Tersangkut Di Bagi Hasil Kekayaan gas di kepulauan natuna ditemukan tahun 1979. tapi, belum ditambang karena antara esso dan pertamina belum ada kesepakatan bagi hasil. |
ALTERNATIF bagi minyak bumi Indonesia yang cadangannya menipis adalah gas
alam. Kekayaan gas itu tak kurang dari 12,22 milyar setara barel minyak bumi.
Dan berbeda dengan minyak yang menimbulkan polusi udara, "Gas merupakan
energi dari fosil yang paling bersih." Ini dinyatakan oleh Menteri
Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita, dalam Seminar Internasional
tentang energi di Jakarta, pekan lalu.
Namun, dalam hal penambangan gas, Pertamina mengalami kesulitan. Menurut
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Suyitno Patmosukismo, dibutuhkan US$ 17 milyar
untuk menambang gas di Kepulauan Natuna -- sumber gas alam terkaya di
Indonesia. Memang, Esso yang berkaliber internasional telah menyatakan
minatnya untuk investasi di Natuna.
Hanya saja, Esso minta sistem bagi hasil yang berbeda. Sementara kontraktor
gas alam seperti Mobil Oil di Arun dan Bontang berbagi hasil 30 : 70 dengan
Pertamina, Esso meminta jatah lebih tinggi. Alasannya, gas di Natuna
mengandung CO2 sangat tinggi, yakni 70%. Dalam kondisi normal, tambang gas
alam hanya mengandung CO2 5%-10%.
CO2 atau gas asam arang merupakan racun, yang kalau dibuang ke udara bisa
menimbulkan hujan asam. Dibuang ke laut, membahayakan biota laut dan manusia.
Pilihan teraman adalah menyuntikkan kembali gas beracun itu ke dalam tempat
penampungan di bawah tanah. Jelas, ini memerlukan biaya.
Hal-hal itulah yang menyebabkan gas Natuna -- ditemukan tahun 1979 -- belum
bisa ditambang. Padahal, cadangan gasnya mencapai 45 trilyun kaki-kubik. "Kami
telah membicarakan persoalan ini pertama kali tahun 1981. Tidak selesai.
Dilanjutkan lagi tahun 1984, dan baru bisa diatasi masalah teknologi
pembuangan CO2. Setelah ujicoba laboratorium selesai dan terbukti aman,
barulah kita bicarakan nilai ekonomisnya," tutur Suyitno.
Soal hasil perundingan Pertamina-Esso, "Sudah kami serahkan kepada BPPKA
(Badan Pembinaan Pengusahaan Kontraktor Asing) Pertamina," kata juru bicara
Esso, Bung Hutabarat. Ketika hal ini ditanyakan kepada Zuhdi Pane, Kepala
BPPKA ini menjawab, "Semua masih dalam perundingan."
MW, Iwan Qodar
|