Hanan ashrawi: juru runding sekeras batu Dialah simbol diplomasi dan perjuangan palestina kini. di pundaknya, antara
lain, nasib 5 juta orang palestina tergantung. profil hanan ashrawi di meja
perundingan dan dalam rumah tangga. |
HANAN Ashrawi adalah sebuah simbol. Dialah lambang perjuangan sebuah bangsa
untuk mendapatkan kembali tanah airnya. Dan sebagai pejuang, perempuan berusia
47 tahun itu adalah batu. Setidaknya itulah yang dilihat Barbara Amiel,
penulis yang mewawancarainya untuk The Sunday Times Magazine.
Ahsrawi, kata Amiel, mengingatkannya pada sajak The Waste Land karya penyair
Inggris ternama, T.S. Eliot: Di sini cuma batu tanpa air/ batu dan tak ada
air, dan sebuah jalan berpasir ....
Sejak Konferensi Damai Timur Tengah pertama kali dibuka, 30 Oktober 1991 di
Madrid, Spanyol, Hanan Ashrawi tak pernah kendur berdebat dan menyatakan
pendapat. Bagaikan batu yang yakin suatu saat pasti bisa menembus bukit, Hanan
yang menurut ukuran perempuan biasa sedikit kekar itu tak pernah mundur dari
tuntutan bangsa Palestina yang dibebankan kepadanya. Ia tak henti- hentinya
mengingatkan para juru runding Israel bahwa sasaran pertama dan terakhir
delegasinya adalah memperjuangkan dilaksanakannya Resolusi Dewan Keamanan PBB
Nomor 242. Resolusi yang memerintahkan Israel menarik diri dari wilayah yang
didudukinya dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967.
Pekan lalu, dengan sedikit gembira ia berbicara dengan wartawan di
Washington, tempat Konferensi Damai putaran kesembilan diadakan. Ia merasa
lega Israel mulai membicarakan soal pemerintahan di wilayah pendudukan. Tapi
ia berkeras, sesudah wilayah pendudukan memperoleh otonomi, sesudahnya adalah
kemerdekaan penuh tanpa syarat apa pun. Israel, di sini, masih mencoba
menawar. Status wilayah pendudukan bisa ditentukan kembali, bergantung pada
keadaan setelah lima tahun wilayah itu berotonomi.
Masih tercermin bayangan ketakutan orang Israel bahwa tetangga dekatnya
adalah sebuah bangsa yang baru pada tahun 1988 mengakui eksistensi negara
Israel. Hanan, sebagaimana orang Palestian yang lain, sebelum tahun itu, yakin
bahwa orang Yahudi tak berhak tinggal di secuil Tanah Palestina pun.
Jadi, mengapa terjadi perubahan sikap itu? Sepenuhnya hanyalah pertimbangan
''pragmatis'', kata Hanan Ashrawi kepada pewawancaranya. ''Soalnya, kami tak
bisa mengingkari kehadiran orang lain. Kami tak bisa menghapus orang Yahudi
atau melenyapkan mereka.''
Lalu, batu itu tampak bergetar menahan ketidaksabarannya. ''Tapi harus tetap
diingat, pengakuan itu dilihat dari sejarah adalah sebuah ketidakadilan. Bagi
kami selalu ada perasaan bahwa itu merupakan kekalahan kami.''
Ia memang batu, batu yang menarik karena memakai perhiasan emas- permata.
Pakaiannya pun atraktif, tapi tidak mengesankan pamer. Ia suka cat bibir merah
terang, dan pulas kelopak mata tipis. Dan mata itulah yang mengingatkan orang
pada batu, yang selalu menatap Anda selagi Anda bicara padanya.
MENGGANTI KALASHNIKOV DENGAN KATA-KATA
Percakapan di lobi Four Seasons Hotel, tempat menginap delegasi Palestina di
Washington, terganggu sejenak. Seorang wanita Amerika tiba-tiba mendekat, dan
katanya, ''Kami siap membantu Anda, telepon saja kami.''
