Si haram Herbert frahm, anak pelayan toko, dikenal bukan saja sebagai perdana menteri
jerman yang meraih nobel karena politik luar negerinya yang mengulurkan damai,
juga memberikan dirinya untuk orang lain yang diringkus kezaliman. |
HERBERT Frahm tidak pernah mengenal ayahnya. Ia anak haram, lahir dari
seorang gadis pelayan toko di tahun 1913 di Luebeck, di provinsi paling utara
Jerman. Penduduk kota itu pernah menjadi masyhur dan abadi dalam novel
Buddenbrooks Thomas Mann, tapi yang paling masyhur dan abadi agaknya justru
tokoh yang tidak kita temui dalam novel itu. Dialah Herbert Frahm, si anak
haram, warga yang paling hina dina dalam masyarakat Jerman awal abad ke-20.
Kisah hidup Frahm, seperti pernah dikatakan oleh Novelis Heinrich Boll,
adalah bahan yang cocok buat sebuah legenda: anak yang malang itu kemudian
dikenal bukan saja sebagai perdana menteri Jerman Barat yang mendapatkan
Hadiah Nobel karena politik luar negerinya yang mengulurkan damai. Ia anak
yang miskin yang kemudian banyak memberikan dirinya untuk orang lain yang
diringkus kezaliman.
Di awal tahun 1930-an, ketika umurnya 17 tahun, Herbert Frahm, anak pelayan
toko itu, sudah aktif dalam gerakan buruh di kotanya. Tidak hanya itu. Ia juga
sudah masuk dalam daftar hitam orang-orang Nazi. Ia, anggota Partai Pekerja
Sosialis, sering terlibat pergocohan dengan orang-orang berseragam cokelat
yang menyerukan nama Hitler itu. Tak urung, ketika orang-orang Nazi berkuasa,
ia lari ke Norwegia. Ia meninggalkan negerinya hanya dengan berbekal uang 100
mark, beberapa lembar baju, setangkai sikat gigi dan satu jilid Das Kapital.
Sejak itu ia memakai nama Willy Brandt.
Di Norwegia ia dengan cepat belajar bicara dalam bahasa negeri itu, bahkan
menjadi wartawan. Tapi ia giat menyelundupkan surat dan selebaran gelap ke
Jerman. Bahkan di tahun 1936 ia, memasang diri sebagai seorang Norwegia, masuk
ke Berlin, untuk mengadakan kontak dengan gerakan di bawah tanah yang melawan
Hitler. Ia tahu betapa besar risiko tindakan itu, tetapi seperti dikatakannya,
''tujuan perjuangan lebih penting ketimbang individu.'' Dan ia bukan orang
tolol. Ketika di tahun 1940 Jerman yang diperintah Hitler itu mencaplok
Norwegia, Brandt menyamar menjadi seorang prajurit kerajaan kecil itu, dan
sebab itu ditangkap sebagai tahanan perang. Setelah empat bulan ia dibebaskan.
Dinas mata- mata Gestapo tak sempat mencurigainya. Ia lari ke Stockholm. Di
sana ia menulis enam jilid buku dan terus melancarkan kegiatan anti-Nazi
dengan teman-temannya dalam Partai Pekerja Sosialis. Hidup dalam pelarian
seraya terkadang mendengarkan berita tentang gerakan kawan-kawan yang gagal
dan dibasmi menjadikannya seorang yang peka perasaan dan tak gampang
mengeluarkan isi hati. Tetapi juga menyebabkannya menjadi seorang yang bebas
dari dogma ideologi.
Dan ia, biarpun datang dari masa kecil yang gelap, tampaknya memang bisa
mengatasi kepahitan sebuah permusuhan. Di tahun 1957 ia menjadi wali kota
Berlin. Empat tahun kemudian Tembok Berlin dibangun dan direntang oleh tentara
Soviet, dan merobek dengan ganas kota tua yang sudah dibagi dua oleh para
pemenang Perang Dunia II itu. Tapi Brandt, yang menyaksikan semua itu dari
dekat, tahu: memperkeras permusuhan justru tak akan menghasilkan apa pun. Ia
lancarkan Ostpolitik, atau ''kebijakan ke Timur''. Ia menawarkan sikap
bersahabat dengan Jerman Timur, yang selama ini dianggap musuh yang najis oleh
para pendahulunya. Di tahun 1971, Willy Brandt mendapat Hadiah Nobel untuk
perdamaian.
Di tahun 1993, ia atau orang seperti dia sudah tak ada lagi. Kehidupan
politik sudah tak lagi punya tokoh yang bisa menimbulkan inspirasi. Kita
menengok ke kanan dan ke kiri dan tak menemukan orang yang bisa membangkitkan
anasir yang bagus dan mulia dalam diri orang-orang lain, hingga orang memasuki
dunia politik karena niat untuk membuat dunia yang lebih baik. Bukan karena
previlese. Apa gerangan sebabnya? Karena ''sejarah sudah berakhir'', dalam
arti perjuangan-perjuangan besar ke arah pembebasan manusia sudah mendapatkan
apa yang dikehendaki: lahirnya masyarakat yang terbebas dari tirani? Ataukah
karena masa depan tak lagi berwujud seperti dulu: sesuatu yang lahir dari
perubahan yang apokaliptik? Maka: pahlawan tidak akan perlu lahir, keberanian
tak sampai harus meriskir nyawa dan kemerdekaan, dan yang ada hanya perdebatan
dan negosiasi panjang, bukan pergulatan antara hidup dan mati tentang apa yang
benar dan tak benar, adil dan tak adil?
Ataukah hidup di dunia menjadi kian teratur, dan yang diperlukan hanyalah
sejumlah rumus, yang kadang-kadang salah sedikit, tetapi rapi meskipun sepi?
Goenawan Mohamad
|