Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXII/02 - 8 Mei 1992
   
Media

Media pemerintah kini kompetitif

Media elektronik pemerintah harus bersaing dengan swasta.Produa FM RRI menyiarkan programa lalu lintas dan mengubah gaya siaran. materi siaran berita nasional TVRI lebih berbobot.

RADIO sekarang ini tidak lagi hanya didengarkan pada waktu santai di rumah.
Banyak pendengar mengikuti siaran radio di mobil -- di rumah malah tidak.
Kebiasaan ini muncul karena hampir semua mobil pribadi kini dilengkapi radio.
Ketika lalu lintas macet, radio mobil sangat berfungsi menghilangkan stres.

Stasiun-stasiun radio yang bersaing dalam merebut pendengar sadar betul
potensi para pendengar di mobil ini. Karena itu, bermunculan program yang
khusus dirancang untuk para pendengar di mobil. Acara ini umumnya ditayangkan
pada jam-jam ketika para pendengar berangkat dan pulang dari kantor.

Salah satu program khusus pendengar mobil itu adalah siaran monitoring
kemacetan lalu lintas, khususnya di Jakarta. Melalui program ini pengemudi
mobil dapat mengetahui jalan-jalan mana saja yang macet, lalu menghindar.

Salah satu stasiun radio yang sukses menyiarkan acara monitoring lalu lintas
itu adalah Produa FM RRI di gelombang 105,1. Acara tinjauan lalu lintas di
Jakarta ini telah membuat radio ini menjadi sangat populer di kalangan
pengemudi mobil. Padahal, Produa masih dalam taraf uji coba. "Anda akan
menghadapi kesulitan di jalan bila tak mendengar Produa," kata Putu seorang
pendengar Produa FM yang fanatik.

Tidak salah, RRI di belakang Produa FM, memang singkatan Radio Republik
Indonesia, radio pemerintah. Tujuan menyiarkan programa lalu lintas juga untuk
menggaet pendengar dalam bersaing dengan stasiun radio lain. Kedengarannya
memang tidak biasa untuk sebuah radio pemerintah.

Produa FM RRI memang berbeda dari induknya RRI. Gaya siarannya seperti radio
swasta lain. Tutur bicara penyiarnya santai dan akrab, lagu-lagu yang diputar
trendy, tak kalah dengan gaya radio-radio populer lainnya.

Untuk penampilan yang berbeda itu, RRI menjalin kerja sama dengan PT Hasmuda
Internusa. Selain menangani iklan dan pemasarannya, mitra kerja ini juga
campur tangan dalam urusan siaran. Untuk meluweskan gaya penyiaran, Hasmuda
menurunkan lima orang penyiar. Sementara itu, hanya empat orang penyiar RRI
yang diterjunkan ke sini. Seperti kebanyakan radio swasta lain, sebagian besar
program Produa FM berisi hiburan.

Untuk menetapkan kebijakan dasar siaran Hasmuda membuat riset, mencari segmen
pendengar mana yang dianggap potensial. Keputusannya, Produa FM ditujukan untuk
kelompok menengah ke atas. Sasaran lebih khusus: bukan kalangan muda saja, juga
kelompok usia yang lebih tua. "Karena itu meski ngetrend Produa tak akan
menyiarkan lagu-lagu heavy metal, yang jelas tak bisa diterima telinga orang tua,
" kata Kepala Stasiun RRI, R. Baskara.

Adalah tugas Hasmuda untuk mencari koleksi lagu-lagu terbaru yang
sedang menjadi hits di dunia. Maka, terdengarlah dari radio ini lagu-lagu top
dunia seperti Tears in Heavenya Eric Clapton atau lagu disko penyanyi hitam
manis Shanice, I love Your Smile.

Tujuan hiburan ngepop itu tak lain untuk mendongkrak rate pendengar radio
berkekuatan 10 kilowatt ini. Angka ini akan menentukan pemasang iklan. Hasilnya
sudah segera terlihat. Dalam bulan April lalu, Produa FM sudah berhasil menjaring
iklan separuh dari targetnya. Produa FM menargetkan dengan iklan 15 persen dari 20
jam siarannya dapat dijamin keuntungan dan biaya untuk meningkatkan mutu siaran.

Baskara optimistis dapat mengalahkan popularitas radio-radio swasta. "Kalau
kami diberi kesempatan, kami bisa bersaing dengan radio swasta," katanya.

Media elektronik pemerintah mau tak mau harus berbenah. Pada masa kini semakin
banyak bermunculan media elektronik swasta. Bahkan, di sektor televisi media
pemerintah tidak sendirian lagi. TVRI juga sadar. Karena itu, seperti RRI,
TVRI memoles diri.

Coba tengok siaran Berita Nasional beberapa pekan ini. Penyiarannya pada
setiap jam tujuh malam mempunyai wajah baru. Materi siaran ini selain lebih
berbobot, juga disiarkan langsung dari stasiun-stasiun daerah.

"Ini segi positif kompetisi. Saya melihat RCTI maju karena ditangani dengan
baik. Ini membuat kami termotivasi, " kata Direktur TVRI, Ishadi. Maka, untuk
membuat siaran beritanya TVRI sekarang menerapkan seleksi ketat. Ada
kecenderungan menghindari berita seremonial. Reporter, menurut Ishadi, juga
dituntut untuk melakukan wawancara untuk menggantikan cuplikan pidato.

"Sekarang kalau ada event besar, tetapi tidak diliput, kami menganggapnya
kecolongan," kata Ishadi lagi. Misalnya, awak stasiun Semarang pernah ditegur
karena tak menyiarkan berita meledaknya tangki amoniak di Pemalang.

Maka, untuk memburu Sidang anggota GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) di
Lhokseumawe dua pekan lalu, TVRI tak segan menyewa helikopter. Hasil
liputannya, suasana Aceh, yang segera ditayangkan malam harinya, dipancarkan
langsung dari Banda Aceh.

"Ini benar-benar satu kesempatan buat daerah," ujar Eddy Ismoyo, Kepala Sub-Seksi
Pemberitaan TVRI Surabaya. Beberapa berita dari Surabaya memang cukup menggigit.
Misalnya, berita tentang BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) dilengkapi
kondisi tembakau di Jawa Timur.

Namun, karena di TVRI tidak diperbolehkan menyiarkan iklan, peningkatan mutu
siaran langsung berhadapan dengan masalah dana. Kepala Stasiun TVRI
Yogyakarta, Suryanto mengeluh bahwa pola baru berita TVRI itu mengharuskan 60%
berita layak siar tingkat nasional. Sementara itu biayanya harus ditanggung
sendiri. "Kami kerepotan menanggung biaya ini," katanya.

G.Sugrahetty Dyan K., R. Fadjri, dan Putu Fajar Arcana


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data