Hanan Ashrawi menatap wanita itu dan mengangkat kedua bahunya sambil memberi
isyarat agar wanita itu meneruskan bicaranya. ''Betapa menyenangkan bertemu
Anda di sini. Kami semua berdiri di sisi Anda,'' kata wanita itu, yang lalu
pergi kembali ke tempat duduknya, di sisi lain lobi hotel tersebut. Hanan
Ashrawi menyalakan sebatang Salem Light yang baru, dan ia bertanya tanpa
mengharap jawaban, ''Ya, siapa berdiri di sisi Palestina?''
Pertama kali Hanan Ashrawi muncul dalam sebuah publikasi Barat pada bulan
April 1988. Ketika itu perlawanan dengan batu atau intifadah sudah marak
sekitar empat bulan, dan Televisi ABC Amerika datang ke Palestina untuk
meliput peristiwa itu. Antara lain, TV ABC mengatur sebuah debat antara
kelompok Israel dan Palestina. Di antara kelompok Palestina adalah Hanan
Ashrawi, yang segera menarik perhatian karena permintaannya pada kru ABC
sebelum kamera merekam debat itu. Ia minta didirikan sebuah pagar antara dua
kelompok itu untuk menyimbolkan bahwa keduanya memang terpisah.
Ternyata, kemudian, Hanan Ashrawi bukan hanya layak diperhatikan, tapi ia pun
membawa suasana baru dalam diplomasi Palestina. Ia menggantikan diplomasi gaya
Yasser Arafat dengan Kalashnikovnya. Dengan bahasa Inggris yang tanpa salah,
dengan latar belakang pendidikan American University of Beirut, dan University
of Virginia di AS, kata-kata yang meluncur dari Hanan tak kurang tajamnya
dibandingkan peluru Kalashnikov. Di masa diplomasi mulai dipikirkan oleh PLO
karena saran menteri luar negeri AS waktu itu, James Baker, dicarilah seorang
pria Palestina yang berbudaya, cerdas, dan tangkas bicara. Dan sungguh suatu
kejutan ketika yang ditemukan untuk menjadi juru bicara Palestina itu ternyata
seorang wanita.
Hanan Ashrawi memang datang dari keluarga Palestina terhormat. Ia lahir di
Nablus, kota di Tepi Barat, pada tahun 1946 sebagai anak kelima dari Daoud
Mikhail, seorang dokter yang ikut mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina
yang populer dengan singkatan Inggrisnya itu, PLO. Sejumlah keluarga Daoud
ikut dalam pergerakan melawan kegiatan Yahudi mendirikan negara Israel,
termasuk ayah Daoud yang bergerilya di bukit-bukit Palestina. Ketika negara
Israel akhirnya diumumkan, tahun 1948, keluarga Daoud pindah ke Amman, ibu
kota Yordania.
Maka, boleh dikatakan tahun-tahun pertama Hanan Ashrawi di dunia dibentuk
oleh politik. Gerakan perlawanan Arab ketika itu menduga bahwa orang Yahudi
akan dengan mudah dikalahkan. Karena itu, dianjurkanlah agar orang-orang
Palestina mengungsi, keluar dari Tanah Palestina, supaya tak banyak jatuh
korban bila para pejuang mengambil alih kembali Tanah Palestina dari orang
Yahudi.
Dugaan itu ternyata meleset, dan ini menimbulkan luka di hati banyak orang
Palestina. Mereka yang dahulu meninggalkan Tanah Palestina dalam usia
kanak-kanak, dan kini tinggal di Tepi Barat, harus menyaksikan kenyataan pahit
ini: rumah mereka dulu kini dihuni orang Israel, dan rumah mereka sekarang
berada di bawah pengawasan Israel. Tak ada gunanya, memang, mempersoalkan
kembali mengapa mereka dahulu meninggalkan rumahnya. Yang pasti, kini mereka
merasa dirampok dua kali oleh orang-orang yang menjarah tanah dan tidur di
rumah mereka.
