Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIII/15 - 21 Mei 1993
   
Laporan Khusus

Paling tinggi naik 35%

Secara bertahap, semua sedan asal jepang pasti dinaikkan harganya. kendaraan niaga lebih mahal 8%. tapi sedan dari eropa harganya tidak berubah.

BAGAIMANA menghitung dampak yendaka terhadap harga mobil? Tolok ukurnya
tentu persentase menguatnya yen terhadap dolar Amerika. Dari sana
diperkirakan, kenaikan harga mobil-mobil sedan yang sebagian besar
komponennya masih diimpor akan mencapai Rp 350.000 hingga Rp 6 juta per unit.
Hingga pekan ini tercatat nilai satu dolar tak lebih dari 110 yen, turun
hampir 9% dibandingkan dengan masa sebelumnya. Menurut Alam Wijono, Direktur
Pemasaran Toyota Astra Motor, kenaikan harga mobil tak bisa dihindari karena
komponen-komponennya yang masih diproduksi di Jepang, dan dibayar dengan yen.
''Otomatis harga mobil harus naik,'' ujarnya.
Alam memperkirakan dampak yendaka punya efek penggandaan yang cukup besar.
Katanya, kenaikan harga bisa mencapai 35%. ''Kenaikan itu berlipat dan
terutama sejajar dengan jumlah pajak yang harus dibayar.'' Kendaraan jenis
sedan, yang sebagian besar komponennya masih diimpor, merupakan contoh yang
tepat. Ada tujuh komponen harga sedan yang langsung terkena dampak yendaka.
Empat di antaranya dari pajak, yaitu bea masuk (100%), PPN barang mewah (35%),
PPN (10%), dan bea balik nama (10%). Komponen harga lainnya, terdiri atas
komponen impor, ongkos perakitan, dan overhead cost.
Katakanlah setelah yendaka kenaikannya rata-rata 10%. Menurut Alam, total
biaya pajak jenis kendaraan yang tergolong mewah ini naik menjadi 270%, dari
sebelumnya 245% (lihat Tabel).
Dengan proyeksi yang sama, dampak serupa juga terjadi pada kendaraan niaga.
Namun, kenaikannya tak sebesar sedan menurut Alam, rata-rata 8%. Dengan
kenaikan sebesar itu, total biaya pajak jenis kendaraan ini menjadi 64%, atau
lebih tinggi 3% dibandingkan dengan sebelumnya.
Kenaikan yang relatif lebih rendah ini bisa terjadi karena sebagian besar
komponen mobil niaga sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Perlu diketahui,
nilai impor kendaraan ini paling tinggi hanya 50%.
Kendati pada sektor biaya digebrak seperti itu, Alam memastikan bahwa
kenaikan tersebut sulit ditarik secara garis lurus pada harga jualnya.
''Kenaikan itu tidak bisa langsung diaplikasikan pada harga mobil di pasaran.
Bisa-bisa pasarnya langsung anjlok,'' katanya seperti meramalkan.
Dengan kenaikan harga secara bertahap, konsumen diharapkan tidak kaget. Harga
sebuah sedan Toyota yang harus naik Rp 6 juta per unit, dalam tahap awal hanya
naik setengahnya, yakni Rp 3 juta.
Yang terjadi di pasaran tak jauh dari strategi tersebut. Yang ditawarkan di
Toyota 2000, Surabaya, misalnya. Hingga pekan ini ruang pamernya belum berani
memasang harga baru. Tetap Rp 28 jutaRp 37 juta untuk sebuah Toyota Kijang dan
Rp 66 juta untuk sebuah sedan Corolla. Itu adalah harga yang dipatok sejak
awal tahun ini.
Strategi tersebut tentu mengundang risiko. Setidaknya, karena harus
menanggung dampak apresiasi yen terlebih dahulu. ''Yendaka bagi kami bukan
tambahan penghasilan, tapi justru pengurangan,'' kata Alam lagi.
Dalam hal ini persentase keuntungan jauh berkurang. Tapi, sampai berapa?
''Pokoknya, sampai batas tidak merugi,'' jawab Alam.
Menaikkan harga secara bertahap juga dilakukan oleh merk lain, Daihatsu
umpamanya. Menurut Edi Santoso, Direktur Astra Daihatsu Motor, ''Kami sudah
memasang harga naik sejak bulan lalu.'' Kenaikan itu antara Rp 300 ribu (untuk
jenis kendaraan niaga) hingga Rp 3 juta untuk sedan. Harga baru sebuah van
merk ini sekarang hampir Rp 19 juta. Sedangkan sebuah Daihatsu Classy bisa
mencapai Rp 40 juta.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Indo Mobil Group. Tapi, menurut Angky
Camaro, Managing Director Indo Mobil, kenaikan harga semacam itu tidak terjadi
pada mobil dari Eropa. ''Yendaka hanya berdampak terhadap mobil-mobil Jepang.
Mobil buatan Eropa harganya stabil,'' tuturnya kepada Iwan Qodar dari TEMPO.
Grup milik taipan Liem Soei Liong ini, selain memasarkan merek- merek Suzuki,
Mazda, dan Nissan, juga sedan Volvo. Angky telah mematok harga kenaikan mobil
itu Rp 1 juta (untuk jenis niaga) hingga Rp 5 juta (untuk jenis sedan). Suzuki
Vitara jenis yang sedang digandrungi dewasa ini dari harga Rp 42 juta per
unit, naik menjadi Rp 43 juta.
Tapi untuk pemasarannya di Jawa Timur, sejak awal bulan ini Suzuki baru
menaikkan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1.750.000. Menurut Drs. Slamet Subandhi,
Marketing Manajer UMC (United Motor Company), pihaknya akan terus menaikkan
harga selama dua bulan mendatang. Kenaikan itu rata-rata mencapai 6%-10%.
Begitu juga dengan merek Mitsubishi, yang sudah memasang tarif baru untuk
semua jenis kendaraannya, naik Rp 500.000Rp 1juta.
Reaksi pasar terhadap kenaikan harga tersebut, menurut Edi Santoso, belum
terasa. Mungkin karena setiap merek mobil naik secara bertahap. ''Hingga
sekarang penurunan permintaan belum terasa,'' ujarnya.
Namun, ancang-ancang sudah disiapkan. Daihatsu dan Toyota, misalnya, tidak
berambisi mendongkrak pangsa jualnya. ''Sama dengan tahun lalu saja kami sudah
bersyukur,'' demikian ''doa'' Alam Wijono.
Moebanoe Moera dan Dwi S. Irawanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data