Hubungan darah brunei-mataram Seorang sejarawan kerajaan brunei darussalam menyebut raja brunei dan
mataram punya hubungan darah. dalam sejarah kerajaan jawa, nama brunei tak
pernah disebut-sebut. |
JANGAN heran kalau di Brunei Darussalam ada sejumlah tokoh yang disebut
sebagai Pangiran Dipanegara. Di sana sebutan itu menjadi gelar resmi bagi
kerabat kerajaan yang dianggap mengharumkan nama negara. Dan ini diakui paling
tidak oleh Prof. Dr. Haji Awang bin Mohammad Jamil Al-Sufri, 72 tahun, ahli
sejarah di Istana Brunei. Sebutan itu merupakan sisa pengaruh Jawa di negeri
petrodolar itu.
Bukan hanya itu. Haji Awang punya catatan bahwa Sultan Hassanul Bolkiah punya
hubungan darah dengan keturunan Raja Mataram, seperti Sultan Hamengkubuwono X
dari Yogya. Titik temu silsilah kedua sultan ini, menurut Haji Awang, ada pada
diri Sunan Giri Muhammad Ainul Yaqqin Sahibul Qairi, penyebar agama Islam di
Jawa Timur tahun 1500-an.
Pendapat kontroversial versi Haji Awang ini dikemukakan dalam simposium
sejarah di Kampus UGM Yogya dua pekan lalu. Dalam forum ini, Haji Awang
membawakan makalah yang mengulas hubungan Brunei dengan Jawa beradad-abad
lalu. Dan tak tanggung- tanggung, ia membawa pula skema silsilah yang
mempertautkan dinasti Brunei dan Mataram.
Syahdan, menurut Haji Awang, Sunan Giri punya cicit bernama Raden Mas Ayu
Siti Aisyah. Ketika dewasa, Aisyah disunting oleh Sultan Abdul Jalilul Akbar.
Pasangan inilah yang kemudian menurunkan Sultan Bolkiah, Sultan Brunei
Darussalam saat ini.
Dari istri yang lain, Sunan Giri juga menurunkan cicit yang disunting oleh
Panembahan Senopati, perintis dinasti Mataram. Dari pasangan ini kemudian
lahir Panembahan Seda Krapyak. Sang Panembahan melahirkan Sultan Agung.
Selajutnya, lahirlah penguasa Mataram yang kini menyisakan empat keraton, dua
di Yogya dan dua di Solo. Kalau cuma sampai di situ, silsilah yang dibawa Haji
Awang ke Yogya itu tak cukup spektakuler. Kalau direntang lagi ke belakang,
lewat garis yang rumit, silsilah ini mengatakan hal yang luar biasa: dinasti
Brunei dan Mataram sama-sama punya hubungan darah dengan dinasti Majapahit
sekaligus Sayidina Husin, cucu Nabi Besar Muhammad SAW. Asal tahu saja,
silsilah itu diterbitkan oleh Jabatan Pusat Sejarah Kementrian
Kebudayaan-Belia dan Sukan Brunei Darussalam.
Simpulnya lagi-lagi Sunan Giri. Oleh Haji Awang, Sunan Giri disebut lahir
dari Sunan Ampel, tokoh syiar Islam di Jawa Timur yang menikahi Putri
Sekardadu, cicit Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk. Sunan Ampel sendiri,
menurut catatannya, adalah keturunan ke-21 dari Sayidina Husin. Namun, jalur
Sultan Bolkiah ke Nabi Muhammad tak hanya lewat Sunan Giri. Sultan Abdul
Jalilul Akbar, katanya, punya garis silsilah sendiri ke Nabi Muhammad, dari
jalur ayahnya.
Kerajaan Brunei sendiri, menurut Haji Awang, sudah lahir tahun 500 Masehi.
Brunei menjadi negara Islam, katanya, sejak zaman pra-Majapahit. Alkisah,
seorang Raja Brunei, yang oleh profesor sepuh ini disebut sebagai Raja
Chermin, berlayar ke Jawa. Ia membawa putrinya, Siti Fatimah. Misinya adalah
mengislamkan Raja Jenggala yang ketika itu bergelar Prabu Angka Wijaya. Bila
mau masuk Islam, sang Prabu akan dihadiahi putrinya. Tapi Angka Wijaya
menolak.
Raja Chermin kecewa. Ia dan rombongannya meninggalkan istana. Sebelum pulang,
mereka beristirahat di Desa Leran, dekat Gresik. Malang, Siti Fatimah dan
beberapa pengikutnya meninggal, lalu dimakamkan di situ. Kompleks pemakaman
itu kemudian diurus Maulana Malik Ibrahim, sepupu Raja Chermin, yang telah
menjadi penyebar Islam di Jawa Timur.
Kebesaran Majapahit sempat membuat Brunei surut. Ekspansi Gajahmada
menjadikan Brunei kerajaan jajahan. Tapi identitasnya tak terganggu: tetap
kerajaan Islam. Sepeninggalnya Gajahmada, Brunei kembali merdeka.
Sepintas, cerita Haji Awang itu memukau. Makam Siti Fatimah di Leran itu
memang benar adanya dan sekarang dikenal sebagai situs sejarah Islam tertua di
Indonesia. Di kalangan arkeolog, situs ini dikenal sebagai Makam Fatimah
dengan sederet keterangan dalam tulisan Arab. Ahli sejarah dari UGM, Abady
Darban, mengatakan bahwa tulisan itu mencatat Fatima Binti Maimunah meninggal
tahun 475 H, atau 1082 Masehi.
Maka sungguh aneh kalau Siti Fatimah dikatakan sebagai keponakan Malik
Ibrahim. Sebab, makam Malik Ibrahim sendiri, juga di Gresik, berangka tahun
1419 M. Jadi, klaim bahwa Siti Fatimah itu anak Chermin sangat diragukan.
Hubungan politik antara Brunei dan Jawa yang dikemukakan Haji Awang itu
ditanggapi Joko Dwianto, sejarawan lain di UGM, de- ngan mengangkat bahu.
Peninggalan sejarah kerajaan Jawa, prasasti, arsip, dan naskah kuno semacam
Babat Tanah Jawa, Babat Mataram, dan Negara Kertagama tak pernah menyebut
Brunei atau kata lain yang bisa ditafsirkan sebagai Brunei. ''Padahal ada
prasasti yang menyebut Pulau Mindanau Filipina,'' ujarnya.
Abady mengkritik sumber acuan penulisan sejarah versi Haji Awang itu, yang
cenderung cuma dari kategori sahibulhikayat. Sumber semacam ini
mencampuradukkan fakta dan fiksi. Tapi itu memang kecenderungan histografi
tradisional: menghubungkan seorang tokoh dengan tokoh lain yang lebih besar,
untuk legitimasi sebagai pemimpin politik atau agama.
Putut Trihusodo dan R. Fadjri
|