Tabloid dengan acuan lain Majalah mingguan kriminalitas detik ganti haluan menjadi mingguan berita dan opini. ingin menjadi alternatif pemberitaan yang ada. bisa? |
KARENA tabloid punya citra kuning, ''Jangan baca tabloid,'' kata Michael
Jackson. Di negara maju, tabloid memang media cetak murahan yang senang
mengendus, biang gosip, dan doyan skandal seks. Kalau perlu, berbohong demi
oplah. Seks, perceraian, dan kehidupan pribadi tokoh-tokoh terkenal adalah isu
utama media ini. Mahabintang Michael Jackson dan keluarga kerajaan Inggris
boleh dibilang sudah frustrasi menghadapi tabloid.
Tapi sutradara film Eros Djarot justru ingin mengubah citra tersebut. Ia kini
memimpin tabloid Detik, yang resmi terbit sebulan lalu. Tabloid 32 halaman
dengan identitas ''Mingguan Berita dan Opini'' ini jauh dari gosip dan skandal
seks. Sasarannya, menyajikan bahan bacaan untuk melengkapi pemberitaan. ''Kami
ingin menjadi pelengkap pers yang sudah ada. Isi berita kami didominasi
wawancara khusus, karena kami ingin menampilkan opini tokoh-tokoh secara
telanjang,'' ujar Eros.
Sebenarnya Detik bukan media cetak baru. Sebelumnya, di bawah pimpinan H.
Abdul Aziz, Detik tampil sebagai majalah mingguan yang mengutamakan berita
kriminal. Kini, dengan pemilik saham yang terdiri dari Eros Djarot, Surya
Paloh, H. Abdul Aziz, dan para karyawannya, Detik diputuskan untuk ganti
haluan. ''Walaupun, saya kira, Detik dengan wajah baru pada hakikatnya akan
menampilkan juga masalah hukum dan kriminalitas, dalam jangkauan lebih luas,''
tutur Eros.
Dengan modal sekitar Rp 100 juta, kantor yang sederhana, serta 25 wartawan,
Eros menamakan Detik sebagai ''pers kaki lima''. Artinya, modalnya adalah
kemauan dan idealisme, bukan fasilitas atau dana. ''Tentu kami mengharapkan
pemasukan dari iklan, tetapi kami tak akan membiarkan iklan membebani isi
berita,'' katanya lagi.
Sejauh ini bentuk penyajian berita Detik tampak tidak berbeda dari mingguan
berita biasa. Pada edisi 10 Maret, misalnya, ''Sajian Utama'' yang terdiri
dari 10 halaman menurunkan laporan dan pendapat mengenai Sidang Umum MPR
sempat menggemparkan peserta Sidang Umum MPR karena isinya mempersoalkan
cerita ''Di Balik Pencalonan (Jenderal) Try''.
Seperti media lain, Detik memunculkan wawancara dengan sejumlah tokoh,
seperti eks Mendagri Rudini, eks Menko Kesra Alamsjah Ratu Perwiranegara, dan
tokoh ABRI Harsudiono Hartas. ''Sajian Utama'' ini menurunkan pula tulisan
latar belakang, seputar pencalonan wakil presiden lima tahun silam. Lalu ada
ulasan tentang kemungkinan Try Sutrisno menjadi wakil presiden. Yang menarik
perhatian, melalui wawancara dengan tokoh yang kritis seperti Sri Bintang
Pamungkas dan Dawam Rahardjo, Detik ingin mengungkapkan kenyataan bahwa
pencalonan tersebut belum tentu diterima semua pihak.
Penyuntingan minim memungkinkan ucapan-ucapan keras yang dilontarkan sumber
yang diwawancarainya muncul ke permukaan. Ini membangun kesan bahwa Detik
lebih berani dibandingkan media cetak lain. Namun keberanian itu, di sisi
lain, terkesan tidak imbang.
Pada terbitan itu Detik tidak menyajikan wawancara dengan Try Sutrisno, yang
menjadi pusat pemberitaan. Jawaban Try Sutrisno tentu akan membuat ''Sajian
Utama'' itu lebih berimbang. Namun Eros Djarot, yang menjabat sebagai wakil
pemimpin umum dan wakil pemimpin redaksi, berdalih, ''Memang dicoba, tapi saat
itu Pak Try sangat sibuk.''
Dosen komunikasi politik FISIP UI Harsono Soewardi berpendapat, Detik
memiliki peluang untuk menjadi media alternatif. ''Detik mempunyai
sentimentalitas dalam menghadapi kenyataan politik di Indonesia,'' katanya.
''Inilah dasar peluang menjadi media alternatif.'' Sentimentalitas itu,
menurut Harsono, terlihat pada ekspresi ketidakpuasan terhadap percaturan
politik di Indonesia. Termasuk pemberitaannya dalam penulisan berita sekarang
ini. Kelebihan Detik yang lain, menurut Harsono, tabloid itu mampu memancing
rasa ingin tahu pembaca dengan cara megangkat isu-isu politik yang
kontroversial.
''Sayangnya, opini yang ditampilkan oleh Detik sering terasa kurang beragam
dan kurang berimbang. Penulisan beritanya cenderung dilakukan lewat satu kaca
mata saja,'' kata Harsono mengkritik. Dan ia kembali memberi contoh edisi yang
mengupas pencalonan Try Sutrisno sebagai wapres. ''Akan lebih menarik jika ada
Try Sutrisno sendiri juga diwawancarai, agar lebih berimbang,'' katanya.
Melihat penyajian resensi film, buku, teater peristiwa kebudayaan, dan
pemberitaan politiknya yang menggebu-gebu, ada kesan bahwa Detik adalah media
untuk konsumsi mahasiswa, aktivis LSM, dan peminat politik muda usia. Eros
tentu menolak citra ini. ''Detik bacaan untuk mereka yang percaya bahwa yang
abadi hanyalah perubahan,'' katanya berfilsafat.
Dengan idealisme seperti ini pula, Surya Paloh, yang duduk sebagai salah satu
pemegang saham, tak mengharap keuntungan terlalu banyak. Dengan modal Rp 100
juta, Surya Paloh tak terlalu memperhitungkan kapan modal itu kembali.
''Dengan keadaan ekonomi seperti ini, saya tak mengharap tabloid berita itu
laku keras. Saya mengharapkan Detik menjadi alternatif media yang sudah ada,''
katanya.
Yang jelas, Detik sudah menjadi alternatif bagi tabloid lain yang mengikuti
acuan umum: cenderung memamerkan paha dan mengurusi gosip, terutama di
lingkungan film. Yang masih harus dibuktikan, apakah tabloid itu bisa menjadi
alternatif pemberitaan.
Leila S. Chudori
|