Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXII/11 - 17 Juli 1992
   
Perilaku

60.000 dor yang lain

22 prajurit wanita amerika serikat ditempatkan pula di medan tempur garis depan. mereka tetap diperlakukan sebagai wanita: diperkosa.

KAUM feminis percaya, dunia dan kehidupan sampai kini adalah dunia kaum
pria. Dominasi laki-laki, yang mereka sebut budaya pemujaan lelaki (male
chauvinism) konon berasal dari pengultusan para pahlawan perang. Beberapa
teori berpendapat, pada masa kebudayaan lelaki ini muncul, prajurit yang punya
tugas bertempur adalah sosok-sosok maha penting. Pada mereka bergantung nasib
masyarakat ekspansi untuk memperbaiki kehidupan atau mempertahankan diri
dalam menghadapi ancaman.

Para feminis, yang menentang keras dominasi pria, mencoba mengulangi proses
sejarah, menyiasati medan perang yang membuat pria menjadi pahlawan. Di
Amerika Serikat, dalam menggugat persamaan hak, para feminis melirik secara
khusus ke profesi militer di medan perang. Pada tahun 1990-1991, terjadi
perdebatan panjang tentang masuknya wanita dalam tugas tempur, ramai di
Kongres AS setelah tahun 1990 prajurit wanita ikut bertempur di medan perang
Panama.

Sebuah lembaga masalah wanita, Women's Research and Education Institute di
Washington, D.C., menganggap wanita punya hak untuk mencapai puncak karier
militer. Dan ini harus dirintis melalui jalur tempur. "Bukan langit-langit
kaca yang diharapkan prajurit wanita, tapi langit-langit yang sesungguhnya,"
kata Carolyn Becraft, dari lembaga itu. Alhasil, kaum feminis menang. Mereka
berhasil mendesak Senat AS agar mengeluarkan ketetapan menyamakan prajurit
wanita dan pria di medan tempur. Sebelumnya, kebanyakan anggota militer wanita
mengisi tugas administrasi dan tenaga kesehatan.

Pada Perang Teluk pertempuran melawan Irak tahun lalu, prajurit wanita
bertugas penuh. Pahlawan-pahlawan wanita yang gagah ini mampu berjuang
bahu-membahu dengan pria. Namun, persoalan lain muncul, mereka tetap saja
diperlakukan sebagai wanita secara seksual. Di medan tempur, di lingkungan
dunia keras para pahlawan, komunikasi seksual dinyatakan dengan keras pula:
pemaksaan.

Dua pekan lalu, Komisi Masalah Veteran Perang Senat AS melakukan dengar
pendapat, khusus untuk memasalahkan veteran wanita. Penyelidikan yang
dilakukan komisi itu menunjukkan bahwa banyak prajurit wanita diperkosa di
medan perang. Oleh lawan maupun kawan.

Mayor Infanteri Rhonda L. Cornum, 37 tahun, mengisahkan pengalamannya di
medan Perang Teluk. Ia ditawan bersama beberapa prajurit pria ketika
helikopter yang ditumpanginya ditembak jatuh. Cornum, yang ketika itu terluka
kedua lengannya patah, dan lututnya tertembak diangkut dengan sebuah truk
terbuka ke basis militer Irak. Dalam perjalanan 30 menit itu, ia ditelanjangi
dan diperkosa prajurit Irak yang iseng.

Namun, itulah ekses di medan perang. Perlakuan kasar ini tidak bisa dibilang
sikap angkatan bersenjata Irak. Dalam laporan resmi, Mayor Cornum menuliskan,
ia diperlakukan sangat baik sebagai tawanan perang di luar perjalanan 30
menit dari medan perang. Ia malah mendapat perlakuan lebih baik ketimbang
tawanan pria. Dalam sebuah tanya-jawab, Cornum mengutarakan, ia tidak menabukan
seks, dan tidak menganggap pemerkosaan sebagai penodaan kesucian. Perlakuan
seks yang tidak bisa diterimanya dilakukan dengan pemaksaan, tanpa
persetujuan. "Bahkan tanpa bilang-bilang, menggerayangi bagian-bagian tubuh
yang paling pribadi," katanya.

Namun, prajurit adalah prajurit. Perilaku mereka telah terpola, baik dalam
kebudayaan Irak maupun Amerika. Ini pendapat Jacqueline Ortiz, ahli mekanik
persenjataan artileri, veteran Perang Teluk, yang juga bersedia didengar
pendapatnya oleh Senat. Ortiz mengaku hingga kini ia masih sering mengalami
guncangan kejiwaan akibat diperkosa di medan perang. "Saya sering diserang
sakit kepala hebat, muntah-muntah, dan mendapat mimpi buruk," katanya. "Kalau
saya ingat peristiwa itu, rasanya masih lebih baik kepala saya tertembak di
medan perang."

Peristiwa itu terjadi tepat ketika perang udara mulai marak pada pertengahan
Januari 1991. Di garis depan, di antara perlengkapan artileri, Ortiz diperkosa
seorang rekannya, sersan marinir. "Berulang-ulang, dari muka dan dari
belakang," katanya. Ketegangan perang dan perlakuan seksual itulah yang
membuat Ortiz terguncang. Dan, karena dilema yang dihadapinya. "Di satu sisi
saya bangga bisa bertempur untuk negara," katanya. "Tapi di sisi lain, saya
benci menjadi budak seks seseorang yang punya persoalan dengan kekuasaan."

Namun, menurut Diana Denis, seorang perwira tinggi, Direktur Lembaga Veteran
Wanita, persoalan pemerkosaan di kalangan militer bukan masalah di medan
perang saja. Ia menyatakan, Ortiz sudah melaporkan pemerkosaan yang dialaminya
kepada atasan. "Tapi yang ditemuinya cuma kuping budek," katanya. Denis
sendiri mengaku pernah diperkosa seorang sersan yang mengawalnya pulang ke
barak, suatu malam. Ketika melapor ke atasan, ia mendapat jawaban, "Cobalah
lupakan kejadian itu." Pemerkosaan, kata Denis, seperti persoalan biasa di
kalangan militer.

Kepada Senat, Denis melaporkan 26 kasus pemerkosaan dramatis yang terjadi di
lingkungan angkatan besenjata AS. Barbara Franco, prajurit yang mempunyai
penampilan bahenol, mengalami pemerkosaan kolektif berulang kali. Dalam
penelitian yang dilakukannya atas permintaan Senat, Denis mengemukakan, dari
1,2 juta anggota militer wanita dalam angkatan bersenjata AS, 60.000
menyatakan pernah diperkosa atau mengalami perongrongan seksual.

Penyamaan wanita dan pria dalam dunia militer bukannya mustahil. Yang
musykil, penyamaan citra tentang wanita. Dan ini bukan cuma persoalan di
kalangan militer.

Jim Supangkat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data