Timpang Kemiskinan dibicarakan dimana-mana dengan cara yang paling menikam. di jakarta, real estate tumbuh subur berhimpit dengan bedeng-bedeng kumal. lapangan golf membentang di dekat kampung-kampung tak berpekarangan. ketimpangan itu mesti ditiadakan. si miskin bersama kita. |
KOTA-KOTA berbicara tentang kemiskinan dengan cara yang paling menikam. Ada
seorang pendatang dari Amerika yang menuliskan kesannya tentang sebuah kota
yang baru mencorong oleh industrialisasi, yang dengan cepat menjadi pusat
kemegahan tapi juga pusat kesengsaraan: ''Di tengah keserba-melimpahan yang
luar biasa itu, ada laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mati kelaparan.
Seiring dengan kereta kuda yang gilang-gemilang, yang berlapiskan emas, yang
berwiru sutera, yang diiringi pelayan berseragam, mereka yang miskin,
sendirian, tanpa harap, telanjang ....''
Orang Amerika itu berbicara tentang London, pada tahun 1849. Tapi bagaimana
kemiskinan itu secara tajam menusuk bisa dibaca dari sebuah laporan lain dari
pertengahan abad ke-19 itu. Seorang penulis menuliskan kesaksiannya melihat
hidup sekelompok orang miskin yang bekerja sebagai para pemungut tulang:
''Saya telah melihat mereka mengambil sekerat tulang dari seunggun kotoran,
dan menggerogotnya sementara masih panas oleh proses meragi dan membasi ....''
Rupanya suatu nasib yang universal: kota-kota berbicara tentang kemiskinan
dengan cara yang menikam, bukan karena sejumlah orang hidup serba kurang atau
pas-pasan, melainkan karena kontras di sana yang menganga tajam. ''Kemelaratan
yang paling nyata adalah yang terdapat di kota-kota, karena di sanalah
ekses-ekses saling bertetangga,'' kata Andre Gide.
Kita tahu ini karena Jakarta, tahun 1993, seperti London, tahun 1849, adalah
contoh tentang ekses yang berdampingan dengan ekses sedemikian rupa jelasnya
hingga praktis sudah menjadi klise: Rumah-rumah real estate dengan kolam
renang (dan listrik ribuan watt) berhimpun bagaikan para anggota sebuah klub
yang mahal tidak jauh dari bedeng-bedeng yang kumal dan termangu di tepi
selokan cemar yang mati. Lapangan golf luas yang segar bugar membentang di
dekat kampung-kampung yang tak berpekarangan. Orang-orang yang bisa
menghabiskan uang Rp 3 juta untuk sekali bertaruh di lapangan tenis berpapasan
dengan orang-orang yang harus hidup dengan Rp 1.000 sehari.
Itulah sebabnya nasib si miskin rasanya tak cukup didendangkan dalam lagu
kroncong ciptaan Maladi, Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Kita telah lama
berteriak dengan marah tentang mereka yang hidup dalam kemiskinan: kita telah
bicara dengan kata ''marhaen'' atau ''proletar'' pada masa penjajahan. Kita
telah bertubi-tubi mendesak, dan berbuat, untuk zakat bagi yang fakir dan
papa. Kita telah membikin sejumlah besar proyek pemerataan.
Persoalannya, apa sebenarnya yang hendak kita capai: menghabisi kemelaratan
atau menghilangkan ketimpangan?
Hampir satu abad sebelum seorang pengunjung dari Amerika melihat London
sebagai kota tempat sejumlah orang miskin ''tanpa harap, telanjang'', seorang
pengunjung Amerika lain punya kesan lain. Pada tahun 1766, orang Amerika yang
terkesan itu, Benjamin Franklin, menulis tentang Inggris: ''Tak ada negeri di
dunia ini yang membangun sebanyak itu perlengkapan bagi orang miskin. Begitu
banyak rumah sakit untuk menerima mereka bila mereka sakit atau lumpuh,
semuanya dibangun dan dirawat oleh organisasi amal sukarela. Begitu banyak
rumah derma untuk orang tua dari kedua jenis, dan ada sebuah undang-undang
yang khidmat dibuat oleh orang kaya untuk menjadikan tanah mereka kena pajak
yang tinggi guna mendukung orang melarat ....''
Jarak waktu antara 1766 dan 1849 begitu panjang, tapi tak ada tanda bahwa
kemiskinan menyusut. Kita termangu. Jalan rupanya rumit. Menghabisi
kemelaratan saja dengan memberi banyak dana dan kemudahan bagi si papa
ternyata tak memperbaiki keadaan. Benjamin Franklin sendiri pada tahun 1766
itu sudah melihat bahwa kedermawanan yang melimpah-ruah yang disaksikannya di
Inggris itu hanya merupakan ''suatu hadiah untuk menggalakkan kemalasan''. Tak
mengherankan, kata Franklin pula, bahwa akibatnya ialah ''bertambahnya
kemiskinan''.
Kritik Benjamin Franklin itu kemudian, pada zaman kita, menjadi kritik utama
terhadap sistem welfare state dan, lebih tegas lagi, sistem sosialisme, di
mana orang hidup dari kemudahan yang diatur oleh pemerintah, dan etos kerja
menjadi merosot. Tapi bukan hanya itu. Akibat lain ialah berlanjutnya
ketimpangan sosial. Bagaimanapun juga, gagasan kedermawanan mengandung suatu
keniscayaan adanya ''sang pemberi derma'' dan ''sang penerima derma''.
Keduanya berbeda dalam derajat dan kekuasaan. Kedermawanan hanya akan membuat
si miskin kian tak berdaya. Filantropi bisa dianggap sebagai cara terselubung
untuk mempertahankan ketimpangan.
Maka, agaknya kedermawanan yang sesungguhnya harus berangkat dengan niat
bahwa ketimpangan itulah yang mesti ditiadakan. Tapi di kota-kota besar, di
kantor penguasa-penguasa besar, orang akan mendengar kalimat itu dengan senyum
yang besar. ''Lihat,'' mereka akan berkata, ''tanpa ketimpangan, tak akan ada
kami. Tanpa ketimpangan, tak akan ada persaingan, tak akan ada niat untuk
menang. Dan bukankah kitab suci dan sejarah telah mengajarkan bahwa si miskin
akan selalu bersama kita?''
Goenawan Mohamad
|