Pada tahun 1950 Daoud Mikhail sudah merasa bahwa orang Yahudi tak akan begitu
saja pergi dari Tanah Palestina. Maka, ia memutuskan untuk tinggal di
Ramallah, sekitar 20 km di utara Yerusalem (dan ketika itu masih termasuk
wilayah Yordania). Itulah kota yang makmur dan menyenangkan, yang kala itu
merupakan kota Kristen.
WARISAN DARI SANG BAPAK
Rumah yang dibangun Daoud Mikhail adalah rumah yang kini ditempati oleh Hanan
Ashrawi. Dahulu, rumah itu mungkin tampak gagah dengan batu dan marmarnya,
yang terasnya menghadap ke lereng bukit. Kini, rumah itu tampak cebol di
antara rumah- rumah baru yang megah, yang dibangun oleh orang-orang Palestina
kaya.
Di teras rumah itulah, Hanan Ashrawi mengenang, ayahnya pernah menceritakan
kepadanya tentang Israel. Ia masih ingat benar, ayahnya sudah meramalkan bahwa
Tepi Barat, lama atau sebentar lagi, akan diduduki pula oleh Israel.
''Ketahuilah, sebentar lagi mereka akan datang kemari dan menduduki Tepi
Barat, dan wilayah lain dari Palestina yang masih merdeka,'' kata Hanan
mencoba menirukan kata-kata ayahnya.
''Ketika itu saya tak yakin karena pengetahuan saya masih terbatas. Saya tak
pernah bertemu orang Israel. Pertama kali saya bertemu orang Yahudi ketika
saya masuk universitas di Beirut,'' tutur Hanan. ''Ketika itu bagi saya Israel
hanyalah sebuah teror yang berada di luar Tepi Barat.''
Perlahan-lahan pemahaman Hanan tentang Israel dibentuk oleh ayahnya. Daoud
Mikhail adalah seorang radikal, setidaknya dalam gayanya. Ia pernah
dipenjarakan oleh Raja Hussein karena terlibat dalam Partai Sosialis Nasional,
partai yang berideologi kiri dan dianggap berbahaya bagi dinasti Hashemit.
Karena tak punya anak lelaki, Mikhail menularkan pandangan-pandangan
progresifnya pada anak-anak perempuannya, termasuk si bungsu Hanan. Dokter
yang termasuk kaya dan berdedikasi terhadap bangsanya ini mendidik anak-anak
perempuannya itu untuk tak merasa punya hambatan sebagai orang Palestina yang
kebetulan Kristen dan kebetulan perempuan.
Ibu Hanan Ashrawi, seorang perawat, mendidik anak-anaknya dalam tradisi
Kristen. Nenek Hananlah yang tiap malam membacakan kisah- kisah dari Bibel.
Tapi pada akhirnya yang membentuk juru runding Palestina ini adalah ayahnya.
Daoud Mikhail menjadi figur sentral dalam pertumbuhan Hanan, bahkan mungkin
sampai sekarang.
Hanan Ashrawi lulus dari sekolah menengah, Sekolah Persahabatan, di Ramallah,
yang kini adalah sekolah anaknya. Ia kemudian masuk American University di
Beirut, mengambil jurusan sastra Inggris. Segera ia bergabung dengan gerakan
mahasiswa kiri -- mungkin inilah hasil didikan ayahnya. Tapi ia tak pernah
meninggalkan kodrat kewanitaannya: ia sering memakai rok mini, dan selalu
merias wajahnya.
''Saya pikir,'' tutur Hanan Ashrawi, ''seseorang tak benar- benar bisa
bertanggung jawab dalam berpolitik bila ia tak melewatkan masa mudanya dengan
bergabung dalam gerakan radikal. Saya menjadi bagian dalam gerakan mahasiswa
radikal, dan saya menikmatinya. Gerakan yang membuat kamu memiliki keyakinan
sebagai orang muda, memiliki kegembiraan dan keyakinan bahwa kamu akan
mengubah dunia.''
Hanan bergabung dengan Al Fatah yang dipimpin oleh Yasser Arafat, yang kelak
menjadi organisasi Palestina terbesar dalam PLO. ''Dalam Al Fatah saya belajar
mengenali orang-orang yang tertindas, yang tersingkir, yang mengalami
diskriminasi. Semuanya terasa wajar, dan kami saling mengenali bila kebetulan
bertemu dalam sebuah konferensi internasional.''
