berada di luar konsensus
nasionalis?
Seorang manusia dan sebuah nasion: saya ingat apa yang dikatakan Dr. Mumtaz
Ahmad dalam sebuah konferensi tentang hak asasi manusia dalam Islam di
Selangor Darul Ehsan, tahun 1989. Ada kontradiksi sejak mula antara
negara-kebangsaan modern dan penghormatan kepada hak-hak asasi dalam arti
moral yang benar. Sebab, bagi Mumtaz Ahmad, hak itu datang dari Tuhan,
sedangkan negara-kebangsaan baru lahir pada abad ke-17.
Pada akhirnya, bagi seorang muslim, manusia memang hadir sebagai individu
ketika menghadap Sang Hakim yang Terakhir. Si terpidana dan si opsir di koloni
hukuman punya status sama. Bahkan dalam novel Kafka itu, sang opsirlah yang
akhirnya binasa. Tak ada yang menolong: mesin kekejaman berbalik gagang.
Setiap orang daif dan selalu menjadi calon korban, bukan? Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data