Menunggu tim keppres 39
menunggu tim keppres Fungsi tim keppres 39/1991 tentang pengaturan proyek besar dipertanyakan
pada rapat kerja dengan dpr. salah satu proyek pertamina, kilang lng train f
bontang diresmikan. |
Kilang LNG Train F diresmikan di Bontang. Inilah satu dari proyek besar
Pertamina yang boleh jalan terus.
PENJELASAN Menteri Keuangan J.B. Sumarlin pada rapat kerja dengan Komisi APBN
DPR selalu tak boleh dilewatkan. Termasuk yang dilangsungkan pada 4-9 Oktober
ini. Dalam tanya jawab, persoalan yang diangkat tidak hanya menyangkut
pendahuluan RAPBN 1992/1993. Juga dibicarakan pemasukan modal lewat pinjaman
komersial luar negeri swasta, dan beban cicilannya yang sangat berpengaruh
pada transaksi berjalan.
Sampai di sini, eksistensi dan fungsi Tim Kepres 39/1991 mau tak mau harus
disinggung juga. Tim ini diketuai Menko Ekuin Radius Prawiro, dengan tugas
utama melakukan penjadwalan proyek-proyek besar yang banyak mengandalkan
offshore loan itu.
Tak heran bila anggota DPR menanyakan hal-hal tersebut. Mereka misalnya ingin
tahu sudah sejauh mana langkah tim mengatur proyek-proyek berskala besar itu.
"Saat ini tim sedang bekerja untuk menetapkan urutan prioritas proyek-proyek
yang akan dilaksanakan dalam tahun 1991/1992 dan 1992/1993," demikian jawab
Sumarlin.
Menarik untuk disimak, sementara tim itu sibuk mengatur proyek mana yang
diprioritaskan dan mana yang harus antre, di tempat lain terselenggara pesta
peresmian salah satu proyek itu. Jumat pekan silam, kilang LNG Train F
diresmikan oleh Direktur Utama Pertamina Faisal Abda'oe di Bontang.
Jumat malam itu juga, di Grand Ball Room Mandarin Hotel dilangsungkan pesta
koktail untuk proyek yang sama. Bertindak sebagai pengundang adalah PT Inti
Karya Persada Teknik ( kontraktor utama), Chiyoda Corporation dan Mitsubishi
Corporation (keduanya subkontraktor).
Nilai Train F Bontang US$ 750 juta. Untuk ini, Pertamina sudah menandatangani
perjanjian pinjaman (yang sindikasinya dipimpin Chase Manhattan Bank) pada 26
Agustus lalu. Bunganya 1,75% di atas Libor. Train F Bontang hanya salah satu
dari 12 proyek Pertamina, yang seluruhnya akan menelan investasi US$ 37,4
milyar (sekitar Rp 73,5 trilyun) dan pendanaannya sudah disetujui oleh Menko
Ekuin Radius Prawiro.
Tiga proyek Pertamina lainnya ialah Exor I (US$ 2,7 milyar), peningkatan
Kilang Musi (US$ 324,3 juta), dan Pusat Aromatik Arun II (US$ 1,26 milyar).
Sebelum peresmian di Bontang, Pertamina telah pula bersepakat dengan Prajogo
Pangestu dari Barito Pacific Timber, untuk mendirikan proyek residual
catalytic cracking (RCC) di Cilacap. Menurut Bisnis Indonesia, proyek senilai
Rp 4,7 trilyun itu akan dibiayai oleh konsorsium 28 bank asing dengan Chase
Manhattan dan Mitsubishi Bank Ltd. yang bertindak sebagai koordinator.
Sejauh ini terkesan bahwa Tim Keppres 39 bekerja lamban, sementara pengusaha
berlomba-lomba. Nah, apa saja kendala yang dihadapi Tim Keppres 39 sehingga
penjadwalan proyek besar itu tertunda?
Seperti diketahui, ke-12 proyek Pertamina dan sejumlah lainnya (termasuk yang
belum disetujui) memerlukan investasi sekitar US$ 80 milyar. Dana ini hanya
bisa diperoleh dari bank komersial karena di luar kerangka IGGI. Pemerintah
harus waspada karena offshore loan bisa menimbulkan tekanan pada neraca
pembayaran.
Tahun ini defisit transaksi berjalan bisa mencapai US$ 6 milyar. Angka
defisit yang lebih kecil dari Bank Dunia (US$ 4,2 milyar) tak lain karena
diperkirakan bahwa semua proyek raksasa akan ditunda. Apakah defisit itu akan
menjadi US$ 6 milyar atau US$ 4 milyar, yang pasti pendanaan nonrecourse
tidaklah sepenuhnya bebas risiko. Dan kreditor luar negeri juga tidak akan
mencairkannya bila bank pemerintah tidak ikut dilibatkan. Itulah masalahnya.
MC dan Iwan Qodar
|