Defisit dan imbauan itu Defisit transaksi berjalan 1992-93 bisa ditekan menjadi hanya us$ 3,3 miliar. acungan jempol untuk ekspor nonmigas dan tim pkln. |
IMBAUAN Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM, Sanyoto
Sastrowardoyo, agar simpanan masyarakat Indonesia ditarik kembali ke tanah air
dari luar negeri tampaknya tidaklah mengada-ada. Walaupun kondisi neraca
transaksi berjalan (ekspor kurang impor ditambah neraca jasa-jasa) pada tahun
fiskal 1992- 93 sudah menjadi lebih baik, menurut Menko Eku Saleh Afiff,
defisit transaksi berjalan masih perlu diwaspadai.
Defisit itu memang lebih kecil dari tahun anggaran sebelumnya. Pada tahun
fiskal 1991-92 terjadi defisit US$ 4,4 miliar. Sedangkan untuk tahun anggaran
1992-93, yang ditutup 31 Maret lalu, perkiraan defisit hanya US$ 3,3 miliar.
Defisit itu bisa diperbaiki karena beberapa hal. Pertama karena prestasi
ekspor nonmigas yang meningkat lebih dari 30%. Data April-Desember 1992 saja
sudah tercatat US$ 18,4 miliar atau naik 29% dibandingkan dengan periode yang
sama tahun sebelumnya.
Komoditi-komoditi ekspor yang meraih devisa terbesar menurut catatan Biro
Pusat Statistik ialah: tekstil, kayu olahan, industri sepatu dan alas kaki,
alat-alat listrik dan elektronika, baja, mesin, dan udang.
Selain itu, ekspor minyak dan gas ternyata masih mendukung. Harga minyak dan
gas semula dipatok rata-rata US$ 17 per barel, realisasinya diperkirakan US$
18,4 per barel. Kendati mengalami penurunan sekitar 133 juta dolar, ekspor
migas di tahun anggaran lalu tercatat US$ 1,6 miliar (April-Desember).
Satu hal lagi yang berhasil memperbaiki defisit transaksi berjalan adalah
peran pemerintah, yakni kebijakan uang ketat yang disertai pembendungan
megaproyek oleh Tim PKLN (Pinjaman Komersial Luar Negeri). ''Kalau tidak ada
tim PKLN, defisit bisa mencapai US$ 7 miliar,'' kata Saleh Afiff. Tim PKLN pun
membendung proyek-proyek padat modal yang terkait dengan pemerintah atau
membutuhkan kredit bank pemerintah. Tim ini mulai menggebrak sejak September
1991, antara lain dengan membekukan proyek Chandra Asri.
Proyek ini semula membutuhkan modal US$ 2,2 miliar dibiayai dari kredit
konsorsium bank pemerintah dan konsorsium Jepang. Setelah dibekukan enam
bulan, proyek ini boleh diteruskan setelah menjadi proyek PMA 100% dan rencana
investasinya dipangkas tinggal US$ 1,6 miliar.
Penundaan proyek-proyek raksasa, seperti Chandra Asri, nyata- nyata berhasil
mengerem impor barang-barang modal. Toh impor barang modal dari April hingga
Desember 1992 tercatat US$ 5,2 miliar atau naik US$ 700 juta (13,4%)
dibandingkan dengan periode April-Desember 1991. Pos ini melulu impor, tak ada
balans ekspornya.
Impor yang juga tidak ada balans ekspornya adalah impor suku cadang barang
konsumsi. Pos ini menguras devisa US$ 3,4 miliar sedangkan suku cadang
menyedot US$ 2,2 miliar.
Impor barang-barang industri memang masih paling tinggi, yakni sekitar US$
8,3 miliar. Namun di pos ekspornya tercatat US$ 15,7 miliar, sehingga masih
ada surplus US$ 7,3 miliar.
Impor secara keseluruhan tercatat US$ 21 miliar (April-Desember 1992).
Sedangkan nilai ekspor untuk periode yang sama adalah US$ 26 miliar. Dengan
demikian, untuk 9 bulan pertama tahun anggaran 1992-93, neraca perdagangan
mencatat surplus US$ 5,4 miliar.
Lalu mengapa defisit? Masalahnya dalam neraca jasa-jasa masih lebih besar
pasak daripada tiang alias pengeluaran lebih besar ketimbang pendapatan.
Pos-pos pengeluaran di sektor jasa terutama adalah cicilan bunga pinjaman luar
negeri, angkutan luar negeri, asuransi, dan turisme.
Dari ke-4 pos penting itu baru turisme yang menghasilkan devisa. Sedangkan
angkutan laut Indonesia agaknya masih perlu dibenahi agar bisa lebih bersaing
agar eksportir dan importir mau memakai kapal-kapal Indonesia.
''Kalau dipaksakan pakai kapal dalam negeri, bisa-bisa ekspor kita yang
terpukul. Dengan ekspor kita yang meningkat, mestinya armada perkapalan
Indonesia berkembang,'' kata Menko Eku.
Pos yang paling merogoh pengeluaran devisa adalah beban pinjaman luar negeri.
Tapi, menurut seorang pejabat, ini terutama disebabkan faktor perubahan kurs
valuta asing sejak tahun 1985. Devisa yang diterima umumnya dalam bentuk
dolar, sedangkan sebagian pinjaman dihitung dalam valuta yang telah menguat
nilainya terhadap dolar.
''Saat ini utang Indonesia dari Jepang, misalnya, mencapai 40% dari seluruh
pinjaman,'' kata seorang pejabat di Departemen Keuangan. ''Sejak tahun
1985-1992 kurs yen telah menguat lebih dari 50% terhadap dolar. Tahun terakhir
saja yen mengalami kenaikan 3%,'' kata sumber tadi.
Indonesia hanya bisa berharap bahwa pemerintah 7 negara industri terkemuka
(G-7) tak akan membiarkan yendaka terus terjadi.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kondisi defisit transaksi berjalan
akan terus membaik dalam tahun fiskal 1993- 94. Belakangan ini pemerintah
sudah mulai melonggarkan kebijakan uang ketat. Jika impor kembali meledak,
bisa-bisa prestasi ekspor nonmigas akan habis dilahap impor barang-barang
modal, suku cadang, dan barang konsumsi.
Kalau kebocoran itu kembali membesar, tak dapat tidak harus dikompensasikan
lagi dengan investasi dan pinjaman luar negeri. Artinya, gali lubang tutup
lubang. Langkah terbaik agaknya adalah merangsang aliran modal masuk, seperti
yang dihendaki Menteri Negara Sanyoto Sastrowardoyo.
Jika saja masyarakat pemilik dana mau menanamkan modal di dalam negeri,
defisit lalu lintas modal Indonesia mungkin bisa tertutup dengan sendirinya.
Max Wangkar, Bambang Aji
|