Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIII/15 - 21 Mei 1993
   
Buku

Keberanian istri, oleh suami

Penulis: michael aris, kata pengantar: vaclav havel. penerbit: pustaka utama grafiti, 1993. resensi oleh : yuli ismartono.

Buku Aung San Suu Kyi menggambarkan keberanian dan langkah politik menentang
rezim yang berkuasa di Birma. Ada kritik, konsepnya belum kongkret untuk
demokrasi dan hak asasi. APA yang bisa diperbuat seorang suami jika istrinya
dikurung oleh lawan politiknya? Yang paling menarik adalah menerbitkan buku
mengenai ketokohan, kepribadian, dan keberanian istrinya. Itu yang dilakukan
Michael Aris, suami tokoh oposisi Birma Aung San Suu Kyi, yang kini menjalani
tahanan rumah selama empat tahun.
Hasilnya adalah kumpulan esei, bagian dari surat-surat pribadi, pidato-pidato
Suu Kyi, dan wawancaranya dengan berbagai media massa. ''Tujuan kumpulan
tulisan Suu Kyi ini untuk melawan serangan terhadap nama baiknya serta untuk
menjelaskan harapannya untuk masa depan tanah airnya,'' kata Michael pada
TEMPO, ketika buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris dua tahun silam.
Memang lima tahun yang lalu Suu Kyi tak dikenal banyak orang. Di tanah airnya
Birma, yang kini dinamakan Myanmar oleh para penguasa militer, mungkin ada
yang masih ingat anak bungsu Jenderal Aung San itu. Sang Jenderal mendiang
adalah pahlawan nasional yang amat dicintai rakyat Myanmar. Padahal Suu Kyi
sendiri, seorang pakar masalah Asia di Universitas Oxford ternama itu, cukup
tenar akibat tulisan-tulisannya yang sudah banyak diterbitkan. Sayang,
karyanya itu dicap sebagai bacaan terlarang di Myanmar. Sedangkan Suu Kyi
sendiri lebih banyak hidup di luar negeri.
Namun kehidupan akademis itu berubah radikal pada pertengahan tahun 1988. Di
tengah pergolakan mahasiswa yang meledak, wanita yang jarang ikut kegiatan
aktivis itu tiba-tiba tampil di panggung politik. ''Saya sama sekali tak
menduga perkembangan ini,'' pernah dikatakan Suu Kyi kepada TEMPO dalam suatu
wawancara. Memang, sebenarnya perjalanannya dari Inggris ke Myanmar tahun itu
hanya untuk menengok ibunya yang sedang sakit keras.
Dengan pesat Suu Kyi menjadi penyambung lidah rakyat yang merasa tertekan
oleh kekuasaaan Jenderal Ne Win sejak tahun 1962. Popularitas Suu Kyi kian
meningkat hingga ia berani menyerang Ne Win. Akhirnya pada Juni 1989, setelah
menuduh Ne Win sebagai penyebab kebangkrutan negara, Suu Kyi kena tahanan
rumah.
Di balik tahanan itu ia toh berhasil memenangkan pemilu tahun berikutnya.
Partai yang dipimpinnya, Liga Nasional untuk Demokrasi (LND), menang mutlak.
Cuma, rezim militer di Yangon (dahulu Rangoon), menolak menyerahkan kekuasaan.
Banyak pemimpin partai LND ditahan. Ia dilarang menerima berita dari luar,
termasuk dari suami dan kedua anak lelakinya di Inggris. Tahun 1991 Suu Kyi
terpilih sebagai pemenang Nobel karena perannya dalam membangkitkan demokrasi
di Myanmar.
Buku yang disunting oleh suaminya, Michael Aris, mencoba menggambarkan Suu
Kyi sebagai seorang warga negara Myanmar yang sejati. Sebab di mata penguasa
militer, Suu Kyi tak boleh ikut dalam kegiatan politik di negerinya.
Alasannya, ia hidup lama di luar negeri, suaminya orang Barat, dan kurang
paham masalah sosial politik negeri itu.
Buku ini terdiri dari tiga bagian. Yang pertama berupa pembahasan mendalam
mengenai sejarah, sastra, kebudayaan, dan perkembangan kegiatan politik di
Myanmar. Esei panjang tentang ayahnya, Jenderal Aung San, menunjukkan rasa
tanggung jawab Suu Kyi untuk meneruskan misi ayahnya yang gagal karena sang
ayah terbunuh oleh lawan politiknya.
Bagian kedua lebih menampilkan jalannya demokrasi, termasuk upaya Suu Kyi
untuk membangkitkan semangat rakyat dalam kampanye menjelang pemilu tahun
1990. Mungkin yang paling menarik adalah bagian terakhir. Ada opini beberapa
tokoh dan pakar tentang Suu Kyi dan tulisan-tulisannya. Dan tak semuanya
mengandung pujian, kendati ada kecenderungan untuk tak menyerangnya. Suu Kyi
merupakan lambang perjuangan antipenindasan.
Misalnya, Josef Silverstein, ahli masalah Birma. Ia mempertanyakan pemimpin
macam apa Suu Kyi seandainya boleh ikut pemilu dan menang. ''Sejauh ini belum
ditunjukkan bahwa ia (Suu Kyi) seorang pemikir sistematis yang dilengkapi
dengan pemikiran matang mengenai tujuan yang akan dicapai,'' kata Silverstein.
Ia juga menambahkan, Suu Kyi belum memberikan jawaban jelas bagaimana
demokrasi dapat dilembagakan, menciptakan kesatuan nasional, memperbaiki
ekonomi, dan menyelesaikan pelanggaran hak asasi dan politik.''
Buku ini merupakan terjemahan langsung dari aslinya berjudul Freedom from
Fear. Tak tampak ada penyimpangan yang mencolok. Hanya satu keganjilan, yakni
penggunaan nama Myanmar. Dalam buku aslinya, Suu Kyi tak pernah menggunakan
nama itu. Sebab ia tak pernah setuju negerinya diberi nama Myanmar. Kepada
TEMPO, Suu Kyi menjelaskan bahwa Myanmar berarti suku Burman. ''Ini bisa
diartikan bahwa yang berkuasa suku Burman. Padahal harapan kami adalah untuk
menyatukan semua suku di negeri kami, dan nama Birma itulah yang diterima
semua kelompok,'' kata Suu Kyi.
Kalau para redaktur dan penerjemah ingin menggunakan Myanmar, memang tak
salah sebab itu nama resmi Birma selama empat tahun ini. Namun, karena dalam
buku aslinya Suu Kyi sendiri enggan memakai nama Myanmar, sebaiknya ada
penjelasan. Sebagai orang yang mengenal sifat Suu Kyi, saya yakin ia pasti
marah jika melihat perubahan dalam tulisannya itu.
Yuli Ismartono (Bangkok)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data