Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIII/15 - 21 Mei 1993
   
Lingkungan

Pabrik semen tanpa amdal

Dua menteri mempermasalahkan rencana pembangunan pabrik semen di kebumen. tapi gubernur ismail yakin pabrik itu tak akan merusak lingkungan. surat izin juga sudah dikeluarkan.

MANA yang lebih penting, burung walet atau manusia? Pertanyaan pelik ini
tengah dicari jawabnya di Kebumen, Jawa Tengah. Di daerah berbukit kapur itu
kini sedang disiapkan pembangunan industri semen.
Pihak investor, PT Semen Gombong, menyediakan dana Rp 400 miliar untuk
memproduksi semen 1,5 juta ton per tahun. Inilah proyek harapan Pemerintah
Daerah Jawa Tengah, yang diperkirakan bisa menjadi terobosan bagi kerawanan
ekonomi daerah itu.
Sebaliknya, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi serta Departemen
Lingkungan Hidup sangat tidak menyetujui rencana tersebut.
Keberatan itu tercermin antara lain dalam surat Menteri KLH dan Parpostel
yang dilayangkan Maret lalu. Surat itu pada intinya mempermasalahkan
pembangunan pabrik semen yang mengancam kelestarian kawasan Karangbolong.
Seperti diketahui, kawasan ini dilindungi Undang-Undang tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kalau nanti di sana
berdiri pabrik semen, objek wisata berupa gua-gua dengan stalaktit dan
stalakmitnya yang berusia jutaan tahun dikhawatirkan bisa terancam. Begitu
pula habitat burung walet dan sumber air bersih.
Tapi Gubernur Jawa Tengah H.M. Ismail keberatan jika proyek yang telah mulai
disurvei sejak 1990 itu dihentikan. ''Lebih penting mana antara kelestarian
alam dan kesejahteraan masyarakat? Yang tahu kondisi daerah di Jawa Tengah kan
saya,'' kata Ismail seperti dikutip harian Republika.
Namun surat dari dua menteri tak urung merepotkan aparat daerah. Gubernur
Ismail, yang masa jabatannya berakhir Agustus nanti, Rabu pekan lalu
mengumpulkan para bupati yang wilayahnya akan kebagian pabrik semen. Hasil
pertemuan itu belum jelas, namun Gubernur tampaknya keberatan jika proyek itu
dibatalkan.
''Kami tetap memberi peluang kepada para investor untuk melanjutkan
rencananya. Sebagai administratur tunggal, kami kurang yakin jika pabrik semen
tersebut akan merusak lingkungan dan objek wisata,'' tandas Ismail kepada
Bandelan Amarudin dari TEMPO.
Saat ini pabrik yang paling maju tahap pembangunannya adalah PT Semen
Gombong. Studi kelayakannya sudah rampung, dan kini telah mulai
mengeksplorasi.
''Pemda sangat antusias karena proyek ini diharapkan bisa memacu pertumbuhan
daerah Kebumen, yang dinilai paling stagnant di Jawa Tengah. Tenaga kerja yang
akan terserap 300 sampai 400 orang, '' kata Hitler Singawinata, Presiden
Direktur PT Semen Gombong.
Gombong Selatan memang merupakan kawasan yang kaya akan bahan baku pembuat
semen. Kawasan ini juga memiliki gua-gua tempat terdapat sumber air.
Menurut penelitian PPLH (Pusat Studi Lingkungan Hidup) UGM pada 1986, gua ini
menjadi sumber air satu-satunya bagi kawasan Gombong Selatan. ''Kalau daerah
ini dieksploitasi untuk bahan baku industri semen, maka akan merusak gua-gua
yang ada dan akhirnya mengancam sumber air,'' kata Djalal Tanjung, peneliti
senior di PPLH-UGM.
Namun, menurut penelitian pihak pabrik semen yang setiap tahun butuh 1,6 juta
ton batu gamping eksploitasi ini tak akan membahayakan sumber air bersih.
''Dengan tracer test, kami bisa tahu sumber-sumber air itu berhubungan ke mana
saja,'' dalih Hitler.
Lewat tes itu diketahui bahwa Kecamatan Buayan lokasi yang diambil Semen
