CN 235 Salah Siapa Tetuko Kecelakaan pesawat cn 235 milik merpati di gunung puntang. kemungkinan penyebab kecelakaan. profil pilot cn 235 fierda basaria boru panggabean. sejarah iptn. |
KAYANGAN, tempat para dewa, kacau-balau diobrak-abrik seorang raksasa sakti.
Para dewa yang sakti tak berhasil mengenyahkan si raksasa itu. Segala senjata
paling ampuh dikeluarkan. Namun tak satu pun mampu melumpuhkan perusuh itu.
Maka para dewa pun mencari jago dari dunia. Yang ditemukan adalah seorang
jabang bayi yang baru lahir. Dan bayi itu segera diboyong ke kayangan. Di sana
para dewa memberi kesaktian dengan memasukkannya ke kawah Candradimuka. Si
bayi, menurut kisah wayang yang diambil dari Mahabarata itu, dibakar dan
digembleng bersama ribuan senjata nan sakti. Dalam sekejap bayi itu menjadi
seorang pemuda gagah perkasa, sakti, dan bisa terbang. Dialah Tetuko, nama
kecil tokoh wayang Gatotkaca. Ia memang bisa menumbangkan raksasa perusuh
kerajaan para dewa itu.
Dan nama Tetuko itu kini dipakai untuk "bayi" CN 235 yang dilahirkan IPTN,
1983. Harapannya, tentu, Tetuko dan kawan kawannya yang dibuat IPTN mampu
menguasai udara di Indonesia.
IPTN didirikan 16 tahun lalu dengan total investasi sampai kini sekitar
Rp 2,4 trilyun. Menteri B.J. Habibie, yang juga Direktur Utama IPTN, begitu
ditugaskan membangun pabrik pesawat terbang itu, sejak semula sudah menetapkan
hanya membuat pesawat jenis kecil. "Sebab di masa depan, jalur jalur udara
Kepulauan Nusantara yang luas ini harus dihubungkan dengan pesawat-pesawat
kecil itu," katanya ketika itu. Di samping, tentu, ratusan kapal yang
menghubungkan jalur perairannya.
Karena itu IPTN mengkhususkan produksi pesawat kecil sekelas CN 235 dan
helikopter. Dan CN 235 sampai sekarang merupakan primadona pabrik pesawat
kebanggaan Habibie itu. Pesawat itu, kata Habibie, tergolong andal karena
mesin, alat komunikasi, dan desainnya. Juga, pesawat jenis ini mampu mendarat
di landasan pacu kurang dari 700 meter, yang tak terlalu sulit dibangun di
kota-kota kecil Indonesia di masa depan. Kelebihan lain, pesawat ini juga
disebut-sebut laku keras di pasaran dalam dan luar negeri.
Tiba-tiba saja, pekan lalu, kita dikejutkan bahwa pesawat buatan Indonesia
yang dibanggakan itu mengalami musibah. Ini adalah kecelakaan pesawat produk
IPTN pertama yang membawa korban paling banyak. Dengan alasan itulah maka
Laporan Utama ini diturunkan. Bagian pertama mencoba melacak kemungkinan sebab
kecelakaan itu sendiri. Tiga sebab yang sering mengakibatkan penerbangan
nahas adalah kesalahan teknis pesawat, manusia (human error), dan cuaca.
Bertolak dari ketiga sebab itulah TEMPO mencoba melacak dan mengurainya.
Apalagi ada yang mulai memprotes kesimpulan sementara bahwa kecelakaan itu
disebabkan oleh kesalahan pilotnya.
Dugaan bahwa penyebab kecelakaan adalah cuaca tampaknya cukup menonjol.
Kebetulan ketika terjadi musibah cuaca sangat buruk. Apalagi di jalur
penerbangan sekitar Bandung memang ada daerah-daerah yang sangar, sering
merenggut pesawat yang sedang terbang. Namun bagaimana para pilot mengenali
daerah rawan itu? Bagian ini dilengkapi dengan cerita pilot yang nahas, Fierda
Panggabean. Ia termasuk teliti, salah satu yang kenal betul jalur penerbangan
sekitar Bandung itu, dan dikenal ramah dan hangat dengan para penumpangnya.
Apa pun yang terjadi, CN 235 milik Merpati yang nahas itu tak bisa
diterbangkan lagi. Maka bagian terakhir tulisan ini mencoba mengangkat pesawat
buatan IPTN yang akan diterbangkan, baik untuk pasar dalam negeri maupun
ekspor. Bisnis pabrik pesawat terbang itu memang belum seluruhnya
menguntungkan. Bukan lantaran sifatnya sebagai BUMN yang tergolong tak memburu
untung. Tapi, terutama, karena industri semacam itu memang tak bisa buru-buru
memberikan untung. Mungkin baru sepuluh, dua puluh, atau beberapa puluh tahun
lagi. Paling tidak, kini sudah untung punya pabrik pesawat terbang.
A. Margana
|