|
Saya sungguh terhenyak ketika membaca berita diluncurkannya uang logam
khusus yang terbuat dari emas dan perak. Berita itu juga ditayangkan TVRI
pada malam harinya.
Yang membuat saya terperangah bukan karena harganya yang cukup mahal untuk
kebanyakan pegawai negeri seperti saya, tetapi karena slogan yang terukir
pada kedua mata uang tersebut: Save the Children.
Benarkah slogan itu tertatah pada mata uang Indonesia? Benda yang pada
umumnya dipandang sebagai salah satu ungkapan jati diri suatu bangsa?
Seperti diketahui, uang logam khusus seperti itu bukan merupakan alat
pembayaran yang sah, melainkan sebagai koleksi para kolektor. Dan seperti
kita ketahui pula, para kolektor pada umumnya mengoleksi benda-benda unik
dan khas, misalnya benda kuno Mesir yang bertuliskan huruf hieroglif. Dan
kolektor asing yang bermaksud mengoleksi mata uang kita tersebut tentulah
mengharapkan sesuatu yang khas Indonesia pula. Apa boleh buat, mereka
mendapatkan benda koleksi yang "biasa-biasa" saja, slogan yang
ditulis dalam bahasa yang amat "umum" di dunia, bahasa Inggris.
Rupanya, terlalu sulit bagi pembuat slogan itu untuk membuat slogan yang
pas dalam bahasa Indonesia. Saya jadi berpikir, dengan membanjirnya kata
asing dalam blantika dunia usaha di negeri kita (Bandung Indah Plaza, PI
Mall, Lippo Building, Jakarta Design Center, Kodel Haouse), dan yang
terakhir Save the Children itu, apakah kita masih perlu memperingati Hari
Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Bukankah kita, kasarnya, telah
mencampakkan bahasa sendiri, bukan menjunjungnya tinggi-tinggi seperti yang
disumpahkan oleh para pendahulu kita?
SOFIA MANSOOR-NIKSOLIHIN
Penerbit ITB Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
|