Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. //07 - 13 Desember 1991
   
Kolom

Statistik pelipur lara

Hasil sensus penduduk 1991, ada kemajuan yang dicapai dalam pembangunan. pertumbuhan penduduk dapat ditekan. kemampuan baca tulis meningkat, demi- kian juga partisipasi angkatan kerja.

GUNDAH? Gelisah? Tidak perlu. Karena keadaan belum tentu seburuk perkiraan
yang mengganggu pikiran sementara orang itu. Uang seret? Modal buntet? Kredit
disumpet? Pembangunan macet? Belum tentu. Buktinya, rakyat tenang tanpa
keluhan apa-apa. Yang berteriak kan cuma segelintir pengusaha. Bagi mereka,
biar uang susah, tabungan masih bisa dipecah. Yang mapan bisnisnya, biar bank
pelit, ada saja jalan untuk menembusnya. Namanya saja usaha. Tentu tidak bisa
disiasati seraya ongkang-ongkang saja.

Kalau tidak percaya, lihatlah statistik. Sekurang-kurangnya angka yang
dikeluarkan BPS, hasil pencacahan penduduk Indonesia bulan Oktober tahun 1990.
Atau statistik turunan, yang mengungkap berapa orang miskin yang masih
tersisa di Indonesia. Mungkin saja beberapa keluhan orang tadi ada dasarnya.
Bisa saja umpatan kritikus itu sahih landasannya. Tetapi belum tentu,
keterangan yang ada pada mereka itu tidak ada info pembandingnya. Belum
tentu keluhan itu tidak terbantah, oleh sudut pandang yang sama sahihnya.

Memang. Baik atau buruknya situasi itu lebih tepat kalau dilihat tidak dalam
ukuran sesaat. Kalau kita bilang maju, tentu harus dijajarkan dalam sebuah
rentang waktu. Kalau sekadar mau berbantah dari platform anjak berbeda, akan
banyak sekali model acuannya, sehingga keinginan membanding secara adil dan
berbudaya akan sia-sia. Kalau kita bilang keadaan lebih baik, perlu kita
jajarkan angka-angka dalam deretan pembanding yang setara dan laik. Jangan
lalu mengada-ada.

Lepas dari segala klaim dinamika dan kemandekan, data atau statistik bisa
lebih keras berbicara. Karena itu, saya akan pelan-pelan saja menyampaikannya.
Sebab, angka itu diam tetapi suka sangat musykil meredam dampaknya, baik
dampak yang menambah rasa duka maupun dampak sebagai pelipur lara. Yang
netral, yang saya punya adalah angka hasil sensus penduduk 1991. Berdasarkan
statistik itu, saya hendak bercerita. Misalnya tentang jumlah dan pertumbuhan
penduduk, serta komposisinya.

Penduduk Indonesia bulan Oktober 1990 ada sebanyak 179,4 juta, itu berarti
selama kurun 1980-1990, ia bertambah ratarata 1,97% per tahunnya. Ini jelas
prestasi. Pertumbuhan dekade sebelumnya, 1971-1980, masih 2,32% rata-rata per
tahunnya. Biarpun dengan Korea, Muangthai, Sri Langka, Cina, dan Singapura,
prestasi kita menekan pertumbuhan penduduk tergolong sedang-sedang saja.
Jangan membandingkan Malaysia yang memang sengaja mau menaikkan jumlah
penduduknya. Atau dengan Filipina yang gereja Katoliknya kurang berkenan
dengan urusan kontrasepsi.

Bagaimana dengan penyebarannya? Kebijaksanaan kependudukan kita antara lain
berusaha agar penduduk Pulau Jawa yang sudah padat itu tidak makin bertambah
rapat saja, sedangkan penduduk luar Jawa yang jarang sebaiknya ditambah
melalui transmigrasi. Ternyata, angka hasil sensus penduduk mendukung skenario
itu. Biarpun lamban, jelas arahnya. Sepuluh tahun yang lalu, penduduk Pulau
Jawa ada 62% dari penduduk Indonesia, sekarang tinggal 60%. Tetapi jumlah
absolutnya masih bukan main banyaknya. Ada 107,6 juta penduduk Indonesia yang
tinggal di Jawa. Kepadatannya pun mendekati pulau-kota, yaitu 814 orang tiap
kuadrat kilometernya.

