Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXII/04 - 10 April 1992
   
Kamera

Benteng

Taman nasional tanjung puting, rumah tiga ribu orang utan kalimantan terancam. perusahaan hph menggeser tempat tsb sedikit demi sedikit. prof. galdikas yang tinggal di sana terancam terusir.

Saya mencintai orang utan. Saya mencintai keagungan mereka.... Banyak di
dunia ini yang bukan masalah jual beli. Tapi ada yang menganggap proyek
penelitian orang utan ini sebuah perusahaan: mereka datang ke Camp Leakey dan
bertanya-tanya bagaimana mencari untung disini. Mereka yang berbicara seperti
itu tidak mengerti arti penelitian. Mereka menganggap bekerja di hutan tidak
artinya, sepele...."

BAGONG bertandang ke Camp Leakey, setelah tiga tahun menghilang, tanpa
menyapa. Esoknya ia pergi tanpa satu patah kata pun. "Dalam dunia mereka, itu
pertanda toleransi dan hormat," ujar Profesor Galdikas. Dua dasawarsa bersama
orang utan di rimba Kalimantan Tengah mengajari wanita asal Kanada ini apa
yang sering dilupakan manusia dalam sejuta tahun: cinta adalah sebuah benteng.

Dan dalam benteng itu lebih dari 60 ekor orang utan dilahirkan kembali sejak
1971, jumlah yang kecil dibandingkan dengan populasi mereka (kini sekitar 30
ribu ekor) yang berkurang setengah dalam tempo sama. Sebab, dalam kebisuan
mereka, orang utan yang hidup menyendiri mengundang raungan gergaji. Dalam
kebisuan mereka, banyak suara lain yang berteriak: tentang pembangunan,
tentang ekspor nonmigas, dan devisa. Dan dalam kebisuan mereka, patokpatok
perusahaan HPH diamdiam bisa bergeser satu kilometer ke dalam Taman Nasional
Tanjung Puting -- rumah tiga ribu orang utan Kalimantan. Dalam kebisuan kita,
Camp Leakey menjadi benteng hari esok.

Sayangnya, benteng adalah kekuatan yang malah mengundang musuh. Mau tak mau
setiap meriam mengarah padanya, dan setiap tahun Galdikas terancam terusir
akibat berbagai tuduhan -- mulai dari menjual darah orang utan sampai menjadi
agen turis. Ia pun dituding gila karena berani bercerai demi orang utan. Ia
membuat bingung manusia karena menolak melihat orang utan atau pohon tempat
mereka hidup sebagai uang.

Mungkin Bagong lebih paham. Ia, yang nenek moyangnya lebih tua dari kita,
lebih panjang ingatannya: benteng itu milik kita semua. Foto Esai: Donny Metri
Teks: Yudhi Soerjoatmodjo dan Donny Metri


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data