Semen padang dan krisis listrik Produksi semen padang anjlok dari 7.800 ton menjadi 4.800 ton akibat pasok
listrik menyusut. pembangunan pabrik baru, semen indarung iii terlambat
sehingga tak berproduksi karena pln tak bisa memasok listrik. penyebab utama:
turunnya air danau maninjau. |
KENAIKAN tarif listrik sejak awal tahun ini tak berarti meningkatkan
pelayanan BUMN itu. Keluhan antara lain datang dari Direksi PT Semen Padang.
Pasok listrik PLN untuk pabrik semen itu, sejak Januari lalu, susut dari 28
megawatt menjadi tinggal 6 megawatt. Otomatis, produksi semen Padang anjlok
dari 7.800 ton menjadi 4.800 ton per hari.
Tak cuma itu. Pembangunan pabrik baru, yakni Semen Indarung III, juga
mengalami kelambatan. Mestinya pabrik berkapasitas 600.000 ton per tahun ini
sudah berproduksi sejak Januari lalu. Namun, mesin-mesinnya belum bisa
berputar karena energi listrik yang dibutuhkannya 16 megawatt belum bisa
dipasok PLN.
Hal ini dilaporkan Direktur Utama PT Semen Padang, E.H. Nizar, kepada Wakil
Presiden, Try Sutrisno, yang meninjau pabrik semen itu Selasa pekan lalu.
Untuk mengatasi kekurangan listrik, Nizar terpaksa menyewa 20 unit generator
dengan kapasitas 8 MW dari Jakarta. Sayangnya, baru 11 generator yang tiba.
Pihak PLN di Sumatera Barat ternyata bisa menunjuk kambing hitam. Pemimpin
PLN Wilayah III (Sumatera Barat dan Riau), Muchtar Azis, menunjuk air Danau
Maninjau. Turunnya air danau setinggi 28 cm telah menyebabkan roda-roda
pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Maninjau tak bisa berproduksi penuh.
Kapasitas PLTA Maninjau adalah 68 MW, tapi kini hanya bisa menghasilkan 17 MW.
Pihak PLN bukannya diam saja. Menurut Muchtar, PLN kini tengah meningkatkan
pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) di Pauh Limo. Sejak awal tahun 1992 PLTG
telah memberikan tender pengadaan dua unit pembangkit listrik 20 MW kepada
kontraktor PT Tri Harsa dari Jakarta.
Namun, tender ini ternyata berlarut-larut. Turbin pembangkit yang diimpor
dari Amerika kabarnya tertahan lama di Pelabuhan Telukbayur dan baru tiba di
lokasi Pauh Limo. Adapun suku cadang lainnya, seperti trafo yang dimenangkan
oleh PT Unindo (Jakarta), juga masih dicari di Australia. ''Belum tentu akhir
tahun ini bisa rampung,'' kata seorang pejabat PLN Wilayah III kepada Fachrul
Rasyid dari TEMPO.
|