Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIII/24 - 30 April 1993
   
Lingkungan

Limbah berbahaya urusan siapa

Pantai pulau batam untuk kesekian kalinya dilumuri limbah minyak yang hitam, lengket, dan menjijikkan. diduga buangan dari tangker yang dicuci di singapura.

PULAU Batam hanyalah satu dari 3.000 pulau sedang atau kecil yang terserak
di pinggir Laut Cina Selatan dan kini lebih dikenal dengan sebutan Kepulauan
Riau. Perjalanan sejarah menunjukkan, ketiga ribu pulau itu merupakan gugusan
yang ideal untuk melaksanakan rencana-rencana jahat. Kalau dulu ideal untuk
penyelundupan, kini untuk pembuangan limbah.
Dua pekan lalu sepanjang pantai barat dan timur Batam tampak dipenuhi limbah
minyak berwarna hitam. Limbah kotor itu juga ditemukan di kawasan wisata
pantai Nongsa dan Pulau Putri. Pantai yang semula berpasir putih itu kini
sudah dilumuri warna hitam.
Tak heran bila para pemilik hotel merasa gusar. ''Kami sering mendapat
keluhan dari wisatawan yang menginap di sini, '' ujar Dolly Front, manager Sei
Nongsa Beach Resort. Rupanya, pantai Nongsa sudah pernah diserbu limbah hitam
seperti itu, hanya tak sebanyak sekarang.
Dolly bercerita bahwa pihaknya pernah menerima sepucuk surat berisi keluhan
dari seorang turis asal Australia. Wisatawan itu melaporkan bahwa anaknya yang
tengah asyik mandi di lepas pantai Nongsa, saat keluar dari air tubuhnya sudah
berlumur minyak hitam.
Cairan hitam itu ternyata begitu lekat pada kulit manusia ataupun pakaian,
sehingga sulit dibersihkan. Selain merekat, limbah itu pun mengakibatkan
gatal-gatal.
Yuslidar, seorang penjual makanan di Nongsa, menyatakan bahwa pantai itu
memang telah menjadi langganan pencemaran limbah minyak. Sedikitnya, dalam
setahun, pantai ini sudah diterjang limbah tiga kali. ''Saya sudah sering
melihat limbah seperti itu, '' katanya.
Kiriman limbah terdahulu sulit dipastikan asal-usulnya, sedangkan limbah yang
datang dua pekan lalu diduga merupakan buangan dari sebuah tanker besar. Pada
hari Paskah, 9 April lalu, penjaja makanan di Pantai Nongsa menyaksikan tanker
itu melego jangkar selama empat jam hingga tengah hari.
Meskipun itu bukan pemandangan yang lazim kapal tak biasa membuang sauh
sekitar tiga kilo dari pantai penduduk tak tergerak untuk melaporkan ke pihak
yang berwenang. Mereka bahkan tidak curiga. Padahal tak lama kemudian pantai
Nongsa dipenuhi limbah minyak berupa cairan maupun gumpalan-gumpalan sebesar
bola pingpong.
Dilihat dari bentuknya, limbah hitam itu mirip kerak minyak mentah yang
merupakan ''hasil sampingan'' dari pencucian tanker. Bisa jadi limbah itu
berasal dari Singapura karena banyak tanker yang dicuci di sana, sedangkan
negara pulau itu ''mengharamkan'' pembuangan limbah.
Kalau itu benar, apakah Singapura curang dan tidak etis? Tentu saja
syak-wasangka ini harus dilengkapi dengan bukti -bukti. Kini Otorita Batam
telah menurunkan tim untuk memastikan asal-usul limbah yang akan diperiksa di
Laboratorium Pertamina di Pulau Sambu. ''Kami ingin tahu dari mana asal limbah
ini. Apakah dari kapal yang berlayar atau kapal keruk yang sedang berada di
kawasan Nongsa, '' kata Suko Sudono, Kepala Sub-Direktorat Lingkungan Hidup
Otorita Batam.
Tapi Suko tidak berbicara tentang sebuah tindak lanjut, padahal itulah yang
seharusnya dilakukan. Seperti diketahui, bukan baru kali ini Kepulauan Riau
diserbu limbah. Namun buangan limbah entah dari Singapura atau dari tempat
lain tidak pernah dilacak secara tuntas. Contohnya, buangan limbah misterius
di Pulau Bintan pada pertengahan tahun lalu. Sampai kini tak ketahuan siapa
pelakunya. Padahal, ada puluhan kemasan plastik berisi cairan kental mirip ter
(hasil pencucian tanker) yang waktu itu terdampar di Pantai Trikora.
Dan di Batam juga tidak sulit menemukan limbah yang terbungkus dalam plastik.
Belakangan ini benda-benda itu sering teronggok di pantai utara, antara Batu
Merah dan Teluk Tering.
Beberapa warga yang menemukan kemasan plastik itu merasa sebagai rezeki dari
langit. Iswadi misalnya, beberapa bulan lalu ''menjala'' lima karung berisi
limbah minyak hitam di perairan Tanjung Buntung di Batam Timur.
Limbah itu setiap karung beratnya 20 kilo ternyata ada peminatnya. Mereka
bersedia membeli seharga Rp 30 ribu per karung. ''Saya tidak tahu itu benda
apa. Tapi kata orang, itu minyak hitam yang dapat dipakai untuk cat kayu,''
ujar Iswadi, polos.
Jelaslah bahwa orang awam tidak menyadari bahaya limbah minyak. Padahal,
Bapedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) sudah menjalin kerja sama
dengan Pemda Riau dan pihak keamanan setempat dalam upaya meningkatkan
pemahaman penduduk tentang limbah yang mencemari Riau.
''Limbah sisa ampas pencucian tanker mengandung senyawa hidrokarbon, solven
bahan pencuci dan logam berat, '' kata Masnellyarti Hilman, Direktur
Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Bapedal.
Karena itu ia khawatir, apalagi kalau penduduk sampai membakar limbah.
Soalnya, jika dibakar limbah itu akan mengeluarkan bahan beracun. ''Ini
tanggung jawab Pemda Riau, yang mesti mengumpulkan limbah, menyimpannya, dan
membakarnya dengan insinerator, '' Masnellyarti menandaskan.
GSI dan laporan M. Simanungkalit


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data