KRL, evaluasi sebelum dua jalur |
Memasuki tahun 1992, kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Depok akan
memiliki dua jalur. Dana untuk pembangunan jalur itu tentunya sangat besar.
Bisa dipastikan, biaya tersebut berasal dari utang luar negeri, pajak, dan
sebagian kecil dari pemasukan karcis.
Sebelum berporasi, sebaiknya ditengok dulu dengan cermat bagaimana
beroperasinya KRL selama ini. KRL yang masih berusia muda itu benar-benar
mencerminkan "kereta rakyat". Sebagian besar kipas anginnya sudah tidak ada.
Bahkan sekrup-sekrup pintu sudah banyak yang lepas, sehingga pintu sering
susah ditutup yang selanjutnya menghambat perjalanan.
Kini, perusakan merambat ke jok-jok tempat duduk. Hampir dipastikan, itu
karena ulah anak-anak muda (kebanyakan pelajar) yang berkeliaran di KRL.
Mereka seenaknya merusak karena tidak ada petugas yang mengawasinya. Ditambah
lagi banyaknya pedagang asongan, lengkaplah KRL sebagai "pasar rakyat
berjalan".
KRL jalur pagi (pukul 06.00-08.30) dari Bogor ke Jakarta selalu penuh "luar
biasa". Satu gerbong mencapai 250 orang lebih, padahal kapasitas normalnya
sekitar 80 orang. Demikian juga arus sore, mulai pukul 14.30 hingga 18.45.
Kalau dihitung, rata-rata ada 10 ishiftr yang berkategori padat. Dan setiap
shift ada delapan rangkaian gerbong. Itu berarti sekitar 20.000 lebih
penumpang terangkut pada jam padat. Bila karcis rata-rata Rp 400 (rute pendek),
pemasukan KRL minimal mencapai Rp 8 juta per hari. Sebulannya seharusnya
mencapai Rp 200 juta lebih, hanya untuk jam-jam padat. Artinya, KRL adalah
jalur gemuk.
Tapi apa yang terjadi? Ternyata, banyak sekali penumpang yang membayar "uang"
kepada petugas di atas gerbong. Itu artinya, pemasukan KRL tersedot oleh oknum
petugas. Akibatnya, Perumka sebagai perusahaan mengalami kerugian.
Bagaimana jalan keluarnya? Mudah saja, yakni ketatkan pengamanan (kalau
perlu dengan bantuan aparat ABRI) di pintu-pintu masuk stasiun pada waktu
penumpang masuk stasiun dan sebelum penumpang naik kereta. Pemeriksaan di
atas gerbong akan tidak efektif, apalagi pada saat kereta penuh. Bila Perumka
kurang efektif dalam pengelolaannya, kerja sama saja dengan pihak swasta yang
berani membayar beberapa kali pemasukan KRL pada Perumka. Langkah itu jauh
lebih berarti untuk melindungi penumpang yang setia membeli karcis.
IR. RONY, M.SC.
DRS. BARGAS
M. SYAM, S.E.
Penumpang setia KRL
Jalan Johar 4 A
Jakarta 10430
|