Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIII/24 - 30 April 1993
   
Film

Christopher columbus dan lautan obsesinya

Sutradara: ridley scott. skenario: roselyne bosch pemain: gerard depardieu, sigourney weaver, armand assante produser: alain goldman dan roselyn bosch resensi oleh : leila s.chudori

KETIKA kabut yang menghalangi pandangannya bergerak perlahan, Columbus
melihat sebuah pemandangan yang tak pernah dilupakannya. Columbus beserta awak
kapalnya lantas berlutut, menangis, dan tak habis-habisnya mengagumi alam yang
mereka ''temukan'' setelah berbulan-bulan berlayar.
Sebagai anak tukang tenun asal Italia yang tinggal di pelabuhan, Christopher
Columbus (dimainkan Gerard Depardieu) tumbuh sebagai anak laut yang menghirup
air asin sebagai oksigennya. Hanya bermodal ketangkasannya sebagai pelaut
serta logika dan instingnya yang tajam, Columbus tak henti-hentinya meyakinkan
orang bahwa bumi tidak datar seperti yang dinyatakan para pakar saat itu.
''Lihatlah kapal itu,'' kata Columbus kepada anaknya, Fernando. ''Makin lama
ia kelihatan makin kecil,'' katanya sambil mengupas sebuah jeruk. ''Bumi
berbentuk bulat, hampir seperti jeruk ini,'' katanya.
Untuk meyakinkan dunia bahwa bumi berbentuk bulat seperti jeruk, Columbus
harus menghadapi sekelompok pakar dalam Komite Kerajaan Spanyol yang angkuh,
yang memandangnya sebagai imigran sinting yang menjengkelkan. Apalagi
proporsal Columbus untuk ''mencari Dunia Baru dengan berlayar tanpa batas''
itu akan memakan banyak ongkos dan korban. Tapi Ratu Isabella (diperankan oleh
Sigourney Weaver) malah tertarik. Apalagi Dunia Baru yang dijanjikan Columbus
itu, katanya, penuh dengan emas dan rempah-rempah. Dan toh penasihat istana
Sanchez (Armand Assante) mengatakan, pelayaran itu hanya akan memakan ongkos
yang sama besarnya dengan ongkos dua kali jamuan negara.
Dan berlayarlah Columbus di atas lautan obsesinya. Film ini pun lantas
menjadi petualangan imajinasi sutradara Ridley Scott, yang ingin membuat
interpretasi baru tentang Columbus. Apakah Columbus seorang pahlawan yang
menemukan ''Dunia Baru'' dan berhasil mengoreksi peta dunia? Atau ia seorang
biadab yang gemar membantai suku asli di setiap pulau yang dikuasainya? Scott
tidak berani memberikan jawaban yang gampangan. Setelah meriset berbagai
sumber di antaranya The Great Travellers oleh Milton Rugoff, yang
menggambarkan Columbus dari berbagai sisi, dan Admiral of the Ocean Sea karya
Samuel Morison, yang memuja kebesaran Columbus Scott memutuskan untuk
menunjukkan relativitas sejarah.
Sifat relativitas ini memang sekaligus menjadi ciri khas Ridley Scott,
seorang sutradara Inggris yang menentang penggambaran tokoh yang hitam-putih.
Film sebelumnya, seperti Black Rain, Someone to Watch over Me, dan Thelma and
Louise, tak dapat dikategorikan dalam kelompok film Hollywood yang
hitam-putih. Tokoh-tokoh Scott adalah orang baik yang bisa menjadi jahat, dan
orang jahat yang punya sisi kebaikan.
Maka Columbus, di mata Scott, adalah seorang pahlawan yang berhasil
membuktikan sebagian dari ramalannya. Ia berhasil menemukan berbagai pulau di
Kepulauan Karibia dan Amerika Latin. Tapi Columbus juga seorang manusia biasa
yang membiarkan keserakahannya menggerogoti dirinya. Siang-malam, di bawah
hujan dan panas, ia memerintahkan anak buahnya mencari emas yang
dimimpikannya. Ia bahkan menuntut Ratu Isabella agar mengangkatnya sebagai
gubernur bagi pulau-pulau yang ditemukannya dan memperbolehkannya mengambil
sebagian hasil alam yang akan ditemukan di pulau- pulau itu.
Harta yang belum ditemukan ini lalu menjadi salah satu awal kekacauan
penjelajahan Columbus. Sementara penasihat istana Sanchez sejak awal
menganggap Columbus sebagai ancaman sibuk membuat laporan palsu tentang
Columbus, pembesar lain seperti Hakim Fransisco de Bobadilla berupaya merebut
kedudukan Columbus sebagai viceroy (raja muda) dari kepulauan yang
ditemukannya. Karena ketidakmampuannya menangani konflik antara suku asli dan
beberapa anak buahnya, yang mengakibatkan banjir darah, Columbus dipanggil
kembali oleh Ratu Isabella. Bobadilla menggantikan kedudukannya sebagai
gubernur.
Karena begitu banyak musuh yang menjadi penghalang dalam penjelajahannya,
Columbus akhirnya menjadi sebuah sosok tragis yang dianggap sia-sia. Ada
Adrian Moxica, perwira Spanyol Sanchez, yang sejak awal berperan seperti
Sangkuni dalam Mahabharata kemudian ada Bobadilla, yang menggunakan
pengaruhnya untuk menjebloskan Columbus ke penjara. Dengan tiga musuh besar
Columbus yang digambarkan sebagai begundal-begundal itu, sosok Columbus yang
sebetulnya kejam toh akhirnya mengundang simpati.
Dari segi visualisasi, Scott tetap seorang master. Dari adegan kolosal yang
menggambarkan amukan badai hingga shot semut-semut yang membawa potongan daun,
Scott memperlihatkan keterampilan yang luar biasa. Adegan kekejaman seperti
hukuman cekik dan bakar, serta darah yang muncrat ke mana-mana, memang bukan
pemandangan yang nyaman. Tapi Scott menutup filmnya dengan sebuah gambar yang
indah sekaligus mengenaskan. Columbus yang tua memandang ke luar jendela,
menceritakan kisah penjelajahannya mencari Dunia Baru kepada anaknya. Dan
selebihnya adalah sejarah.
Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data