Murah ketimbang bbm tetangga Pernyataan harga bbm di indonesia masih lebih murah dari negara tetangga, menunjukkan rasa kurang percaya diri atas alasan penyebab kenaikan. |
Sebenarnya, kenaikan harga BBM barubaru ini dapat diterima dan dipahami
sebagian besar masyarakat. Hanya saja, salah satu alasan yang dikemukakan
Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita ketika mengumumkan
kenaikan BBM kurang enak didengar. Yakni, walau harga BBM sudah dinaikkan,
tetap masih lebih murah dibandingkan dengan harga BBM di negara tetangga. Hal
ini dirasakan tidak relevan. Justru menunjukkan tidak akuratnya perbandingan.
Soalnya, pendapatan per kapita negara tetangga jauh lebih tinggi dibandingkan
kita, sehingga konsekuensinya daya beli penduduk di negara tetangga jauh lebih
tinggi pula.
Tragisnya lagi, alasan itu diikuti pula oleh Menteri Perdagangan Arifin M.
Siregar, umpamanya dalam membandingkan harga pedoman semen yang mengalami
kenaikan: namun itu masih jauh lebih murah ketimbang harga semen di negara
tetangga, bahkan dari harga semen di Jepang.
Agaknya cara membandingkan hargaharga dengan negara lain, yang notabene
pendapatan per kapita penduduknya lebih tinggi, menunjukkan rasa kurang
percaya diri atas segudang alasan penyebab kenaikan harga.
Sebaliknya pula, mengapa harga telepon genggam di negara kita jauh lebih
mahal daripada di negara tetangga? Di negara kita paling murah Rp 12 juta per
unit, sedangkan di Malaysia harganya Rp 2 juta sampai Rp 4 juta. Alasan
Telkom, karena telepon genggam di Indonesia dikelola oleh swasta sehingga
harganya mahal. Lalu, mengapa tidak dikelola pemerintah saja? Harganya tentu
bisa bersaing dengan negara tetangga.
Melihat halhal di atas, saya cuma bisa gelenggeleng kepala. Tidak berarti
''tidak setuju'', hanya menunjukkan keheranan yang amat sangat atas penggunaan
salah satu alasan pemaaf yang sebenarnya sulit dimaafkan itu.
ZAKIRUDIN Alamat ada pada Redaksi
|