Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. //05 - 11 Oktober 1991
   
Ilmu dan Teknologi

Produk lokal yang ketinggalan

Itb menggelar simposium dan pameran teknologi mi- liter. diprakarsai oleh batalyon i menwa mahawar- man itb. pameran masih dimonopoli produk-produk impor. produksi lokal masih ketinggalan.

Untuk pertama kalinya ada pameran teknologi militer di ITB. Produk senjata lokal masih belum menandingi rudal impor.

DUA buah panser, dua tank amfibi, dan satu helikopter bercat hijau tampak nongkrong di pelataran kampus ITB, pekan lalu. Sejumlah petugas berseragam --hijau, biru langit, abu-abu, dan cokelat -- lalu lalang di antara mahasiswa. Kampus ITB bergolak? Tidak. Justru ITB sedang punya gawe: menggelar simposium dan pameran teknologi militer.

Perhelatan langka ini diprakarsai oleh Batalyon I Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman ITB. Rektor Prof. Wiranto Arismunandar menyambutnya dengan antusias. "ITB harus akrab dengan Pemerintah, termasuk ABRI," ujarnya. Selain itu, dia berharap, teknologi militer yang selama ini dianggap tertutup bisa lebih terkuak dan dimengerti para mahasiswa.

Hampir 400 orang, sipil dan ABRI, mengikuti simposium di Aula Barat ITB yang berakustik apik itu. Mereka membahas belasan makalah, termasuk sambutan Pangab Jenderal Try Sutrisno. Sedangkan pamerannya berlangsung di Gedung Serba Guna ITB dan pelataran parkir di belakangnya. Selama lima hari dibuka, ribuan mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus berduyun-duyun mengunjunginya.

Primadona ruang pameran memang masih dimonopoli produk-produk impor: rudal Sidewinder Aim-9 buatan Amerika Exocet, rudal antikapal asal Prancis Rapier, rudal antipesawat tempur buatan Inggris dan torpedo antikapal selam berpelacak sonar buatan Amerika MK-44. Keempat angkatan dalam ABRI itu memajang perkakas mutakhirnya yang mereka punyai.

Divisi sistem senjata IPTN Bandung merupakan salah satu wakil yang memajang produksi lokal. Di stan IPTN itu ada roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket)yang dirakit berdasarkan lisensi Belgia. Roket rakitan IPTN ini telah dioperasikan di heli tempur TNI AU seperti Puma, NBO-105, atau pesawat OV10 Bronco.

Roket FFAR ini panjangnya sekitar 1 meter, dengan diameter 7 cm, dan berat 11-12 kg. Hulu ledaknya baja sekitar 3,5 kg, yang diisi bahan peledak TNT sekitar 0,5 kg. "Tank baja setebal 4 cm bisa tembus, asalkan kena persis 90 derajat," kata seorang staf peneliti roket itu. IPTN membuat FFAR itu sejak 1983-84.

Belakangan, IPTN punya program memodifikasi roket Belgia itu. Maka, lahirlah prototip roket seri NPU Mod-1 serta NPU Mod-2, yang rancang bangunnya ikut dipamerkan di ITB. Ada sejumlah perubahan. Bahan bakar FFAR itu diganti dengan poli-uretan. NPU sendiri merupakan singkatan dari Nusantara Poli-Uretan.

Yang hendak dicapai dari proyek ini ialah peningkatan daya jelajah roket. Pada FFAR aslinya, kalau dioperasikan ground to ground, jarak tembaknya hanya 7 km. Dengan modifikasi pada propelan dan bentuk nozzle di pantatnya, seperti dilakukan pada NPU Mod-1, daya jelajah roket itu diharapkan bisa mencapai 9 km. Namun, itu baru perhitungan di atas kertas. Uji coba di lapangan belum dilakukan.

Proyek persenjataan IPTN itu bermula dari program TNI AU yang mulai merakit roket Sura dari Swiss pada 1976. Pada awal 1980-an, program itu masuk ke IPTN. Tapi pengalaman sepanjang 15 tahun belum cukup untuk membuat IPTN mampu membuat roket-roket berpengendali. Pemasangan sensor inframerah, laser, radar, dan sonar tampaknya masih jauh dari jangkauan proyek IPTN.

Produksi lokal juga dipajang di stan PT Pindad Bandung. Perusahaan yang bernaung di bawah TNI AD itu memamerkan senapan serbunya, SS-1 varian 1 dan varian 2. Senapan infanteri ini merupakan modifikasi jenis FNC, buatan Belgia. "Semua komponen telah diproduksi di Bandung," kata Dadang Koswara, staf teknik di Pindad. Tapi bajanya masih harus diimpor.

SS-1 Varian 1 punya laras panjang, 45 cm. Pada varian 2 hanya 36 cm. Namun, keduanya telah disesuaikan dengan ciri fisik prajurit TNI. Popor lipatnya dibuat lebih pendek, pelindung tangannya lebih ramping, dan grip (pegangan tangan di belakang pemicu) lebih kecil. Kedua jenis senapan serbu otomatis itu punya jarak tembak efektif 400 meter, dan kini telah dipakai oleh banyak batalyon tempur TNI.

Dengan berbasis pada rancangan SS-1 itu, Pindad membuat pula senapan semiotomatis SPR-2 yang cocok dipakai oleh penembak runduk (sniper). SPR-2 ini dilengkapi pula dengan teropong. Berat SPR-2 ini cuma 5 kg. Dengan memperkuat bagian larasnya, Pindad membuat senapan otomatis SO-1, yang bisa dipakai memberondongkan berpuluh-puluh peluru, mirip metraliur, dan memodifikasi SS-1 menjadi bullpup, senapan pendek antiteroris.

Produk lokal lain yang dipamerkan adalah panser A. Yani, buatan Bengkel Pusat Peralatan (Bengpuspal) TNI AD. Panser ini dibikin di atas chasis truk Acinat buatan Prancis, mesin merek Parkin, juga dari Prancis. Di kanan kiri panser itu terpasang pengeras suara. "Selain untuk operasi militer, panser ini juga untuk mengatasi huru-hara," kata Letnan Kolonel Sukandar, dari Bengpuspal TNI AD, Bandung. Panser ini baru dibikin empat buah, selesai 1989, dan telah dioperasikan di Timor Timur.

Putut Trihusodo dan Achmad Taufik


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data