Mungkin, Hanan muda adalah seorang yang bersemangat dan tajam kata-katanya,
yang begitu terpengaruh ketika mendengarkan himne Internationale. Ketika ia
memperoleh kesarjanaannya dalam sastra Inggris Abad Pertengahan, tahun 1968,
ia merasa tak bisa meninggalkan Beirut dan sulit untuk kembali ke kehidupan
yang tenang di Ramallah. Pada kenyataannya, pada tahun itu Tepi Barat sudah
diduduki Israel. Tak mudah bagi warga Palestina yang pada tahun 1967 tak
berada di Tepi Barat untuk kembali masuk ke wilayah yang sudah berpredikat
''pendudukan'' itu.
Begitulah jalan hidup Hanan Ashrawi mulai terbentuk dengan lebih jelas. Waktu
dan tempat membuat hidupnya begitu cocok: semangat mudanya klop dengan
tumbuhnya nasionalisme di dunia Arab. Sebagai anggota Persatuan Umum Mahasiswa
Palestina, ia pun sampai di sebuah kamp pengungsi Palestina, dan pada tahun
1969, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Yasser Arafat.
Kemudian, mengikuti tradisi keluarganya yang terpelajar itu, Hanan
melanjutkan belajar ke University of Virginia, Amerika Serikat, meneruskan
mempelajari sastra Inggris. Sekali lagi sebuah kebetulan terjadi. Hanan muda
yang berkobar-kobar itu mendapatkan kampus Amerika pada tahun 1970-an yang
penuh dengan aktivitas anti Perang Vietnam. Hanan yang kekiri-kirian, yang
Palestina, yang sebagai mahasiswa cepat menarik perhatian. Boleh dikatakan
demonstrasi mahasiswa Virginia tak lengkap tanpa kehadiran Hanan Ashrawi.
POTRET KELUARGA
Ketika Hanan akhirnya pulang ke Ramallah, tahun 1973, ia sudah menggondol
gelar doktor untuk sastra Palestina. Pulangnya si revolusioner ini
dimungkinkan karena pada tahun itu pemerintah Israel mengeluarkan
Undang-Undang Reunifikasi Keluarga -- undang- undang yang membolehkan orang
Palestina yang berada di luar wilayah pendudukan untuk pulang menemui
keluarganya. Tentu, rumahnya, yang kini berada dalam wilayah pendudukan,
membuat Hanan pulang tanpa ucapan selamat datang. Ia kemudian memilih
Universitas Birzeit sebagai tempatnya mengajar.
Pada tahun 1975, Hanan menikah dengan Emile Ashrawi di Yerusalem. Emile
adalah pemain musik rok, empat tahun lebih muda daripada istrinya, seorang
lelaki yang tanpa dengki, menerima apa adanya, dan tak punya ambisi.
Inilah perkawinan yang damai dengan pembagian tugas yang jelas. Sang istri,
yang sering harus meninggalkan rumah, membuat sang suami menjadi pengurus
dapur dan anak-anak. Konon, ketika itu banyak yang menduga perkawinan ini tak
akan tahan lama. Dugaan yang keliru. Emile sejauh ini merasa puas, dan merasa
tetap terhormat. Hanan merasa aman bahwa di rumah ada suaminya yang bisa
mengatur segalanya. Mereka dikaruniai dua anak perempuan, Amal kini 15 tahun,
dan Zeina, 12 tahun.
''Saya menemukan tujuan hidup pada diri anak-anak kami,'' tutur Emile, yang
kini bekerja sebagai fotografer bebas untuk PBB. ''Saya mencoba memberikan
kepada mereka hal-hal yang paling baik yang dapat saya berikan. Sungguh
bahagia melihat mereka tumbuh.''
Amal dan Zeina memang lebih bergulat degan ibunya, ketika Hanan tak harus
pergi. Mereka tampak memuja ibunya, baik dalam kata- kata maupun perbuatan.
