Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXII/26 September - 02 Oktober 1992
   
Ilmu dan Teknologi

Air Penopang Jalan Tol

Permukaan air empang yang berada di kanan-kiri jalan tol sedyatmo pluit-bandara soekarno-hatta di pertahankan agar sama dengan permukaan air laut. selain menampung limpasan air juga menyangga jalan tol.

DI kanan-kiri Jalan Tol Sedyatmo Pluit - Bandara Soekarno Hatta, pada bagian
yang membelah kawasan Pantai Indah Kapuk, rawa-rawa masih tampak menggenang.
Ciputra menyebutnya sebagai empang, mungkin karena bersih dari gangguan
belukar dan bakau. "Empang ini tak boleh diganggu gugat," kata Ciputra,
pemilik PT Mandara Permai, yang membangun Pantai Indah Kapuk.

Empang yang lebarnya sekitar 20 meter itu memang sengaja dipelihara. Bahkan
tinggi airnya pun dipertahankan satu meter menurut versi Pal Tanjungpriok,
hampir sama dengan permukaan air laut yang normal. Permukaan jalan tol sendiri
1,5 meter lebih tinggi. Kalau hujan deras turun, empang ini berfungsi
menampung limpasan air dari jalan tol.

Ciputra mengaku tak menghendaki permukaan air empang itu turun. Sebab, kalau
air empang itu susut, apalagi kering, air tanah di bawah badan jalan tol akan
tertarik ke bawah. Kalau itu terjadi, akibatnya bisa fatal. Struktur tanah di
jalan tol itu menjadi rawan, banyak rongga menganga gara-gara kolom air yang
mengisinya lenyap.

Padahal, tanah itu harus menyangga beban tubuh jalan tol yang terbuat dari
beton tebal, ditambah lagi beban ribuan mobil yang lalu-lalang di atasnya.
Beban berat itu bisa membuat struktur tanah penyangga hancur dan badan jalan
anjlok.

Memang, tanpa pengeringan empang pun, tanah penyangga akan memadat. "Tapi
saya tak menghendaki badan jalan tol itu turun lebih cepat dari yang
direncanakan," kata Ciputra. Pada musim kemarau, ketika air waduk surut, air
dari Ceng kareng Drain akan dipompa ke empang. Air laut juga lantas dialirkan
lewat pipa-pipa bawah tanah masuk danau. "Di musim hujan, pipa-pipa
ditutup," kata Hendry Nurhalim.

Penjagaan air tanah di sekitar jalan tol itu, kata Wiryawan Hadiprodjo,
dilakukan pula lewat pengontrolan tinggi air danau, yang berjarak 100 meter
dari poros jalan tol. Air waduk itu dijaga tingginya minus 1,5 meter dari Pal
Tanjung priok. Demikian pula air di empang yang dibuat lebih tinggi dari
danau.

Dengan tinggi air danau dan empang seperti itu, diharapkan air tanah di
sekitar badan jalan tol stabil. Air itulah yang menyangga jalan tol.

Danau dan empang sepanjang jalan tol itu, kata Ciputra, juga akan menjadi
tempat burung-burung mencari ikan. Terutama burung yang tak takut lagi sama
mobil-mobil yang berseliweran.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data