Mengendalikan kelahiran, dampaknya juga pada struktur umur dan kelamin
penduduk. Sekarang penduduk yang berusia muda di bawah 15 tahun sebanyak 36,5%
saja. Dibanding keadaan sepuluh tahun yang lalu, jumlah itu masih setinggi
hampir 41,0%. Dua dekade sebelumnya, anak-anak remaja di bawah 15 tahun hampir
44,0%. "Kan jelas menurun trend ketergantungan atau dependency ratio itu?
Kenapa kita tidak bersyukur dan turut bersukacita? Kenapa masih ada yang
selalu bersungut-sungut saja?" komentar Pak Parjo.

Bagaimana dengan mutu penduduknya? Data bersaksi, kondisi pendidikan penduduk
Indonesia bukan main pesat perkembangannya. Coba lihat. Kemampuan baca tulis
penduduk Indonesia sekarang sudah dimiliki oleh 84,1% dari penduduknya.
Dibanding dengan keadaan sepuluh atau dua puluh tahun sebelumnya, angka itu
benar-benar lumayan kenaikannya, dari 60,9% menjadi 71,1% tahun 1980. Begitu
juga angka anak-anak usia 7-12 tahun yang masih bersekolah. Selama kurun waktu
dua puluh tahun, school enrolment rate meningkat dari sekitar 58% (1971),
kemudian 83% (1980), menjadi 92% (1990). Sepanjang menyangkut tingkat
pendidikan dasar, antara daerah-daerah di luar Jawa dan di Jawa, dan antara
laki-laki dan wanita, praktis sama tingkatnya.

Begitu juga dengan angkatan kerjanya. Partisipasi angkatan kerja, terutama
wanitanya, meningkat pesat, walaupun disparitas partisipasi angkatan kerja
pria dan wanita masih lebar menganga. Kalau diambil ngelmu bejo-nya, ini
berarti masih terbuka peluang lebar untuk membuka partisipasi angkatan kerja
wanita dalam perekonomian kita.

Tampak juga adanya pergeseran sektoral angkatan kerja kita. Mereka yang
bekerja di sektor pertanian turun dari 64,2% tahun 1971, kemudian 55,9% tahun
1980, dan menjadi 49,3% tahun 1990. Sektor manufaktur dan perdagangan
meningkat. Selama kurun itu, sektor perdagangan naik dari 10,3%, 13,0%,
kemudian 14,7% tahun 1990. Industri manufaktur dari 6,5%, 9,1%, menjadi 11,4%.
Lamban tetapi lumayan.

Sensus ini juga mengumpulkan data tentang keadaan perumahan. Boleh jadi,
angka itu amat peka untuk mengukur keadaan sosial ekonomi penduduk kita. Tahun
1971, hanya 6% rumah tangga di Indonesia menggunakan listrik untuk
penerangan rumahnya. Tahun 1990 angka itu melejit menjadi 47%. Hebat, bukan?
Sebaliknya penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk penerangan, turun
dari 93% di tahun 1971 tinggal 45% tahun 1990. Sambungan ledeng juga demikian.
Dulu, tahun 1971, baru 6,3% penduduk minum air ledeng. Tahun 1990, angka itu
meningkat menjadi 13,0%. Hanya dalam pemakaian kayu bakar yang masih
memprihatinkan. Tahun 1971, yang menggunakan kayu bakar untuk masak ada
sebanyak 87% di antara rumah tangga di Indonesia, tahun 1990 turun, tetapi
masih pada angka yang bisa mengkhawatirkan banyak orang. Yaitu 71%.

Memang, mungkin orang masih ingin tahu misteri di balik angka ini. Tetapi
statistik itu sungguh bisa melipur lara kita. Siapa pun yang jujur akan
mengakui. Ada kemajuan yang dicapai pembangunan kita, sebagaimana
dicerminkan oleh hasil sensus 1990. "Perubahan itu tidak turun dari langit
begitu saja," nasihat Bapak Presiden kepada pembantunya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data