Secangkir kafein buat stroke Peneliti dari bag.bedah saraf universitas manitoba membuktikan kafein yang
terdapat pada kopi atau teh bisa mencegah kerusakan otak akibat stroke. dalam
dosis rendah bisa menimbulkan susah tidur. |
Zat yang dikandung dalam kopi, teh, dan minuman cola mencegah kerusakan otak
akibat stroke. Tapi yang buruk juga banyak.
MISALKAN Anda merasa segar setelah meneguk secangkir kopi atau teh, itu tak
lain karena proses kerja kafein. Kafein, zat yang terkandung dalam kopi, teh,
dan minuman cola, merupakan penyegar yang mampu merangsang kerja sistem saraf
pusat.
Di Kanada, sekelompok peneliti dari Bagian Bedah Saraf Universitas Manitoba
membuktikan bahwa kafein memang bisa mencegah kerusakan otak akibat stroke.
Penelitian tersebut sudah berlangsung satu setengah tahun, dan kini terus
berjalan. "Penelitian ini masih diteruskan untuk melihat hasil prosesnya
lebih lanjut," kata John Saunders dari universitas itu kepada Reuters pekan
lalu.
Hasil penelitian yang sudah dilakukan membuktikan, pemberian kafein lewat
injeksi secara teratur terhadap tikus-tikus yang dijadikan binatang percobaan
ternyata dapat menghindarkan dari kerusakan otak, akibat serangan stroke. Ini
karena kafein yang diserap reseptor, yang juga menangkap adenosin.
Adenosin adalah produk olahan glukosa dan oksigen yang menjadi motor
penggerak otak. Sedangkan stroke terjadi karena si penderita mengalami
kekurangan glukosa dan oksigen di otaknya. Dan dalam percobaan yang dilakukan
terhadap tikus itu, reseptor adenosin monofospat (AMP) menjadi lebih tanggap
karena pengaruh kafein.
Dengan demikian, adenosin seterusnya menjadi faktor pencegah pelebaran daerah
yang rusak (atau mati) ketika diserang stroke. Jadi, kafein menstimulasi, dan
secara teratur menjaga kelancaran darah ke otak. Lebih jauh, kata Dr. Garnette
R. Sutherland dari tim peneliti tadi kepada TEMPO, otak tikus yang lukanya
sembuh sehabis dioperasi itu bisa berfungsi seperti sediakala, setelah
diinjeksikan kafein pada sisi pembuluh darahnya.
Selama ini orang yang kena stroke memang bisa mengalami akibat fatal.
Pendarahan yang timbul pada otaknya kemudian berlanjut dengan kelumpuhan
separuh tubuhnya. Ia bahkan bisa kehilangan kemampuan bicara, dan tak mustahil
lenyapnya daya ingat, sampai si penderita tak sanggup mengenali sanak
saudaranya. Pangkal kejadiannya adalah ketika ada pembuluh darah di otak yang
pecah. Atau kemudian muncul gangguan aliran darah ke otak secara dramatik,
misalnya karena serangan jantung. Akibatnya, otak mula-mula mengalami
kekurangan oksigen. Defisit zat asam ini selanjutnya merambat dan mematikan
sejumlah sel otak. Dan kalau sel-sel otak ini mati, akan berakibat permanen --
tidak seperti pada jaringan lain yang senantiasa bisa pulih kembali.
Sedangkan stroke terjadi bila memang ada faktor pencetusnya. Selama ini yang
diketahui ada sepuluh faktor risiko serangan stroke. Tetapi, menurut Dr. Marli
Mardiono, neurolog dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, faktor risiko yang
utama ada tiga. Yaitu, hipertensi yang lama (high renin), diabetes melitus
yang tak terkontrol, dan dislipidemia (kolesterol tinggi).
Di antara ketiganya itu, tekanan darah menurun, atau tiba-tiba meninggi,
merupakan risiko utama. "Dengan demikian, penderita stroke karena faktor
risiko tekanan darah tinggi, misalnya, tentu tidak dianjurkan minum kopi,"
kata Dr. Marli Mardiono kepada Susilawati Suryana dari TEMPO.
Sebaliknya, menurut staf pengajar di FK Universitas Indonesia ini, beberapa
penderita tekanan darah tinggi bisa saja dianjurkan oleh dokter untuk minum
kopi dengan dosis tertentu. Misalnya, orang dengan tensi 200/110 yang dalam
keadaan tidur tekanan darahnya menjadi 140/90, sehingga darah yang dialirkan
ke sel otak berkurang, maka ia boleh minum kopi sebelum tidur. "Di sini kopi
berfungsi membantu mengaktifkan sel otaknya," kata Marli.
Tampaknya kafein dalam jumlah minimal tidak berakibat apa-apa terhadap tubuh.
Zat ini malah bisa menimbulkan rasa optimisme pada si peminum. Diperkirakan,
50 miligram kafein yang terdapat dalam secangkir kopi yang tiap hari diminum
tidak berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Marli juga menyebutkan, kafein
dalam dosis tertentu bahkan dapat mencegah penumbra mati.
Pada saat terjadi serangan, daerah berbentuk kerucut di pusat serangan atau
infark sentral dalam waktu tiga menit akan mati. Kalau di daerah tersebut ada
pusat bicara, atau pusat gerak, akibatnya bisa terjadi kebisuan serta
kelumpuhan. Seandainya tidak segera diobati, maka dalam tempo lima hari daerah
yang mati itu bakal merayap sampai ke peri-infark (daerah pinggir) yang
luasnya bisa 5 atau 6 kali infark sentral. Daerah inilah yang disebut
penumbra.
Penelitian di Kanada itu baru dilakukan pada tikus. Lalu Dr. Marli Mardiono
mengingatkan, bila kafein digunakan secara klinis terhadap manusia, diperlukan
pertimbangan khusus dengan melihat faktor risiko dan pencetus stroke itu
sendiri.
Apalagi pengaruh kafein itu juga dapat dilihat dari penelitian yang pernah
dilakukan di Indonesia. Berdasar hasil penelitian yang dilakukan Dr. Deddy
Muchtadi dari IPB pada 1987, zat ini malahan bisa mengakibatkan efek
macam-macam. Zat yang gampang diserap darah ini (lebih dari 99% yang
dikonsumsi tubuh) justru dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh,
termasuk ke otak.
Sebut saja kalau diminum dalam dosis rendah, efek negatif yang paling
menonjol yang ditimbulkan kafein yaitu susah tidur. Dan pengaruh kafein
berdosis lebih tinggi antara lain menimbulkan rasa gelisah, kemudian
merangsang pernapasan, dan mempengaruhi kerja jantung.
Sebaliknya, walaupun mudah diserap, kafein sulit dikeluarkan dari dalam
tubuh. Lebih dari 98 persen kafein yang sampai ke ginjal justru diserap
kembali oleh darah. Dan terutama pada bayi, kafein sulit dimetabolisasi.
Karena mempengaruhi sistem saraf pusat (pada anak-anak lebih sensitif), minum
kafein malah bisa berakibat buruk terhadap perkembangan kecerdasannya.
Rustam F. Mandayun dan Toeti Kakiailatu (Kanada)
|