Namun, begitu sang ibu meninggalkan rumah, tugas jatuh di tangan Emile. Ia
harus mendekati kedua anak perempuan itu agar mereka betah di rumah, agar
mereka jauh dari kegiatan di luar, yakni intifadah.
Mungkinkah itu, anak-anak seorang bekas mahasiswi radikal yang bergabung
dengan Al Fatah, yang kemudian menjadi juru bicara untuk bangsanya yang
tertindas, mengambil jarak dari perjuangan anak-anak muda sebayanya di
jalanan?
Sebuah warung bernama Angie di jalan utama Ramallah adalah salah satu tempat
mangkal anak-anak muda. Suatu hari Amal duduk di situ. Tiba-tiba suara jip
terdengar. Dan segera saja Amal lenyap lewat pintu, entah ke mana. Gadis 15
tahun itu, mungkin di luar pengetahuan Hanan, sudah pintar menghindarkan diri
dari bertemu dengan tentara Israel yang lagi patroli. Ia pun mengaku tahu
bagaimana cara merundukkan kepala untuk menghindari tembakan tentara Israel.
Ia, kata Amal, memang tak bisa menghindarkan diri dari yang dilakukan
teman-temannya di sekolah. Karena itu, suatu hari ia pun ikut menghilang dari
kelasnya turut melakukan upacara peringatan mereka yang gugur dalam perjuangan
bangsa Palestina. ''Ibu akan marah besar bila tahu ini,'' tuturnya. ''Tapi
saya tak bisa berbuat lain. Saya akan dipandang dengan aneh oleh kawan- kawan
bila saya tak ikut serta.''
Lalu apa yang dilakukan anak-anak itu? Mereka akan berbaris membentuk
barikade sambil membakar ban-ban bekas. Mereka menunggu tentara Israel datang
sambil menggenggam batu. Sebagian lagi menyebarkan pamflet ke rumah-rumah,
pamflet yang menganjurkan perlawanan terhadap ''tentara Israel'', ''zionis'',
dan ''kolaborator''. Guru sekolah tak bisa berbuat apa-apa, dan orang tua yang
berada di rumah apalagi.
Lalu, selain melakukan intifadah, apalagi yang dilakukan anak- anak itu?
Apakah mereka juga menyelenggarakan pesta, misalnya? ''Tidak di wilayah
pendudukan,'' jawab Amal. Soalnya ternyata sederhana, karena gadis-gadis
temannya yang anggota Hamas, gerakan perlawanan yang disebut-sebut sebagai
gerakan Islam fundamentalis, akan melarang pesta-pesta di antara mereka.
Semua itu oleh Amal disebut sebagai bagian dari hidupnya sehari- hari,
termasuk hal yang amat dibencinya, yakni bila harus berangkat dan pulang
sekolah melewati sekelompok tentara Israel. ''Mereka suka mengeluarkan
kata-kata vulgar, dan saya tak tahan untuk tak menjawabnya,'' tutur anak
sulung Hanan Ashrawi ini. ''Biasanya teman berjalan saya lalu menyeret saya
pergi.''
Sulit untuk percaya bahwa Hanan dan Emile tak tahu itu semua. Tapi mereka
mestinya memakluminya, karena hidup di daerah pendudukan. Apa boleh buat. Dan
inilah sisi lain kehidupan Amal dan Zeina, adiknya.
JEAN PAUL SARTRE
Suatu hari belum lama ini Emile berjalan-jalan dengan kedua anak perempuannya
itu. Hanan sedang menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika,
Warren Christopher, di Yerusalem. Mereka berhenti di sebuah warung, dan Emile
memesan sandwich untuk makan malam. Di belakang warung itu adalah rumah
pemiliknya, dan dari jauh terlihat pesawat televisinya sedang menayangkan
wajah Hanan Ashrawi. Baik Emile maupun kedua anaknya biasa-biasa saja melihat
ibunya di layar televisi -- mungkin hal semacam ini sudah puluhan kali dialami
oleh keluarga Ashrawi.
