Indonesia dan para manajernya Penulis: john bresnam. new york : columbia university, 1993. resensi oleh :
bambang harymurti. |
MENULIS buku nonfiksi tentang Indonesia di kancah internasional adalah
proyek teramat sulit. Sebab, kendati merupakan negara berpenduduk nomor empat
terbesar di dunia, keberadaannya yang sangat kaya dengan keanekaragaman budaya
kurang dikenal pembaca dunia, bahkan oleh penduduknya sendiri. Terutama karena
dokumentasi tentang Indonesia sangatlah terbatas.
Untungnya, hal itu tak menghalangi John Bresnan untuk menulis. Pengajar di
Universitas Columbia, New York, ini malah menggunakan jurus yuyitsu:
memanfaatkan kelemahan sebagai kelebihan.
Tak seperti penulis ilmiah tradisional yang mengandalkan studi kepustakaan,
Bresnan justru melakukan wawancara intensif di lapangan. Ia berhasil mengorek
cerita lebih dari 100 tokoh elite Indonesia yang berperan sebagai manajer
ekonomi dan politik nasional era Orde Baru.
Dan jumlah elite di Indonesia teramat kecil, baik secara nisbi (dibandingkan
dengan di negara jirannya) maupun absolut. Maka, peran mereka dalam
pembangunan ekonomi politik pun begitu besar dan terpusat. Ini merupakan
argumentasi kuat bagi pendekatan Bresnan untuk menganalisa perkembangan
ekonomi politik Orde Baru berdasarkan kaca mata para elitenya.
Bresnan memang sangat terbantu oleh masa penugasannya di Indonesia tahun
1961-1965 dan 1969-1973. Yang pertama sebagai asisten direktur Ford Foundation
di Jakarta, dan yang kedua sebagai kepala perwakilan.
Dalam jabatannya itu, Direktur Eksekutif Program Studi Pasifik Basin di
Columbia University ini memang mengenal para ''manajer'' itu secara personal.
Maklum, para tokoh ''mafia Berkeley'', misalnya, kebanyakan adalah mantan
penerima beasiswa Ford Foundation ketika belajar di AS. Walhasil, ia berhasil
dipercaya untuk memperoleh inside information dari para manajer tentunya tak
terbatas pada ''mafia Berkeley'' itu.
Tentu saja sumber informasi peka itu tak dapat dipublikasikan sebagaimana
layaknya persyaratan sebuah karya ilmiah. Namun di sinilah kekuatan dan
sekaligus kelemahan buku ini. Di satu pihak ia memberikan gambaran bagaimana
elite Indonesia memandang perkembangan Orde Baru dengan nuansa yang begitu
kaya. Di pihak lain, ia tak meninggalkan jejak pasti untuk pengecekan ulang
para peneliti di hari kemudian syarat dunia kecendekiaan.
Tapi Bresnan memang tak berpretensi sebagai cendekia. Sebagai peneliti senior
yang di masa mudanya terlibat sebagai ''aktor'', ia berhasil menyuguhkan
sebuah tulisan yang jauh dari stereotip penulis Barat dengan kegenitan
liberal yang populer di kalangan akademis dalam menganalisa negara
berkembang. Ia bahkan hampir percaya pada diktum Gunnar Myrdal terakhir, bahwa
''demokrasi politik ternyata bukanlah prasyarat mutlak bagi suksesnya
pembangunan negara berkembang''.
Setelah mengulas secara kronologis kejadian penting di bidang ekonomi dan
politik pada tahun 1965 hingga 1991 dalam 10 bab terpisah, Bresnan
berkesimpulan bahwa banyak kebijaksanaan pemerintah yang memacu pertumbuhan
ekonomi. Ini jelas tak mungkin dilakukan di bawah rezim yang tak otoriter.
Kebijaksanaan yang membuat pemerataan di Indonesia berjalan cukup baik
dibandingkan banyak negara berkembang itu merupakan kombinasi tiga hal. Yang
pertama adalah struktur politik yang otoriter, didominasi militer, dan
pro-status quo. Yang kedua, struktur ekonomi yang produktif, berakar pada
pertanian tropis dan berkembang ke sektor manufatur, bermodalkan minyak dan
inovasi. Dan ketiga, kebijaksanaan sosial ''progresif''.
Dan kunci utamanya adalah si manajer nomor satu, Presiden Soeharto. Bagi
Bresnan, Soeharto memang menampilkan diri seperti pimpinan puncak sebuah
konglomerat: berfungsi lebih sebagai arbitrator para staf daripada sumber ide.
Staf ekonominya yang piawai umumnya sangat berpengaruh pada saat ekonomi sulit
dan hampir tak digubris saat ekonomi baik. Mungkin karena ia juga mendengarkan
ide para stafnya yang teknolog dan militer, yang menginginkan peran negara
dalam mengembangkan industri teknologi tinggi.
Bresnan sendiri mengaku kagum pada kemampuan elite Indonesia (birokrat,
militer, cendekia, mahasiswa, teknokrat, purnawirawan) untuk mengenal kekuatan
dan kelemahan dirinya dan menemukan jawaban terhadap tantangan masa depannya.
Tampaknya, Bresnan layak mendapat tepuk tangan. Sebab, seperti dikomentari
William R. Liddle, ahli Indonesia dari Ohio State University, AS, di halaman
belakang buku ini, ''Managing Indonesia adalah buku pertama yang menganalisa
ekonomi politik Orde Baru.''
Bambang Harymurti (Washington)
|