Museum affandi yang mulai muram Museum affandi mulai sepi dari kunjungan orang. yayasan yang mengelolanya
kekurangan dana. kenapa tidak diserahkan saja kepada pemerintah? |
TIDAK sebagaimana biasanya, hampir setiap hari kompleks Museum Affandi di
tepi Kali Gajah Wong, Yogyakarta, kini ramai dikunjungi orang. Itu karena ada
peringatan 1.000 hari kematian sang pelukis.
Puncak kegiatan berlangsung hari Minggu, 11 April lalu, dengan acara
pemberian Affandi Award, yang juga disebut sebagai ''Tali Kasih Affandi'',
kepada pelukis muda Dede Eri Supria. Acara dimeriahkan dengan pergelaran tari
Umbul Donga Kembang Srengene oleh Suprapto Suryodarmo dari Pedepokan Lemah
Putih, Solo, dan konser musik oleh Jaduk G. Ferianto dengan komposisi 1.000
Hari Affandi di Awang-Awang.
Di balik kemeriahan itu, semua ahli waris sang maestro sedang pusing tujuh
keliling. Museum Affandi terancam gulung tikar karena ketiadaan biaya. ''Kami
mungkin cuma bisa bertahan beberapa bulan lagi untuk membiayai museum ini,''
ujar Kartika. Menurut putri sulung Affandi ini, simpanan hasil penjualan
lukisan Affandi sudah semakin menipis untuk membiayai kegiatan museum yang
setiap bulan menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta itu. Biaya untuk kegiatan
peringatan 1.000 hari wafatnya Affandi itu saja sepenuhnya berasal dari
sponsor.
''Yayasan Affandi tak punya uang untuk membiayai kegiatan ini,'' tambah
Kartika. Pemasukan museum selama ini hanyalah dari karcis masuk setiap bulan
paling tinggi Rp 750 ribu. Sedangkan penjualan reproduksi lukisan Affandi,
yang rata-rata bertarif di atas Rp 5 juta, juga tak menghasilkan apa-apa
alias tidak laku.
Biaya operasional yang dikeluarkan secara rutin itu juga hanya untuk membayar
10 orang pegawai museum dan tagihan rekening listrik. Sedangkan untuk
perawatan lukisan yang rusak, setidaknya harus dikeluarkan Rp 500 ribu per
lukisan. Apalagi, saat ini sudah banyak lukisan Affandi yang harus
direstorasi, karena selain memang sudah tua, kondisi museum yang kurang layak
pun bisa mempercepat proses perusakan lukisan.
Lihat saja Museum Affandi I yang didirikan pada tahun 1962. Di gedung seluas
315 meter persegi itu terdapat 43 lukisan cat minyak Affandi dan 12 sketsa,
yang dipajang di dinding yang lembap dan selalu diselimuti debu yang
beterbangan dari jalan raya di depan museum. Ruang pamer juga kelihatan muram
lantaran pencahayaannya kurang baik.
Sementara itu, kondisi Museum Affandi II lebih lumayan. Sebab, selain relatif
masih baru (dibangun berkat bantuan Presiden Soeharto tahun 1987), gedung itu
juga dilengkapi dengan alat penyejuk ruangan meski hanya berupa kipas angin.
Gedung museum berukuran sekitar 350 meter persegi ini menyimpan tujuh lukisan
Affandi, karya sulaman Maryati Affandi, dan 28 karya Kartika Affandi. Di sini
juga ada sekitar 50 lukisan Affandi yang tidak terawat.
Sebenarnya, nasib suram ini jauh-jauh hari sudah dikhawatirkan oleh Affandi
sendiri ketika dia masih hidup. ''Kalau saya mati, lukisan ini mau diapakan?''
tanya sang maestro sebagaimana diceritakan kembali oleh Kartika. Waktu itulah
muncul gagasan Kartika untuk membentuk yayasan yang bertugas mengurus lukisan
Affandi. ''Daripada lukisan-lukisan ini jadi rebutan anak-anak, kan lebih baik
diurus oleh sebuah yayasan,'' kata Kartika.
Maka, tahun 1981 didirikanlah Yayasan Affandi dengan modal yang diperoleh
dari penjualan koleksi lukisan almarhum. Sekarang ada 15 lukisan milik yayasan
yang belum terjual. ''Daripada museum tutup karena tak mampu membiayai, lebih
baik menjual lukisan cadangan itu,'' kata Kartika. Tapi, menurutnya, yayasan
tidak ingin selalu menjual lukisan Affandi untuk menutup biaya museum. ''Kami
ingin, ada orang yang bermurah hati memberi donasi secara rutin kepada yayasan
untuk kepentingan museum,'' ujarnya.
Kalau keadaan seperti ini tidak tertolong, tidak mustahil Museum Affandi akan
bangkrut. ''Jika museum bangkrut, yang rugi bukan cuma keluarga Affandi, tapi
juga masyarakat Indonesia,'' katanya. Meskipun kemampuan untuk mempertahankan
museum tinggal beberapa bulan lagi, Yayasan Museum Affandi belum punya jalan
keluar. ''Paling-paling kami akan melepas dua lukisan lagi,'' ujar Kartika.
Kedua lukisan itu akan dijual masing-masing Rp 120 juta harga standar lukisan
Affandi dalam pameran lukisan Affandi yang akan diselenggarakan di Jakarta,
Agustus mendatang.
Mengelola museum seni rupa memang tak gampang. Hal ini juga dialami oleh
pelukis Nyoman Gunarsa, yang memiliki dua museum, di Yogya dan di Bali.
''Dalam mengelola museum, saya ini seperti koboi,'' ujar Nyoman Gunarsa, yang
juga dosen FSRD Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini. Maksudnya, dia
betul-betul harus kerja keras agar dua museumnya bisa hidup. Sebab, museum itu
memang dibiayai dari kantongnya sendiri. Tuntutan semacam itu tak dilihatnya
pada pengelola Museum Affandi.
''Untuk memperoleh dana, pengelola museum harus kreatif,'' ujarnya. Caranya,
misalnya, dengan menjual beberapa lukisan dan kemudian hasilnya didepositokan.
Pengelola museum cukup mengambil bunganya untuk biaya pengelolaan. Tapi,
katanya, uang yang didepositokan itu, berikut bunganya, jangan sampai
digunakan untuk keperluan di luar museum. Dengan demikian, katanya, sampai
kapan pun museum akan punya dana abadi untuk kelangsungan hidupnya. Dan itulah
sumbangan pikiran Nyoman Gunarsa untuk Museum Affandi.
Anda punya saran lain?
R. Fadjri
|