Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXIII/06 - 12 Maret 1993
   
Ekonomi dan Bisnis

Diam-diam, malaysia

Dengan harga lebih murah, malaysia memasok lng ke jepang. indonesia mulai tersaingi dan harus waspada sejak kini.

POSISI Indonesia, yang selama ini tak tergoyahkan sebagai eksportir gas alam
cair (LNG), tampaknya sedang terancam. Diam- diam ancaman itu menjulur dari
Jepang, negara yang selama ini merupakan pembeli terbesar LNG Indonesia.
Dalam lawatan kerja Pertamina ke beberapa perusahaan di Jepang pekan silam
terungkap bahwa persentase LNG dari Indonesia yang diimpor oleh Jepang tinggal
47% dari total kebutuhan negeri itu. Dan ini berarti, ada penurunan impor
Jepang terhadap LNG Indonesia sebesar 7% dalam jangka waktu tujuh tahun.
Hal itu tak bisa dibiarkan. Sejak Jepang membuat peraturan baru perihal
diversifikasi sumber LNG, pesaing Indonesia dalam memasok gas alam cair ke
sana kian bertambah. Dalam penerapannya, pemerintah Jepang melarang para
pengusahanya membeli gas dalam porsi besar kepada satu negara saja.
Diversifikasi sumber ini, misalnya, sudah dilakukan oleh perusahaan listrik
nomor dua terbesar di Jepang, The Kansai Electric Power Company, Inc. Kalau
saat ini 83% kebutuhan LNG mereka diambil dari Indonesia dan Australia, mulai
tahun 1995 Malaysia ikut memasok kebutuhan gas Kansai sebanyak 500 ribu ton
LNG per tahun.
Dalam persaingan yang kian sengit itu belum jelas berapa banyak LNG Indonesia
bisa masuk. Tapi menurut General Manager Kansai, Shigeyuki Otsuki, paling
tidak masih di atas 70% dari kebutuhan mereka.
Hal serupa juga dilakukan Osaka Gas. Pembeli utama LNG Indonesia ini
diam-diam melakukan diversifikasi dengan mengimpor gas alam cair dari
Australia dan Malaysia. Memang, setelah ada ketentuan tadi, pasar LNG Jepang
bak gadis molek yang diperebutkan banyak pria. Setelah Malaysia dan Australia,
masuk pula Aljazair.
Sebenarnya, selain menghadapi ketiga negara tersebut, Indonesia juga harus
bersaing melawan Amerika Serikat, Brunei, dan Emirat Arab yang sudah masuk
lebih dulu. Bagi Jepang, semakin banyak negara yang menawarkan gas, semakin
baik. Harga akan lebih miring, dan suplai lebih terjamin. ''Ya, ini kan
seperti makanan. Kalau kita makan dari banyak piring, kan makin baik,'' kata
Otsuki.
Sebagai pendatang baru, Malaysia menghadapi pasar Jepang dengan strategi kuno
tapi ampuh. Negeri para datuk itu mencoba merebut pasar gas di Jepang tanpa
segan-segan membanting harga.
Harga yang ditawarkan Malaysia pada tahun 1992 lebih murah US$ 0,18 dari
harga yang dipasang Indonesia, yaitu US$ 3,70 per MMBTU. Dengan ongkos angkut
yang hampir sama, boleh jadi nanti Malaysia bisa menjadi pesaing Indonesia
yang cukup serius. Kalau kini produksi gas Malaysia baru 6 juta ton per tahun,
pada tahun 1996 akan ditingkatkan menjadi 15 juta ton. Memang, persaingan
belum sangat terasa sekarang ini. Soalnya, LNG Indonesia masih terikat kontrak
jangka panjang dengan pembeli dari Jepang. Kontrak terakhir dengan Jepang
Timur (Chubu Electric, Kyushu Electric, Nippon Steel, Osaka Gas, dan Toho Gas)
berlaku sampai tahun 1997. Sedangkan kontrak dengan Jepang Barat akan berakhir
dalam waktu dekat.
Dengan cara negosiasi ulang, Indonesia akan memperoleh jaminan bahwa volume
penjualan tidak akan berkurang. Tapi sejak detik ini Indonesia sudah harus
waspada. ''Sebagai pembeli, tentu Jepang menginginkan harga lebih murah.
Paling tidak, sama dengan negara lainnya,'' kata seorang pejabat Pertamina.
Walaupun harga gas berubah-ubah mengikuti harga pasaran minyak pada tahun
1992/93 diperkirakan Indonesia meraup devisa US$ 3,287 miliar dari ekspor gas.
Dan Jepang masih menjadi pembeli utamanya dengan mengimpor LNG Indonesia
sebesar 16,9 juta pada tahun 1992 di samping Korea Selatan dan Taiwan.
Memang kebutuhan Jepang akan LNG terus meningkat, terutama karena sumber
energi ini tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan perkiraan MITI, kebutuhan
LNG Jepang akan naik dari 32,8 juta ton di tahun 1988 menjadi 57 juta ton pada
tahun 2010. Harus diakui, kenaikan itu cukup besar. Kini terpulang pada
Indonesia terutama Pertamina bisa memenangkan segmen pasar yang besar di
Jepang.
Adapun cadangan gas potensial Indonesia sebesar 109 triliun kaki kubik (bisa
diproduksi selama 70 tahun), namun upaya menyedot gas tidaklah semudah yang
dibayangkan orang. Berbagai cara dilakukan, di antaranya debottlenecking, agar
lebih efisien.
Dengan cara itu, dari tambang gas Arun dan Bontang bisa disedot lagi 2,1 juta
ton LNG yang hasilnya juga dijual ke Jepang.
Satu-satunya cara untuk bisa bertahan sebagai eksportir utama LNG ialah
dengan menyedot gas dari sumber gas alam di Natuna. Megaproyek Natuna, yang
pembangunan fisiknya dimulai tahun 1994, itu mempunyai potensi 45 juta ton LNG
per tahun, dan menjadikannya sumber gas alam terbesar di dunia. Pertamina dan
Esso akan menggarap proyek bernilai US$ 17 miliar itu, yang diharapkan sudah
bisa beroperasi tahun 2000.
Namun ada satu cacat Natuna, yakni kandungan CO2-nya lebih tinggi ketimbang
yang dihasilkan Arun dan Badak. Akibatnya, dibutuhkan biaya tambahan sebesar
Rp 34 triliun untuk menurunkannya.
Karena biaya tambahan tadi, Essso, partner Pertamina, meminta bagi hasil yang
lebih besar dari yang biasa, yakni 70 : 30. Hal inilah yang menyebabkan gas
Natuna ditemukan tahun 1979 belum bisa segera ditambang.
Yang pasti, tambahan biaya ini menyebabkan ongkos produksi gas Natuna menjadi
mahal. Padahal, gas ini harus bersaing dengan gas dari negara lain, terutama
LNG Malaysia. Tampaknya, jalan paling baik yang bisa ditempuh Indonesia adalah
mencari konsumen baru, di samping membesarkan pasar di dalam negeri.
Diah Purnomowati dan Bambang Aji


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data