Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIII/15 - 21 Mei 1993
   
Laporan Khusus

Mereka berlomba tancap harga

Harga mobil melonjak, tapi sejak april pasar mulai bergerak. dampak yendaka lagi-lagi terbebankan pada konsumen, sedangkan kenaikan harga akan melimpah ke kas pemerintah.

HARAPAN bahwa harga mobil akan sedikit miring jika paket deregulasi otomotif
diluncurkan kini sudah ditepiskan orang. Paket yang kabarnya akan membuka
pintu bagi sedan impor serta mengurangi pajak untuk mobil produksi lokal itu
memang sempat membuat konsumen urung membeli mobil. Mereka pun menunggu untuk
kemudian menyaksikan betapa harga mobil berlomba-lomba naik.
Ketika mereka mulai tak sabar, beredar isu tentang deregulasi yang katanya
tertunda lagi beberapa bulan atau malah baru diluncurkan akhir tahun ini. Tak
sedikit calon pembeli yang kecele. Bahkan, kalangan pengusaha otomotif sampai
geregetan. Soalnya, keadaan tidak menentu dan pasar tetap saja lesu.
''Gara-gara isu deregulasi otomotif, konsumen menunda pembelian. Tapi mana?
Sampai sekarang tidak keluar-keluar,'' gerutu Ang Kang Hoo, komandan penjualan
sedan merek Honda.
Kelesuan pasar mobil terlihat jelas pada triwulan pertama tahun 1993.
Meskipun dalam periode itu ada dua musim permintaan besar, yakni Tahun Baru
Cina dan Lebaran, toh permintaan pasar belum setinggi periode yang sama tahun
lalu.
Pada bulan JanuariMaret 1993, jumlah mobil yang terjual untuk semua merek
tercatat baru 40.080 unit. Maka, dibandingkan dengan penjualan pada triwulan
pertama 1992 42.664 unit pasar mobil awal tahun ini susut 7%. Jangan-jangan,
bisnis mobil tahun ini akan lebih buruk dari tahun lalu.
Omset penjualan mobil tahun 1992, menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan
Bermotor Indonesia (Gaikindo), cuma 171.865 unit atau turun 35% dari omset
tahun 1991 (lihat tabel). Padahal, pasar tahun lalu sudah terhitung cukup
jelek dibandingkan dengan tahun 1991. Apalagi kalau itu dibandingkan dengan
boom tahun 1990, ketika penjualan mencatat rekor 275.524 unit.
Ketua Umum Gaikindo, Herman Z. Latief, pekan lalu mengemukakan bahwa pajak
penjualan barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan kategori II, III, dan V
(truk/bus ringan, truk/bus besar, dan pikap) perlu segera dihapus. ''Kendaraan
kategori II dan III sangat vital untuk menunjang kegiatan perekonomian,''
tutur Latief sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia.
Masalahnya, yendaka atau menguatnya kurs yen sudah diduga akan memperberat
tekanan terhadap industri otomotif. Besarnya persentase komponen mobil yang
harus diimpor, khususnya bagian-bagian yang mahal, misalnya mesin, dengan
sendirinya akan menaikkan harga mobil. Ketika isu devaluasi meruyak bulan
April lalu, para penyalur mobil langsung mendongkrak harga. Dongkrak semakin
dimantapkan seiring dengan kebijaksanaan uang ketat yang secara bertahap mulai
dilonggarkan.
Perusahaan-perusahaan leasing, yang tahun lalu memasang suku bunga kredit
mobil sekitar 15%, sejak April 1993 cuma meminta sekitar 11%. Ini cukup
menunjang penjualan mobil sekitar 80% penjualan mobil melalui sistem leasing.
Kedua faktor tersebut di atas sedikit-banyak telah membangkitkan gairah
pasar. Kendati dua musim belanja mobil Tahun Baru Cina dan Lebaran sudah
berlalu, permintaan tak juga turun.
Suasana ini antara lain terlihat di PT Permorin, Jalan Abdul Muis, Jakarta.
Dua staf penjualan di situ sebentar-sebentar menerima telepon dari konsumen
yang ingin membeli mobil. Dan pembeli yang datang disodori daftar harga plus.
Mobil pikap L-300 dengan bahan bakar solar, misalnya, dalam daftar harganya
tercatat Rp 22,5 juta, tapi pembeli diberi tahu bahwa harganya Rp 23 juta.
''Kalau sebelumnya kami masih memberi diskon Rp 1,5 juta, sekarang tidak bisa
lagi,'' kata Harsono, wiraniaga Permorin.
Dengan harga plus, pikap L-300 bisa terjual 10 unit dalam dua hari. ''Di sini
tak perlu pesan dulu (indent). Setahu saya, suplai Mitsubishi selalu lancar.
Stok cukup tersedia di Pulogadung,'' tutur Harsono sambil berpromosi.
Yang agak tersendat-sendat pemasokannya adalah mobil produksi kelompok Indo
Mobil agen tunggal dan perakit Suzuki. Menurut seorang penyalur, Indo Mobil
Group mengambil sikap hati-hati sekali dalam berproduksi. ''Mereka agaknya
