Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. //19 - 25 Oktober 1991
   
Ekonomi dan Bisnis

Setelah tujuh tahun

Sekitar 465 ribu hektare sawah menderita kekeringan dan 111 ribu hektare dinyatakan puso. bulog akan mengimpor beras agar kestabilan harga tidak terganggu.

Bulog siap mengimpor beras. "Tidak perlu malu," kata Kabulog Bustanil
Arifin. Ada 465 ribu hektare sawah kering dan banyak yang puso.

KEMARAU yang panjang telah membuat segalanya kacau dan kerontang. Pemenuhan
kebutuhan beras dalam negeri ternyata meleset dari sasaran. Dengan berat hati,
Pemerintah terpaksa mengimpor beras, satu hal yang tak pernah dilakukan selama
tujuh tahun terakhir ini.

Berapa ton beras akan diimpor, sebegitu jauh masih dirahasiakan. "Kalau
diumumkan sekarang, nanti harga beras dunia malah naik," ujar Kabulog (Kepala
Badan Urusan Logistik) Bustanil Arifin.

Target peningkatan produksi beras rata-rata 3,2% per tahun sepanjang Pelita V
dengan sendirinya juga tak tercapai. Tahun lalu peningkatan itu hanya 1%.
Dalam menghadapi kemarau yang diperkirakan akan berlanjut sampai tahun depan,
Pemerintah memutuskan untuk menggenjot kenaikan produksi beras sampai 4,25%.
Dari sini diperoleh kesan bahwa sesudah "gagal" selama dua tahun pertama
dalam Pelita V ini, barulah ada kebulatan tekad untuk mencari jalan keluar.
Mungkinkah?

Masalahnya, ratusan ribu hektare sawah tak bisa segera ditanami karena
tanahnya kerontang terpecah-pecah. Air tak ada sama sekali. Kondisinya sungguh
mengkhawatirkan. Tak kurang dari 465 ribu hektare sawah di enam provinsi
penghasil beras menderita kekeringan. Bahkan, 111 ribu hektare dinyatakan
puso. Tidak syak lagi, inilah musibah kekeringan terbesar sepanjang sembilan
tahun terakhir.

Jawa Barat adalah provinsi yang paling parah dihajar kekeringan. Di sini
sawah yang retak-retak mencapai 218 ribu hektare. Setelah itu, menyusul Jawa
Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan NTB. Total, luas
kekeringan meliputi sekitar 3,4% dari total luas sawah di Indonesia yang 13,5
juta hektare.

Kendati baru 3,4%, dampaknya sudah terasa di mana-mana. Dolog Ja-Bar,
misalnya, kini hanya menguasai cadangan beras 174 ribu ton. Menurut Kepala
Dolog Ja-Bar, Erfansyah Hasan, cadangan itu hanya cukup untuk memenuhi
distribusi rutin selama sembilan bulan. Untuk mengamankan pasar (agar harga
tidak naik), dibutuhkan beras tambahan, sedikitnya 40 ribu ton.

Selain "mengamankan pasar", Dolog juga wajib memberikan bantuan cuma-cuma
pada daerah-daerah, yang karena kekeringan, masyarakatnya tak lagi mempunyai
daya beli. Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Pemerintah telah membagikan lebih
dari lima ton beras gratis kepada 574 keluarga di lima kecamatan.

Bukan tak mungkin, bantuan cuma-cuma seperti itu juga harus diulurkan ke
berbagai provinsi lain. Di Jawa Barat, Erfansyah memperkirakan akan ada yang
membutuhkan beras gratis. "Saya kira, bulan November dan Desember mendatang
bantuan cuma-cuma tersebut akan sangat dibutuhkan," katanya dalam dengar
pendapat dengan Komisi C DPRD Ja-Bar.

Menghayati penderitaan petani yang begitu berat, Pemerintah pekan silam
memutuskan menaikkan harga gabah per Januari 1992. Gabah kering, yang selama
ini harganya Rp 295 per kilo, dinaikkan menjadi Rp 330. Harga jual dari KUD ke
Bulog dinaikkan Rp 5 menjadi Rp 346 sekilo.

Sampai di mana kenaikan itu bisa menambah pendapatan petani? Inilah yang
perlu dihitung. Soalnya, bukan hanya harga jual gabah yang naik, tetapi harga
pupuk urea dan non-nitrogen pun masing-masing dinaikkan Rp 10 dan Rp 20 setiap
kilonya.

Sementara itu, impor beras hanyalah soal waktu. Bustanil memastikan bahwa,
bila impor tidak dilakukan, kestabilan harga akan terganggu. Yang pasti, Bulog
membutuhkan beras lebih banyak untuk operasi pasar. "Tak perlu malu melakukan
impor."

Benar, persediaan beras Bulog kini masih sekitar 800.000 ton. Namun, Kabulog
tampaknya tidak mau ambil risiko. Dalam kata lain, jika sampai harga beras
membubung tinggi, sementara cadangan di gudang menipis, dampak sosial
politiknya bisa sangat rawan. Inilah yang akan dihindari. Budi Kusumah dan
Siti Nurbaiti


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data