Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIII/24 - 30 April 1993
   
Perilaku

Sosialisasi anak autistik

Tingkat kecerdasannya di bawah 70, sama dengan penderita lemah mental. mengalami gangguan berbicara. menyatakan perpisahan sering dengan telapak tangan yang terbalik.

RAYMOND Babbit dinyatakan oleh dokternya sebagai penderita idiot savant
dungu-dungu pintar. Meskipun tampak sebagaimana penderita lemah mental, ia
suatu saat menunjukkan kehebatannya, misalnya mampu menghitung cepat tusuk
gigi yang jatuh di lantai restoran. Ia juga hafal nomor telepon sampai ke
separuh nama berhuruf awal G di buku telepon yang besar. Raymond Babbit tadi
adalah Dustin Hoffman yang berperan dalam film Rain Man, yang diputar beberapa
tahun lalu.
Dalam dunia perilaku, yang dialami Raymond itu disebut autistic atau kelainan
perkembangan psikologi dasar. Penelitian terhadap penderita autistik inilah
yang mengantarkan Dokter Soemarno Wignyosumarto, 55 tahun, meraih gelar doktor
dalam ilmu kedokteran jiwa dari Universitas Kobe, Jepang. Soemarno, orang
pertama yang melakukan penelitian bidang ini di Indonesia, Senin dua pekan
silam menerima ijazah doktornya dari Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM),
Yogyakarta.
Selama 3 tahun (19881991), dosen Fakultas Kedokteran UGM ini menyaring 5.600
anak di Yogyakarta. Dari jumlah itu, ditemukan 150 anak yang mungkin menderita
autistik. Setelah disaring lagi, ternyata enam anak memang mengidap autistik.
Anak yang menderita autistik (autistic child) menunjukkan keterlambatan atau
tidak mampu bersosialisasi, ada kelainan dalam psikomotor atau geraknya, dan
memiliki kelainan dalam berkomunikasi. Tingkat kecerdasan (IQ) sebagian besar
dari mereka itu, menurut Soemarno, di bawah 70. Jadi, sama dengan penderita
lemah mental (mental retardation). Keenam anak yang ditemukan Soemarno itu
hampir semua dimasukkan ke sekolah luar biasa (SLB), tempat anak lemah mental
dididik.
Ciri khusus anak autistik adalah selalu ingin menyendiri. ''Anak autistik
sering bersembunyi di balik pintu jika ketemu orang yang baru dilihatnya,''
ujar Soemarno. Menurut ayah empat anak ini, berbeda dengan anak lemah mental
yang bisa bersosialisasi dan akrab dengan siapa saja, anak autistik juga
mengalami keterlambatan dalam berkomunikasi, baik verbal maupun nonverbal.
Penderita autistik juga menderita gangguan kognitif ketika berbicara. Mereka
sering membalik kata-kata. Misalnya, bila si penderita minta minum, ia akan
bilang, ''Kamu ingin minum.'' Atau, kalau melambaikan tangan sebagai tanda
menyatakan perpisahan, ia sering melakukannya dengan telapak tangan yang
terbalik telapak tangannya itu menghadap ke dalam.
Yang lebih khusus lagi, anak ini masing-masing memiliki gerakan stereotip,
misalnya berjalan sambil berputar-putar. Mereka juga menyukai gerakan
tertentu, seperti gerakan kipas angin atau aliran air di jamban. Mereka tidak
tertarik pada hal lain jika sudah melihat gerakan-gerakan khusus yang
disukainya itu.
Tidak cukup itu saja. Menurut Soemarno, anak-anak ini juga punya ketertarikan
yang amat tinggi pada benda khusus, seperti karet gelang, sapu tangan, dan
mainan tertentu. ''Jika benda yang disukainya itu dijauhkan, ia akan marah
sekali dan sering menyakiti diri sendiri,'' ujarnya.
Sampai saat ini, dunia keilmuan masih memperdebatkan penyebab kelainan
autistik ini. Tapi teori mutakhir menyebutkan bahwa kelainan itu terjadi
terutama karena kegagalan dalam apa yang disebut ''hubungan perlekatan''
antara anak dan pengasuhnya dalam hal ini ibu ketika usia si anak baru 2
sampai 7 bulan. Jika dalam usia tersebut terjadi kegagalan perlekatan, sistem
lymbic dari otak, yakni sistem saraf yang menentukan perkembangan psikologis
dasar seorang anak, tidak akan berkembang.
Tapi, dalam studinya, Soemarno menemukan hal yang berbeda. Ternyata penyebab
yang paling menonjol pada anak di Indonesia, menurut hasil penelitiannya,
adalah infeksi pada otak janin (karena ibu menderita campak), trauma (misalnya
jatuh sewaktu bayi) sehingga kerja saraf otak anak itu terganggu, atau
kelainan hormonal. ''Ini justru terjadi pada anak yang ibunya, yang diteliti
itu, tidak sesibuk ibu-ibu di negara maju,'' kata Soemarno kepada M. Faried
Cahyono dari TEMPO.
Penelitian Soemarno juga menemukan bahwa keenam anak yang menderita autistik
itu memiliki tingkat kekhawatiran yang amat tinggi kalau ditinggalkan ibunya.
Dalam uji coba, anak autistik rata-rata membutuhkan waktu 27 detik sebelum
rela ditinggal, sedangkan anak normal hanya membutuhkan waktu 1,9 detik. Dari
penelitian ini diketahui pula, jumlah penderita di Indonesia dari sampel yang
diambil di Yogyakarta adalah 12 promil, atau terdapat 12 penderita setiap
10.000 kelahiran. Sedangkan angka rata-rata internasional adalah 316 promil.
Sementara itu, angka untuk autistik di Jepang 16 promil, dan di Kanada 6,5
promil.
Bagi penderita kelainan ini, masih bisa diupayakan terapi, dengan tujuan agar
ia bisa mengurus dirinya sendiri. Sebab, tidak seluruh aspek psikologis
penderita mengalami gangguan. Untuk itu, Soemarno menganjurkan agar pendidikan
untuk anak seperti ini dicampur dengan anak-anak normal, sehingga mereka mudah
bersosialisasi, dan kemampuan positifnya dapat dikembangkan. ''Kalau dicampur
dengan anak lemah mental, perkembangannya malah terhambat,'' ujar Soemarno.
Rustam F. Mandayun (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data