Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIII/24 - 30 April 1993
   
Musik

Simfoni hening di tengah hutan

Ada kebosanan terhadap musik ''ngak-ngik-ngok''. ada kerinduan terhadap bunyi-bunyian alam dan batin. lalu, pemusik slamet abdul syukur melahirkan ''minimax'' di hutan.

ALAM yang bisik-berbisik dan batin yang merindukan keakraban kasih sayang
bertemu dalam keheningan. Itulah musik yang sejati, musik yang amat kaya
dengan bunyi. Dan hakikat musik tiada lain adalah bunyi itu sendiri, tak
peduli dari alat apa sumbernya. Itulah konsep musisi kontemporer Slamet Abdul
Syukur.
Ia rupanya mulai bosan dengan jenis musik ''metal'' atau musik
'''ngak-ngik-ngok'', yang memang dijejalkan ke konsumen di kota- kota sebagai
komoditi industri. Karena musik jenis ini bisa kehilangan ''roh'' musik itu
sendiri, yaitu pantulan jiwa yang merindukan keheningan dan penghiburan.
Barangkali itulah sebabnya, Minggu sore lalu ia ingin membuktikan konsepnya
bahwa ''hakikat musik ialah bunyi itu sendiri''. Dan bunyi apa pun yang
diperdengarkan, sesungguhnya sangatlah kaya dan imajinatif tak peduli dari
mana sumbernya atau dari alat apa bunyi itu dihasilkan. Maka, ia pun memilih
tempat pergelaran ''konser'' itu di tengah hutan.
Di tengah hutan? Tentu saja, sebab di sanalah jauh dari kebisingan kota
keheningan itu ada. Waktunya pun dipilih saat senja menjelang matahari
terbenam, ketika burung dan margasatwa lainnya pulang kandang sembari bergaung
atau cuat-cuit bernyanyi.
Konser itu di areal sebuah hutan lindung di kaki Gunung Penanggungan, di
kawasan Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Ini sungguh
unik. Bayangkan, 40 orang pemainnya terdiri dari para petani laki perempuan
yang tak pernah ''makan'' sekolah musik.
Instrumennya pun terdiri dari 17 jenis bukanlah alat musik yang biasa
digunakan buat sebuah pergelaran musik. Bahkan gitar pun tak ada. Satu-satunya
alat musik yang ''normal'' hanyalah seruling bambu. Instrumen lainnya semua
dibikin sendiri oleh para pemain terdiri dari alat yang akrab dengan
penduduk. Ada sapu lidi, bakiak, kaleng bertali, kentongan, kitiran, terompet.
Dari alat-alat ini muncul suara seperti anjing menggongong, ayam berkotek,
burung bersiul, dan suara hewan lain seperti katak dan jangkrik. Dengungan
lebah dihasilkan dari mainan yang disebut sowangan. Suara-suara itu
bersahutan. Juga ada suara perempuan menyapu dan teplak-teplok bakiak.
Slamet Abdul Syukur hanyalah bertindak sebagai penggagas. Jenis instrumen
dipilih sendiri oleh para pemain. Slamet juga tidak bertindak sebagai dirigen,
melainkan hanya mengatur tempat dan waktu permainan.
Karena pergelaran ini tanpa sound system, Slamet mengatur kedudukan para
pemain berpencar. Selain untuk mendapatkan efek alami suatu suara muncul dari
daerah tertentu juga untuk mengatur intensitas bunyi: instrumen yang suaranya
lemah di- tempatkan dekat arena, yang bersuara keras agak jauh. Sahut-
menyahut bunyi-bunyian itu merupakan duplikat dari alam.
Alam sendiri bahkan diikutsertakan dalam konser ini, seperti nyanyian burung
di pepohonan yang terdengar jelas ketika para pemain sengaja menghentikan
permainan dalam sebuah jeda hingga tercipta keheningan. Keheningan memang
merupakan salah satu unsur dalam konser ini, hingga desau angin, gesekan
dedaunan, dan bahkan keheningan itu sendiri terasa nikmat.
Slamet juga berusaha melukiskan suka-duka dan kegaduhan penduduk menghadapi
banjir atau kebakaran hutan, ketika para pemain secara bersama-sama dan
serentak membunyikan instrumen. Namun, ia ''toleran'' terhadap kegaduhan yang
mengganggu keheningan itu. Letupan knalpot sepeda motor yang sesekali melintas
di pinggir hutan seperti bersatu secara wajar.
Tony Prabowo, musisi terkemuka yang hadir dan merekam pertunjukan ini,
menilai bahwa konser ini benar-benar diilhami oleh kebesaran alam.
''Bunyi-bunyian yang diperdengarkan dari alat-alat sederhana itu sangat indah.
Dan suasana hening yang setiap kali ditampilkan benar-benar merasuk ke dalam
jiwa pemain dan penonton,'' kata bekas murid Slamet itu.
Konser yang bagi orang-orang musik mungkin dianggap aneh ini, oleh Slamet,
diberi judul Konser Minimax. Maksudnya, dengan sarana tempat, pemain, dan
instrumen seminimal mungkin, konser ini ingin mencapai hasil yang maksimal.
Maksud Slamet ber-minimax itu tercapai karena para pemain dan penonton
tampaknya merasa senang dan bahagia. Konser selama satu jam itu seperti
permainan mereka sehari-hari, sebagai ungkapan jiwa dan perasaan mereka
sendiri. Mereka bermain dengan suka rela dan senang hati, meskipun menurut
Slamet ''bisa membingungkan para pemusik''.
Nurul tampak bersungguh-sungguh meniup seruling. Padahal, gadis 20 tahun
tamatan SMA Mojokerto yang lagi nganggur ini tak bisa meniup seruling. Ia
memang tidak membawakan sebuah lagu tapi sekadar meniup seruling. Mula-mula
dengan nada rendah, makin lama makin meninggi dan memanjang.
''Ini mengingatkan saya pada permainan anak-anak desa di zaman dulu ketika
saya masih kecil,'' kata seorang perempuan tua. Pengamatan orang desa ini
persis sama dengan apa yang ditangkap oleh Sapto Rahajo, musisi kontemporar
asal Yogya. Katanya, ''Konser ini sungguh alami dan menyuguhkan nilai
spiritual. Slamet mampu menghadirkan kembali sesuatu yang telah hilang.''
Budiman S. Hartoyo dan Zed Abidien


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data