Mereka memilih bunuh diri Di hong kong banyak anak bunuh diri. bukan karena orang tua tak sayang, tapi sibuk mencari uang, sebelum koloni inggris itu dioper ke rrc pada tahun 1997. |
TANDA-tanda itu tampak tiga hari sebelum kejadian. Chan Fung- yee, 14 tahun,
yang tinggal bersama orang tuanya di sebuah apartemen di Hong Kong, berkutat
di kamar belajar ketika adik perempuannya menyetel televisi. Fung-yee
berteriak.
''Dibilangnya, dia bosan dan mau mati saja,'' kisah ibunya, Chan Ping-lan,
yang lalu mematikan televisi. Ia meminta suaminya menasihati Fung-yee agar
tidak khawatir menghadapi ujian. Prestasi Fung-yee tidak terlalu bagus. Di
kelas ia di peringkat ke-15, melorot empat tingkat dari tahun lalu.
Keesokannya Fung-yee berangkat sekolah. Sepuluh menit di sekolah, bulan
silam, Fung-yee lari ke sebuah gedung yang tak jauh dari sekolahnya, dan ia
terjun dari lantai 22. Orang tuanya syok.
Fung-yee, seperti dikutip majalah Newsweek pekan lalu, adalah anak ke-15 yang
mati bunuh diri sejak tahun ajaran baru dimulai September silam. Anak bunuh
diri di Hong Kong meningkat. Dua tahun lalu jumlahnya baru tiga orang, lalu
pada tahun 1992 menjadi 21.
Inti soalnya, menurut editorial koran South China Morning Post baru-baru ini,
bukan semata-mata pada jumlah korban, tapi kondisi apa yang membuat anak 8
tahun melontarkan dirinya dari lantai tujuh. Dan tekanan apa yang membuat anak
11 tahun melompat dari puncak apartemen.
Pertanyaan itu sulit dijawab. Yang dialami anak-anak adalah dampak sebuah
perubahan. Tatanan keluarga tradisional Cina, kata seorang pengamat sosiologi,
mengalami perubahan dan perkembangan sangat pesat. Ia menunjuk angka
perceraian yang tinggi. Begitu juga dengan pasangan hidup bersama. Orang tua
yang berkarier semakin banyak sehingga tak punya cukup waktu untuk berkumpul
bersama anak-anaknya. Inilah potret masyarakat Cina kini, yang jumlahnya terus
meningkat menjelang pengoperan Hong Kong ke RRC pada 1997.
''Hong Kong adalah kawasan materialistik,'' kata Lau Wing. Menurut pekerja
sosial pada pelayanan komunikasi problem remaja lewat telepon itu, saat ini
orang tua berlomba mengumpulkan uang untuk memperbaiki taraf hidupnya sebelum
koloni Inggris itu diambil alih RRC.
Di tengah kesibukan orang tua tinggallah anak-anak yang berenang dalam
gelombang kesepian karena tak memiliki siapa-siapa. Ada anak yang tak bertemu
orang tuanya sejak Senin sampai Sabtu. Orang tua hanya sesekali menelepon
untuk memastikan anaknya belajar dan membuat PR.
Problem anak yang tak terpecahkan akhirnya melahirkan ketakutan yang menjurus
ke perbuatan nekat untuk menghilangkan rasa takut. Ini bisa menimpa anak yang
gagal ujian. Di Hong Kong tak mudah masuk akademi dan universitas karena
jumlah sekolah terbatas dan peminat berlimpah. Hanya juara kelas yang berhasil
lolos.
Celakanya, tak semua orang tua dapat menangkap kegelisahan anak. ''Sin Him
adalah tipe pekerja keras, berpikiran dewasa, dan enak diajak bicara,'' kata
ayah seorang anak berusia 19 tahun yang melompat dari lantai 24 pada Juni
tahun silam. Mereka kerap berdiskusi. Sin Him mengatakan bahwa perbuatan bunuh
diri itu bodoh. Tapi kenapa ia sendiri melakukannya?
Tindakan bunuh diri memang bukan disebabkan melunturnya cinta orang tua
kepada anak. ''Mereka mencintai anak-anaknya,'' kata Lesley Lewis, psikolog
Amerika yang diundang Departemen Pendidikan Hong Kong. Hanya saja, cinta kasih
itu diwujudkan dalam bentuk pemberian hadiah atau harta benda lainnya. ''Bukan
dengan pelukan atau ciuman, yang diperlukan anak untuk menumbuhkan ikatan
batin dan rasa aman. Apalagi, pada usia 7 dan 8 tahun, anak mulai tahu arti
penampilan diri dan kompetisi.''
Ahli hukum Elsie Tu melihat alasan bunuh diri itu dari sisi lain. Trend bunuh
diri dari gedung bertingkat itu, menurutnya, akibat gaya hidup keluarga masa
kini yang lebih suka tinggal di gedung tinggi. Argumennya itu beralasan.
Peristiwa bunuh diri umumnya memang terjadi di kawasan yang padat apartemen.
Di wilayah itu tak ada ruang bermain. Anak terisolasi karena tak
bersosialisasi. Akibatnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang kaku.
Seorang murid Cina di sebuah sekolah internasional di Hong Kong, kata seorang
guru berkebangsaan Skotlandia, tak tahu bagaimana caranya bermain-main.
''Suruh mereka bermain, maka ia akan berdiri mematung sambil melipat
tangannya,'' ujarnya.
Dan anak-anak yang bunuh diri itu, menurut para ahli di Hong Kong, adalah
anak yang luput dari perhatian lingkungan dan orang tuanya. Pang Hok-min, 16
tahun, yang lompat dari lantai 24 pada Desember 1991, menurut ibunya, adalah
anak yang pendiam. Karena itu, problem yang mungkin dipendamnya tak terjamah
oleh siapa pun.
Bagaimanapun, meningkatnya jumlah korban anak-anak bunuh diri mencemaskan
para pendidik di Hong Kong. Itu sebabnya Lewis diundang. Ia ditugasi melatih
guru dan administrator sekolah agar mereka lebih tanggap mengawasi muridnya,
termasuk mengenali gelagat anak yang akan bunuh diri dan cara mengatasinya.
Selain itu Lewis juga memutar film The Value of Life (Nilai Kehidupan) untuk
membantu orang tua dan anak-anak mengevaluasi prioritas dalam hidupnya. ''Para
orang tua di Hong Kong terlampau mengejar materi,'' kata Dorcas Yip, kepala
sekolah yang kemudian punya murid bunuh diri. ''Mereka harus belajar bagaimana
berbicara dengan anaknya'' sebuah pelajaran sederhana yang sulit buat orang
tua.
Sri Pudyastuti R.
|