Menelusuri sumber penyebaran HIV Negara-negara asean menyiapkan pencegahan aids secara besar-besaran.
muangthai membentuk tim pemberantasan. malaysia mengadakan seminar aids.
namun indonesia belum menyusun peraturan menghadapi aids |
Antara seks dan kemiskinan. Program pencegahannya besarbesaran dilakukan
di negara-negara ASEAN. Indonesia masih mengabaikan ancaman AIDS.
"PELACUR di Asia dan pelanggan mereka adalah kelompok yang sedang menghadapi
risiko," demikian World AIDS yang terbit di Inggris. Dalam edisi September
lalu, majalah itu mengemukakan contoh: 70% dari 800.000 pelacur di Muangthai
kini berpeluang besar terjangkit HIV.
Kementerian Kesehatan Muangthai mengonfirmasikan bahwa 50.000 pria yang
tertular HIV di pelacuran menjangkitkan virus ini kepada istrinya. Di negara
ini, rata-rata dua kali sebulan lelaki yang beristri mendatangi tempat hiburan
seks.
Pelacuran, menurut World AIDS, punya organisasi rapi. Cara kerjanya tidak
tampak di permukaan, tapi jaringannya luas di bawah tanah. Di Nepal, Filipina,
Korea, Vietnam, Muangthai, Indonesia, perempuan yang didesak kemiskinan
banyak yang melacur. Mereka bagian dari komoditi seks. Pelacuran, yang
berkaitan dengan banyak faktor sosial ekonomi, adalah sektor yang seharusnya
diperhatikan.
Sementara itu, pemerintah Malaysia sudah menyiapkan ancaman hukuman pada
pembawa pelacur yang terjangkit HIV ke negara itu. Di Korea, disusun ketetapan
yang membolehkan karantina terhadap pelacur yang terjangkit HIV. Sebaliknya,
di Indonesia, ancaman HIV di daerah pelacuran ditanggapi enteng.
Contohnya, sikap aparat kesehatan simpangsiur menghadapi dua pelacur yang
terjangkit HIV di Surabaya. Padahal, ancaman HIV sudah waktunya
diperhitungkan. Menurut catatan paling akhir, di enam daerah pelacuran yang
berisi 3.870 pelacur, di kota itu, hanya lokalisasi Dolly yang dikelola secara
baik. Sisanya tidak memperhatikan kesehatan, kebersihan, dan bercampur dengan
rumah penduduk.
Mengontrol pelacur tidak mudah karena tak ada pelacuran yang resmi. Di Bali
pelacur yang datang dari berbagai desa menyebar di Denpasar, khususnya di
kawasan Sanur, yang menjaring turis asing. Jumlah mereka tidak bisa
dipastikan.
"Mereka praktek di hotel dan losmen," kata seorang penduduk di sana. Kadang,
Pemda Badung menjaring dan memulangkan mereka ke desa masing-masing. "Tapi
dipulangkan lima, besoknya datang sepuluh," kata penduduk tadi. Jadi, mustahil
melacak mereka bila terjangkit HIV.
Bukan hanya pelanggan yang berisiko kejangkitan HIV di daerah pelacuran yang
berbaur dengan rumah penduduk. Di lokalisasi tidak resmi seperti Saritem di
Bandung, remaja setempat yang terbiasa akrab dengan pelacur juga terancam. Di
permukiman padat ini, sulit membedakan rumah penduduk, tempat pelacuran, serta
rumah penduduk yang disewa pelacur.
Pelacuran di tengah lingkungan rumah tangga seperti terjadi di Saritem juga
ditemukan di Sunan Kuning, Semarang. Di sini, 700 pelacur praktek. Juga di
Dangean, Magelang, bermukim 150 pelacur.
Lingkungan pelacuran adalah tempat praktek gonta-ganti mitra seks. Inilah
pangkal penyebaran HIV dan peningkatan kasus AIDS. Pola ini terlihat di hampir
semua negara yang terserang AIDS. Banyak pendapat menyimpulkan bahwa kasus
AIDS di Asia masih rendah. Di benua ini, karena ikatan moral, kebiasaan seks
bebas belum meluas. Namun, pendapat ini tidak berlaku di pelacuran.
Kecerobohan menangani kasus HIV di pelacuran bisa menjadi indikator belum
tersusunnya program penanggulangan AIDS secara umum. Inilah yang terbaca pada
kasus penularan HIV pada dua pelacur di Surabaya itu.
Ketika angka penularan HIV di Asia dalam tiap 24 jam mencapai 2.000-3.000
orang, banyak negara sudah menyiapkan pencegahan besar-besaran. Muangthai kini
membentuk tim pemberantasan yang akan dipimpin oleh perdana menteri. Untuk
upaya ini, dana yang dialokasikan tidak kurang dari 9,9 juta dolar AS. Di
negara ini diketahui 30.887 orang terjangkit HIV. Dari berbagai data
penelitian, diperkirakan 300.000 orang terjangkit virus ini.
Di Malaysia, pekan lalu diselenggarakan seminar nasional tentang AIDS. Di
sini, semua data dikaji dan berbagai program disusun. Antara lain, pembangunan
permukiman bagi mereka yang tertular HIV serta penderita AIDS. Dalam diskusi
itu, dimasalahkan seberapa jauh penampungan ini tidak menyudutkan
penderitanya. Anggaran program AIDS ditetapkan 1,7 juta dolar AS. Di negara
jiran ini tercatat 2.807 orang yang terjangkit HIV. Menteri kesehatan
memperkirakan angka kejangkitan yang sebenarnya sudah 30.000 orang.
Bandingkan semua upaya itu dengan program AIDS di Departemen Kesehatan RI.
Yang sudah dilakukan baru tes darah pada 160.000 orang yang punya risiko
tinggi. Kejangkitan HIV 33, dan kasus AIDS 16 orang.
Bisakah diperkirakan angka sebenarnya? "Tidak," jawab Dokter Zubairi
Djoerban, ahli AIDS di RSCM Jakarta. "Karena kita tak mempunyai cukup data dan
penelitiannya untuk membuat perkiraan seperti di Muangthai dan Malaysia."
Selain itu, Indonesia juga belum menyusun peraturan menghadapi AIDS.
"Padahal, kita memerlukan peraturan, supaya tak bingung. Misalnya, menghadapi
pelacur yang terjangkit HIV," kata Zubairi.
James Chin dari WHO mengutarakan, pada 1980-an, ketika di negara maju sibuk
menghadapi AIDS, banyak pejabat kesehatan negara-negara di Asia skeptis.
Namun, sekarang, menurut Chin, sikap itu berubah total setelah melihat
kemungkinan peningkatan angka penularan HIV.
Yang patut dicatat adalah Indonesia. Sikap pejabatnya memperlihatkan
keadaan seperti pada 1980-an itu. Belum berubah.
Laporan Bambang Sujatmoko, Riza Sofyat, M. Weja, Yuli Ismartono
|