Karantina penderita AIDS Aids bukan sekedar kasus medis. thailan mengkarantina para penderita, agar
terlindung dari perilaku kejam masyarakat. asean membentuk jaringan infor-
masi aids. perlakuan keras bisa menyulut dendam. |
Contoh dari Muangthai untuk Indonesia. Disepakati jaringan informasi tentang
AIDS di ASEAN. Perlakuan keras bisa menyulut dendam.
KITA dihadapkan pada kenyataan baru: hidup bersama penderita AIDS. Kasus dua
pelacur yang terjangkit HIV di Surabaya menandakan AIDS kini sudah masuk dalam
"jalur cepat". Pola penularan HIV memang di sekitar melakukan hubungan seks
dengan pelacur.
Ketika dipertanyakan tindakan untuk mencegah dua pelacur itu menularkan HIV,
muncul reaksi yang tidak jelas dasarnya dari aparat kesehatan (lihat
Kesehatan). Mengadaptasi saran WHO (World Health Organization), Organisasi
Kesehatan Dunia, pejabat di sini menyatakan: dua pelacur tadi tak akan
menjalani karantina. Katanya, mengarantina mereka adalah melanggar hak asasi
manusia.
Namun, dalam pernyataan itu ada yang kelabu. Dengan mengutip saran WHO tadi,
si aparat seperti menutupi kelemahan penanganan, karena tidak mampu bertindak
preventif kepada dua pelacur itu. Mereka bisa praktek terus di lapangan.
Berbeda dengan pengalaman Muangthai. Dengan bantuan WHO dan Ford Foundation,
pemerintah membangun rumah penampungan untuk 100 pengidap HIV di daerah sepi
di Provinsi Phatum Thani. Mereka kebanyakan wanita bekas pelacur. Apakah ini
bukan sebuah karantina? Mereka dilindungi karena sikap kejam masyarakat. Di
sana, karyawan yang ketahuan tertular virus HIV bahkan dipecat dari pekerjaan.
Dan banyak korban diusir keluarganya sendiri.
AIDS bukan cuma kasus medis. Wabah ini membangkitkan dilema sosial yang
berpangkal pada perilaku masyarakat yang dihela citra kolektif. AIDS mempunyai
berbagai aspek yang merangsang imajinasi dan ragam penafsiran di masyarakat.
Pada awal epidemi, AIDS melanda kaum homoseks. Dan pada tingkat pandemi,
wabah ini berkaitan dengan hubungan seks. Lewat jalur ini, kemudian AIDS
menjadi wabah yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia.
Jumlah korban, tiap tahun, melipat dua kali. Di Asia penyebaran HIV lewat
hubungan seks berkaitan langsung dengan citra maksiat.
Mengapa terjadi ledakan wabah? Mengapa homoseks? Mengapa seks dan pelacuran?
Mengapa Afrika? Mengapa Eropa? Mengapa Amerika? Sesusun pertanyaan itu seperti
bermuara pada fenomena: AIDS adalah malapetaka akibat suatu perbuatan yang
berkaitan dengan dosa.
Para pengamat AIDS mengingatkan, masyarakat di semua zaman memerlukan suatu
penyakit menakutkan yang bisa disamakan dengan dosa dan kebatilan. Semua wabah
yang menelan banyak korban jiwa dalam satu saat, seperti kolera, sampar, dan
kusta, senantiasa dianggap penyakit yang berkaitan dengan kutukan.
Menghadapi keadaan ini, pada masyarakat bangkit semangat untuk membela
keluhuran dan kesucian. Dari sini muncul pengesahan untuk memerangi pendosa,
sebagai pangkal segala kutukan.
Rupanya, di abad modern ini perilaku masyarakat tidak berubah. "Kini kita
menemukan AIDS untuk perang demi kebaikan," tulis Susan Sontag. Menurut
pemikir dari Amerika Serikat yang mengamati AIDS itu, penganut seks bebas,
kaum homoseks, pecandu narkotik, pelacur yang memiliki risiko tinggi tertular
HIV sudah lama menjadi musuh di masyarakat.
Masyarakat kembali menemukan alasan untuk menghukum pangkal malapetaka, yaitu
penderita AIDS dan yang tertular HIV. Lalu WHO mencoba mengurung AIDS tetap
berada di lingkaran masalah medis, dan menganjurkan masyarakat melihatnya dari
segi ini. Jadi, tidak beralasan mencegah penderita AIDS menjalani sosialisasi.
Kekhawatiran terjadinya penularan melalui sentuhan, cairan tubuh (termasuk
air mata), dan napas, ternyata tidak benar. WHO, setelah menimbang berbagai
perhitungan epidemiologis dan medis, menyatakan penderita AIDS tak berbahaya
dalam kehidupan sosial. Jadi, mengucilkan mereka adalah tindakan yang tidak
beralasan.
Karena itu, WHO menghindari istilah karantina. Bagi masyarakat Barat,
quarantine adalah istilah kuno dari abad pertengahan -masa kegelapan di
Eropa dalam kekuasaan agama. Pengertian "pengucilan" mengandung arti suci dari
dosa.
Sebutan quarantine digunakan masyarakat Barat -dalam konteks keagamaan --
adalah untuk mengucilkan penderita kusta. Kusta dianggap penyakit kutukan.
Lain di Timur, karantina punya pengertian netral. Seperti di Muangthai,
karantina itu bermakna menampung penderita AIDS.
Menteri kesehatan di lingkungan ASEAN, Rabu pekan lalu, di Jakarta, sepakat
membentuk jaringan informasi tentang AIDS. Penyakit ini mengancam manusia: di
seluruh dunia tiap hari sekitar lima ribu orang terjangkit HIV.
Melalui saluran ini -diharapkan Januari depan sudah jalan -bukan lagi
mendebat karantina, misalnya. Yang lebih utama untuk dieliminasi adalah
hubungan AIDS dengan penafsiran yang tidak rasional.
HIV itu virus jenis baru yang berkembang secara evolusi dalam tubuh binatang
di Afrika. Dan kini, gejala semacam ini adalah mutasi genetik semua jasad
renik di banyak sektor.
HIV menjalar pada kaum homoseks bukan karena kutukan. Awalnya dari jaringan
pelacur di kawasan Karibia, tempat kaum homoseks Amerika membeli jasa para
pelacur pria asal Afrika. Kemudian karena homowan memiliki organisasinya,
penularan HIV meluas dengan cepat di antara mereka, di seluruh jagat.
Melalui jalur informasi tadi, perlu juga dijelaskan: perlakuan keras
terhadap penderita AIDS bisa menyulut dendam. Seperti di AS, diam-diam
penderitanya ada yang sengaja menyebarkan HIV ke tengah masyarakat.
Bila AIDS bisa diterima secara terbuka, besar kemungkinan penderita tahu
bagaimana bersikap. Penyebaran herpes, penyakit kelamin yang juga tidak bisa
disembuhkan seperti AIDS, dapat dijadikan contoh. Di AS, penderitanya
membangun perkumpulan. Kemudian, mereka berhubungan seks atau menikah
sesamanya.
Jim Supangkat (Jakarta) dan Yuli Ismartono (Bangkok)
|