Sesampai di rumah, Emile memanaskan sandwich di kotak microwave. Tak lama
kemudian Hanan muncul, tampak capek, dan menggerutu tentang konsul Amerika di
Yerusalem Timur. Zeina sedang bersenam di lantai, dan langsung saja Hanan
bergabung dengannya. ''Kenapa tak makan dulu?'' kata Emile sambil berjalan
menuju ke kotak microwave.
Bagaimanapun, keluarga Ashrawi adalah keluarga yang tenang, tapi aneh di
antara keluarga Palestina yang lain di tepi Barat. Adakah mereka punya model
keluarga sebagai contohnya? Atau, siapakah idola Hanan Ashrawi hingga ia
seperti sekarang ini?
''Saya bukan macam orang yang membutuhkan idola untuk dicontoh,'' kata Hanan
suatu ketika. ''Saya cenderung menggabungkan sifat- sifat baik dari banyak
orang.'' Didesak untuk menyebut nama, akhirnya ia menyebut Jean Paul Sartre,
filosof Perancis ternama itu.
Hidup di sebuah wilayah pendudukan, memperjuangkan berdirinya sebuah negara
merdeka, adakah selama ini Hanan Ashrawi sudah membayangkan negara seperti apa
Palestina itu nantinya? Ia tak menjawab bila disuruh memilih, model negara
seperti apa yang ia inginkan -- desak penulis Inggris yang mewawancarainya
itu.
Akhirnya Hanan mau menjawab juga. ''Negara-negara Skandinavia,'' katanya.
''Sebab, negara-negara itu memberikan asuransi dan kebebasan pada rakyatnya,
negara yang terbuka terhadap ide.''
Sebagai juru bicara delegasi Palestina, Hanan Ashrawi tentu saja siap dengan
segala hal untuk membalikkan serangan-serangan Israel. Dan tampaknya Hanan
memang sangat pintar. Israel, juga Barat, umumnya melihat Perang Enam Hari
tahun 1967, yang menyebabkan didudukinya Gaza, Tepi Barat, dan Golan sampai
sekarang, merupakan perang yang dimulai oleh negara-negara Arab. Karena itu,
dikuasainya wilayah-wilayah yang sebelumnya tak termasuk negara Israel tak
bisa dilihat sebagai pendudukan Israel. Apa kata Hanan Ashrawi?
''Itu alasan khas Israel,'' katanya. Lalu ia dengan lancar mengatakan bahwa
perang tahun 1967 bukanlah sekadar perang. Itulah perang yang tak bisa
dielakkan karena Israel mengganggu perbatasan. Ketika Nasser, Presiden Mesir,
memprotesnya, meledaklah perang. Bagaimana dengan Perang Yom Kippur tahun
1973, ketika Mesir menyerang Israel secara tiba-tiba? Di sini Israel sama
sekali tak memancing-mancing apa pun.
''Perang tahun 1973 adalah sebuah misteri,'' kata Hanan cepat. Lalu ia
memberi kuliah penulis Inggris yang mewawancarainya dengan agak sengit.
Katanya, orang sekali-kali tak boleh menerima apa kata seseorang tanpa
mengusut yang terjadi di balik kata- kata itu. ''Di balik kata-kata itu Anda
akan menemukan segala hal yang menggerakkan peristiwa yang terjadi,'' katanya.
Jadi, mengapa selama ini Palestina selalu menolak berbagai tawaran, misalnya
untuk menyelenggarakan sendiri pendidikan dan pengelolaan kesehatan? Mengapa
Palestina selalu menolak tawaran sebelum keputusan final tentang berdirinya
negara Palestina merdeka?
Bagi Hanan Ashrawi, itu cara berunding untuk mendapatkan yang dituju.
Penolakan itu hanya satu sisi dari sebuah paket. ''Dan itulah mengapa kami pun
berusaha sekuat tenaga menjaga agar perundingan damai bisa terus berjalan, di
samping kami pun terus menyuarakan bahwa ketidakadilan terus terjadi di
wilayah pendudukan,'' jawabnya. ''Kami harus yakin dahulu bahwa yang kami
setujui adalah bagian tak terpisahkan dari penyelesaian yang menyeluruh.''
