Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. //30 November - 06 Desember 1991
   
Kolom

Penurunan jalan tol: tak memperhatikan kekuatan tanah

Menarik juga cerita di Rubrik Ilmu & Teknologi TEMPO 2 November tentang
amblasnya Jalan Tol Padalarang-Cileunyi dan Jalan Tol Cengkareng-Jakarta.
Amblas dengan angka yang demikian tinggi memang sangat menakjubkan. Para ahli
yang diwawancarai mengatakan bahwa kesalahannya bukan terletak pada
konstruksi. Fondasinya sudah dibangun sesuai dengan persyaratan, begitu
katanya.

Untuk itu, saya ingin memberi beberapa tanggapan.

1. Para perencana jalan seyogianya lebih memperhatikan daya dukung tanah asli
sebelum memulai pembangunan jalan, terutama untuk daerah rawan amblas. Fondasi
dan konstruksi jalan, yang katanya bagus, tidak akan berarti bila kekuatan
tanah penyangga luput dari perhatian.

2. Penurunan badan jalan akan terjadi bila tegangan yang disebabkan beban
konstruksi dan kendaraan telah melebihi grensspaning (tegangan batas) dari
tanah penyangga. Karena itu, salah satu cara untuk menghindari amblasnya jalan
adalah dengan menggunakan bahan konstruksi yang ringan, misalnya beton ringan
atau menggunakan polystyren. Pemakaian bahan beton (termasuk konstruksi cakar
ayam) pada tanah lembek mempunyai beberapa kerugian: selain bahannya cukup
berat, juga beton adalah bahan yang tak dapat menahan tegangan tarik yang
disebabkan perbedaan penurunan. Ini menyebabkan timbulnya retak-retak dan
patahan.

3. Cara lain adalah dengan mempercepat proses konsolidasi (pemadatan) sebelum
konstruksi jalan dibangun. Hingga, pada saat pengoperasian, badan jalan tidak
akan turun lagi.

4. Atau, membangun tiang pancang sedalam 30 meter sebagaimana yang
ditunjukkan dalam TEMPO itu. Ini bisa dilakukan bila caracara lain sudah
dianggap tidak berhasil.

5. Penjelasan tentang proses konsolidasi (pemadatan) dalam TEMPO itu kurang
menyentuh. Proses konsolidasi hampir tidak ada hubungan dengan butir-butir
tanah yang rontok akibat tekanan dari badan jalan dan kendaraan. Proses
konsolidasi bermula dari naiknya groundwateroverspaning (kelebihan tegangan
air) akibat beban di atasnya (badan jalan dan kendaraan). Wateroverspaning
menurun perlahan-lahan, sedangkan korrelspanning (tegangan korrel) menaik.
Kenaikan korrelspanning itulah yang mengakibatkan penurunan.

6.Kabarnya, PT Jasa Marga akan mengeluarkan Rp 380 juta untuk penambalan
jalan tol di Jawa Barat itu. Tampaknya, PT Jasa Marga sudah harus menghitung
untuk pengeluaran berikutnya. Soalnya, setelah penambalan itu, hampir dapat
dipastikan, jalannya akan amblas lagi. Maklumlah, penambalan akan
engakibatkan naiknya korrelspaning. Dan ini akan terjadi berulang-ulang dan
menjadi riwayat jalan itu.

SAWARENDRO Mhs. Civiele Techniek Technische Universiteit Delft Nederland


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data