masih berjaga-jaga menghadapi paket deregulasi,'' kata penyalur itu
menduga-duga.
Ketidaklancaran pemasokan Suzuki sudah dirasakan oleh PT Restu Mahkota Karya.
''Banyak pembeli yang terpaksa kami kembalikan uangnya karena mobilnya tak
tersedia,'' kata Didi Wahyudi, Direktur Restu Mahkota Karya.
''Bulan April saja ada tujuh pembeli yang kami kembalikan uangnya. Sekitar
Lebaran, 12 orang yang mau membeli Suzuki Vitara terpaksa kami tolak. Angka
ini cuma di sini, belum lagi yang lewat salesman kami. Kami punya 12 orang,''
tutur Didi di kantor cabang Jalan Abdul Muis, Jakarta.
Apakah memang tidak punya stok? ''Ada juga sedikit, tapi harus kami jual
paling lambat 5 hari. Kalau stok banyak dan gagal menjual, kami bisa rugi
menanggung bunga bank,'' katanya terus terang. Menurut Didi, ia sebenarnya
telah menawarkan sistem indent, dengan syarat penyerahaan mobil disesuaikan
dengan harga pasar. Di tengah isu harga mobil Jepang akan naik akibat
menguatnya kurs yen, ia lalu berpendapat bahwa terlalu riskan kalau indent
dengan harga transaksi. Sekarang ini, dalam tempo satu minggu saja, harga bisa
berubah.
Kondisi yang tidak menentu itu tidak cuma dialami penyalur Suzuki. Mobil
merek Daihatsu ternyata sudah dua kali dinaikkan harganya, yakni pada 1 April
dan 1 Mei lalu. Menurut seorang staf penjualan PT Auto Rama Perkasa penyalur
Daihatsu di Petojo Jaga Monyet, Jakarta kenaikan itu berkisar antara Rp 1
juta dan Rp 1,5 juta untuk kendaraan minibus Zebra, jip Taft, dan sedan
Charade.
Kendati sudah terjadi kenaikan harga, ternyata omset masih bisa bertahan.
''JanuariFebruari rata-rata terjual 120 unit, sekitar Lebaran (Maret) naik
menjadi 150 unit, dan bulan April laku 127 unit,'' ungkap Rudy, sales
supervisor PT Auto Rama Perkasa.
PT Inti Karya Megah, penyalur sedan merek Honda, juga tidak ketinggalan.
''Kami baru menaikkan harga sejak 3 Mei 1993,'' kata seorang staf penjualan
Inti Karya Megah di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Menurut Ang Kang Hoo, yang juga Direktur PT Imora Motor agen tunggal Honda
sedan Civic Genio, yang tadinya dihargai Rp 66 juta, secara bertahap akan
dinaikkan hingga Rp 71 juta. Sedan Accord akan naik Rp 5 juta menjadi Rp 93
juta. ''Tapi kami akan melihat dulu para pesaing,'' kata Ang Kang Hoo.
Toyota ternyata sudah menaikkan harga pada 1 April dan siap- siap menaikkan
harga lagi pada 1 Juni mendatang. ''Besarnya kenaikan belum kami ketahui
karena masih dihitung,'' kata Sumantri, sales supervisor Auto 2000 cabang
Salemba, Jakarta.
Pasang naik harga mobil dan minat konsumen yang lumayan ternyata tidak selalu
menggembirakan pengusaha otomotif. ''Kalau perusahaan mobil sama-sama
menaikkan harga, pasar akan susut drastis,'' kata Edi Santoso, Direktur
Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor.
Sementara itu, Pemerintah diperkirakan akan memperoleh tambahan pendapatan
dari mobil-mobil baru. Soalnya, kenaikan harga bahan baku mobil impor dari
Jepang akan menggelembungkan penerimaan Pemerintah dari setiap unit mobil.
Maklum, dari biaya yang harus dikeluarkan pembeli mobil sedan, sekitar 65%
akan jatuh ke kantong Pemerintah dalam bentuk bea masuk, PPnBM, PPN, dan bea
balik nama (lihat Paling Tinggi Naik 35%).
Jika harga mobil mengikuti kurs yendaka, harga sedan akan naik 35%, antara
lain 9,7% untuk kenaikan bea masuk dan pajak. Sedangkan harga mobil niaga cuma
naik 8% 2,45% di antaranya merupakan komponen pajak.
Dirjen Pajak, Fuad Bawazier, mengakui hal itu. Menurut Fuad, persentase pajak
tidak akan berubah. Kalau dasar pengenaannya atau nilai barangnya naik,
hitungannya otomatis naik. Namun, ia mengingatkan agar jangan segera
menyimpulkan penerimaan pajak mobil pasti akan naik.
''Tahun anggaran ini baru berjalan sebulan. Masih harus dilihat apakah mobil
yang terjual tahun ini semuanya baru. Kebanyakan kan masih stok lama. Itu akan
bergantung pada PIUD (pemberitahuan impor barang untuk dipakai). PIUD ini kan
ada selisih waktunya ke belakang. Itu yang harus dihitung lebih teliti,'' kata
Dirjen Pajak yang bermobil Nissan Cefiro ini.
Bagaimana jika harga mobil naik tapi pasar mobil menyusut? Tak bisa lain, bea
masuk dan pajak mobil secara keseluruhan tentu ikut menipis.
Max Wangkar dan laporan Biro-Biro


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data