Gombong tidak mempunyai hubungan hidrolik dengan Kecamatan Ayah daerah yang
selama ini dijadikan objek wisata. Menurut Hitler, penelitian PPLH
memperlihatkan bahwa hanya Kecamatan Ayah saja yang merupakan daerah
konservasi dan pariwisata. Ini berarti wilayah lain di luar itu layak
dieksploitasi.
Fungsi gua sebagai alat keseimbangan geologi tempat berjuta kelelawar dan
walet tinggal juga tak akan diusik. ''Habitat walet itu ada di pantai
Karangbolong, belasan kilometer dari lokasi pabrik semen, '' lanjut Hitler.
Lagi pula burung pemakan hama ini radius jelajahnya hanya empat kilometer.
Sehingga, menurut perhitungannya, debu yang beterbangan dari tambang dan
pabrik tak akan melewati habitat walet.
Masih ada alasan lain. Pabrik semen itu terletak 50 meter di atas permukaan
laut. Antara pabrik dan habitat walet ada perbukitan yang titik tertingginya
mencapai 350 meter. ''Debu kami tak akan mengganggu walet-walet itu,'' Hitler
meyakinkan.
Berbagai hasil penelitian ini telah diajukan dalam sebuah seminar yang
diadakan tahun lalu. Ternyata hasil penelitian tak bisa diterima oleh Bambang
Prabowo, Deputi II Bapedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan).
Alasan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya. ''Kami, sebagai orang
yang tahu mengenai proyek, meragukan proyek itu akan langsung menyentuh
daerah. Berapa banyak tenaga kerja yang siap pakai? Petani-petani itu belum
tentu siap pakai,'' ujarnya.
Yang jelas, penduduk malah harus siap-siap untuk digusur. Menurut Umaryono,
Kepala Desa Banyumudal, pabrik semen Gombong akan mengambil wilayah di lima
desa. Dari desanya saja akan dipindahkan 49 kepala keluarga.
Pada areal itu akan ditambang bahan baku semen yang terdiri dari batu kapur,
pasir kwarsa, pasir besi, dan tanah liat. Untuk tahap pertama lokasi
penggalian adalah daerah Sikayu, yang konon bisa mencukupi kebutuhan pabrik
selama 100 tahun.
Bambang Prabowo mengkhawatirkan dampak pabrik itu terhadap gua- gua, yang
kontribusinya tidak kecil terhadap kas daerah. Gua- gua, yang merupakan objek
wisata di Karangbolong, mampu menyumbang sektor pariwisata sebesar Rp 350 juta
per tahun. Sebagai wilayah yang dikonservasi, kawasan ini juga amat berguna
bagi pendidikan dan penelitian.
''Sampai saat ini dukungan Amdal (Analisa Dampak Lingkungan) belum muncul
juga, '' ujar Bambang, menyuarakan sikap Bapedal. Anehnya, tanpa Amdal,
perusahaan itu telah mengantongi SIPD (Surat Izin Penambangan Daerah), yang
dikeluarkan Departemen Pertambangan dan Energi Jawa Tengah.
''Ini salah. Mestinya SIPD baru muncul setelah Amdal-nya disetujui. Jadi,
eksplorasi itu tidak boleh dilakukan tanpa dokumen Amdal,'' tandas Bambang.
Kesimpangsiuran semacam itulah yang membuat Emil Salim menulis surat,
beberapa minggu sebelum ia meninggalkan posnya sebagai Menteri KLH. ''Mestinya
surat seperti itu dijadikan peringatan agar para investor tak perlu
buang-buang ongkos lebih besar untuk meneruskan usahanya,'' kata Bambang.
Pihak Semen Gombong ternyata tak menghiraukan lampu kuning yang dinyalakan
Emil. ''Program akan kami jalankan seperti biasa, '' kata Hitler. Pengusaha
yang didukung oleh Pemerintah Daerah ini cenderung tidak menggubris imbauan
Emil.
Apakah menteri yang baru akan terus menyorotkan lampu kuning ke arah Hitler?
''Saya belum dilapori soal ini,'' cetus Menteri Negara KLH Sarwono
Kusumaatmaja. ''Beri saya kesempatan untuk memeriksa dokumennya,'' ia
menambahkan seraya bergegas pergi.
G.Sugrahetty Dyan K, R. Fadjri, dan Faried Cahyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data