INTIFADAH: SERUAN KEMERDEKAAN
Siapa pun yang ketika itu mendengar kata-kata Hanan Ashrawi di hadapan
penulis Ingris itu, ia pasti segera menyimpulkan bahwa juru bicara Palestina
ini memang sangat cerdik dan tangkas. Coba simak dialog berikut.
''Anda selalu bilang Israel membunuhi anak-anak muda Palestina. Ini
seolah-olah pembunuhan adalah kebijaksanaan pemerintah Israel. Tahukah Anda
bahwa yang melakukan pembunuhan itu hanyalah anggota gerakan bawah tanah, yang
oleh pemerintah Israel sendiri ditindak?''
''Tapi mereka sekarang bebas, bukannya dipenjarakan,'' jawab Hanan.
''Mereka dijatuhi hukuman 10 tahun.''
''Tapi itu bagian dari kebijaksanaan penting Israel agar terlihat melakukan
penindakan.''
''Lalu apa kata Anda tentang orang Palestian yang membunuh orang Palestina?''
''Itu terjadi di wilayah pendudukan. Kami tak mempunyai pengadilan maupun
cara untuk menyelesaikannya. Kami hidup di bawah sebuah sistem yang tak
berperikemanusiaan.''
''Intifadah, kata orang, mempunyai sisi lain. Ada orang-orang yang dulu tak
dicurigai oleh Israel, kini selalu diamati bahkan digeledah karena ada
intifadah. Orang-orang ini yakin, sebenarnya Palestina kini terbagi dua: yang
pro intifadah, yang menjadi korban intifadah. Dan kedua kelompok tak bisa
akur.''
''Intifadah adalah gerakan yang spontan. Orang-orang pergi ke jalanan,
melakukan sesuatu untuk kemerdekaan, dan mereka siap menghadapi tentara dan
senjata. Tujuan intifadah adalah perlawanan tanpa kekerasan. Dengan cara ini,
menurut saya, kami pelan-pelan merintis jalan untuk sebuah pembangunan bangsa.
''Saya tahu, ada yang melihatnya dari sisi negatif intifadah. Tapi seharusnya
ini dilihat sebagai bagian dari perjuangan, sebagai suatu seruan untuk
kemerdekaan. Dan sebagaimana gerakan massa, ada kalanya gerakan ini membuat
kesalahan. Gerakan ini lalu dipolitisasi, dibentuk satu kesatuan berani mati,
dan intifadah lalu kehilangan spontanitasnya. Tapi ini pun sebenarnya hanyalah
suatu reaksi di wilayah pendudukan, tempat orang-orang kami dibunuhi, tempat
hak-hak asasi diperkosa.
''Karena itulah kami tak bisa menangkapi mereka yang kalian anggap teroris.
Kami tak bisa merundingkan suatu perdamaian dengan imbalan yang sangat jauh.
Tahukah Anda bahwa sebenarnya menerima pemecahan dengan adanya dua negara di
Tanah Palestina bagi kami adalah sebuah langkah yang sangat besar dan berat
secara psikologis, dan kami menyadari ini penuh dengan risiko?''
Di Bandara Lad, Tel Aviv, pesawat mendarat. Hanan Ashrawi sudah ditunggui
oleh Emile Ashrawi, anak bungsunya. Inilah sebuah keluarga harmonis. Tapi
ketika orang menatap profil Hanan di layar televisi, ketika suaranya yang
lunak terdengar, dengan jeda yang teratur untuk lebih menekankan makna
kata-katanya, orang tak bisa tidak akan melihat batu. Seseorang yang dibebani
tugas melakukan diplomasi untuk menjamin nasib sekitar 5 juta orang Palestina,
terutama untuk sekitar 1,7 juta yang di wilayah pendudukan, dan lawan
diplomasinya adalah orang-orang Yahudi yang juga keras, ia memang harus
sekeras batu. Kesan itu tak akan berkurang meski Hanan tinggal di suite Four
Seasons Hotel, yang seharinya bertarif US$ 875, belum termasuk pajak.
Bambang Bujono
|