Bisnis bola di tengah resesi Putaran profesional liga jepang segera digelar. pemain dan pelatih sepak bola asing menyerbu negeri itu. bisnis yang dikaitkan dengan liga jepang laku keras. |
SABTU malam pekan ini, Jepang membuka sejarah baru. Hari itu, di Stadion
Nasional Tokyo, yang berkapasitas 60.000 penonton, dimulai kompetisi Liga
Sepak Bola Jepang. Di situ, klub profesional Verdy Kawasaki, yang disponsori
Yomiuri, bertarung melawan klub Yokohama Marinos, yang didukung perusahaan
Nissan.
Liga Jepang memang bakal semarak. Ada 10 klub berkompetisi selama setahun,
dengan sistem home and away (di kandang sendiri dan lawan). Klub-klub itu
sudah menyiapkan diri sekitar dua tahun. Tiap klub boleh memboyong lima pemain
asing, tetapi hanya tiga yang bertanding. ''Terus terang, pemain kami kurang
pandai. Jadi, kami ajak pemain asing untuk meningkatkan mutu,'' kata Saburo
Kawabuchi, Ketua Liga Jepang.
Maka, pemain top Eropa dan Amerika Latin pun tumplek ke sana. Yang laku keras
pemain Brasil. Dari 47 pemain asing, 27 di antaranya asal Brasil. Nama Zico,
Souza Dos Santos, Toninho, Jorginho, dan Pita, tentunya tak asing lagi karena
mereka pernah memperkuat tim Brasil. Begitu juga dengan Ramon Diaz, David
Bisconti, Victor Hugo Ferryra (semuanya pernah di tim Argentina) kini
berkumpul di Jepang.
Adapun pemain Eropa cuma tujuh orang. Tapi, siapa tak kenal Littbarski
(Jerman) dan Gary Lineker (Inggris)? Selain itu, klub- klub Jepang juga tak
melupakan potensi tetangga. Tercatat, Jia Xiuguan, bekas pemain nasional Cina,
lalu Kim San Jun asal Korea Selatan, dan Noh Jung Yoon dari Korea Utara diajak
bergabung.
Lineker, pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1986, masuk ke klub Grampus
Eight. Pemain berusia 32 tahun yang kabarnya dibayar Rp 6 miliar setahun itu
sangat dielu-elukan penonton. Grampus, yang didukung perusahaan raksasa
Toyota, bermarkas di Nagoya. Di situ Lineker menyukai partnernya, Jorginho,
play maker asal Brasil. ''Jorginho selalu membawa saya pada posisi untuk
mencetak gol,'' kata Lineker.
Liga Jepang juga didominasi pelatih Brasil. Ada tujuh pelatih Brasil dari 11
pelatih asing. Selain itu, yang juga layak dicatat adalah munculnya bekas
superstar Jerman yang kini menjadi kolomnis, Franz Beckenbauer. Namun, ia
hanya duduk sebagai penasihat di klub Red Diamonds milik Mitsubishi Motors.
Klub Shimizu FC S-Pluse termasuk favorit karena di sini berkumpul pemain
Brasil. Bermarkas di Shimizu, sebelah barat Tokyo, yang penduduknya mulai gila
bola. Pelajar SMA di provinsi ini sering menjuarai sepak bola antar-SMA di
Jepang. Sponsor klub ini perusahaan TV Shizuoka, ditambah 108 perusahaan
lokal, dan 1.800 warga setempat. Sayang, semangat gila bola ini kurang
didukung stadion yang cuma berkapasitas 15.000 orang.
Tampaknya, sepak bola bakal menggeser popularitas baseball di Negeri Matahari
Terbit ini. Menurut sebuah pengumpulan pendapat, ada 43,1 persen (laki-laki)
menginginkan siaran bola di TV ditambah. Sementara itu, hanya 18,7 persen yang
ingin jam siaran baseball ditambah. Bisnis di sana juga merebak gara-gara
Liga. Resesi yang sedang melanda Jepang hingga daya beli merosot tak
mempengaruhi produk berbau sepak bola. ''Barang apa pun jenisnya laku dijual
bila dikaitkan dengan Liga,'' kata seorang pengusaha.
Minuman botol kecil buatan Suntory, yang mengandung vitamin C dan bergambar
superstar Kazuyoshi Miura dari klub Verdy Kawasaki, kontan laku keras. Setahun
minuman itu laku 6,6 juta karton. Padahal, angka 3 juta setahun saja sudah
bisa dibilang untung. Konon, Suntory membayar 500 juta yen per tahun untuk
Liga.
Selain itu, ada delapan perusahaan pemakai logo Liga yang membayar 70 juta
yen setahun. Calbee Foods, yang memproduksi keripik kentang merek J-League
Chips, kontan pendapatannya melonjak hingga 3 miliar yen per tahun (ukuran
laris adalah 1 miliar yen).
Sony Music Entertainment Inc. juga memperkenalkan CD (compact disc) lagu-lagu
Liga dengan harga 1.000 yen. Dalam waktu enam bulan terakhir sudah terjual
50.000 CD. Sony juga membuat video tape profil tiap tim dengan harga 3.000
yen. Mizuno, yang membayar 200 juta yen setahun untuk Liga, punya hak monopoli
membuka J-Station (toko peralatan sepak bola Liga) sebanyak 627 toko di
Jepang.
Adanya Liga Jepang juga menaikkan harga siaran. Dulu, untuk menyiarkan sepak
bola di TV, rata-rata pihak televisi hanya membayar 300.000 yen kepada Liga
Jepang, tapi kini pihak TV harus merogoh duit 10 juta yen untuk sekali siaran.
Liga Jepang kini menargetkan 500 juta yen dari siaran TV per tahun.
Secara total, dana yang ditargetkan Liga adalah 3 miliar yen setahun. Jumlah
itu akan diberikan kepada 10 klub, masing-masing mendapat 300 juta yen
setahun. Toh jumlah ini belum mendongkrak biaya untuk tim masing-masing.
Diperkirakan 3-5 tahun masih tetap defisit. Klub Verdy Kawasaki memperkirakan
baru akan surplus setelah lima tahun berjalan. Untuk tahun ini saja, Verdy
telah mengeluarkan sekitar 2 miliar yen, 1,4 miliar di antaranya untuk
membayar pemain dan stafnya. Sedangkan pendapatan klub 1,3 miliar yen.
''Liga Jepang adalah profesional, maka bisa disebut ini ladang bisnis. Tujuan
kami hanya untuk memperkuat tim sepak bola Jepang. Jadi, kalau Liga Jepang tak
berhasil sebagai sarana bisnis, hal itu tidak akan menguatkan tim sepak bola
Jepang,'' kata Kazuki Sasaki, juru bicara Liga Jepang.
Widi Yarmanto dan Seiichi Okawa (Jepang)
|