Bapak abri, kulo nunut Pabrik pengepakan pt maju jaya mas sejati digebrek polisi. dalam pabrik
tersebut ditemukan 11 anak berusia 12-14 th. yang dipekerjakan tanpa gaji.
kini bosnya mulyadi, diringkus dan diperiksa. |
Polisi menggerebek sebuah pabrik pengepakan. Di situ ditemukan 11 anak
berusia 12-14 tahun yang disekap bekerja tanpa gaji bertahun-tahun.
IBU mana yang tak cemas jika anaknya raib begitu saja. Begitu pula Tarsilah.
Sudah dua setengah tahun putrinya, Warsinah, 14 tahun, bekerja di Jakarta.
Konon, di sebuah pabrik pengepakan. Tapi jangankan pulang ke kampungnya di
Dusun Karang Kedawung, Purbalingga, Jawa Tengah, kabar beritanya pun tak
datang.
Setelah menyelidik ke mana-mana, akhirnya ditemani orang sekampungnya, Kopral
Satu Satrio, Sabtu malam dua pekan lalu, Tarsilah mendatangi pabrik pengepakan
PT Maju Jaya Mas Sejati, di Jalan Kamal Muara II Penjaringan, Jakarta Utara.
Di pintu gerbang, mereka dihadang seorang centeng pabrik. Sempat terjadi
ketegangan. Untunglah, tak terjadi bentrok fisik. Sesampainya di dalam, Satrio
masih dihalang-halangi seorang petugas pabrik. Mereka tetap bersikeras.
Tarsilah, yang tak sabaran lagi, berteriak memanggil anaknya. "Warsinah ...
Warsinah ....," teriak ibu lima anak itu.
Dari ruangan lain terdengar sahutan. "Mboke, aku isih nang kene (Ibu saya
masih ada di sini)." Satrio bergegas berlari mendatangi sumber suara itu.
Tapi ia terhalang pintu terkunci. Tak ada jalan lain anggota Batalyon Kavaleri
IX Tangerang itu mendobrak pintu kamar berukuran 4 X 6 meter. Masya Allah, di
dalam ruangan itu tampak berjubel 11 anak berusia 12-14 tahun dengan tampang
memelas. Sementara Warsinah nangkring di atas lemari pakaian.
Warsinah turun dan langsung mendekap ibunya. Mengharukan. Sepuluh anak
lainnya menghambur keluar ruangan sambil menangis. Mereka ramai-ramai
mengganduli tubuh Satrio. "Bapak ABRI kulo nunut. Mboten betah teng mriki
(Bapak ABRI saya ikut, tak betah di sini)," rengek mereka. Satrio membawa
mereka keluar pabrik bersama Tarsinah. Para petugas pabrik hanya mampu melihat
adegan tersebut tanpa melakukan apa-apa.
Satrio kemudian menyerahkan anak-anak itu ke Polsek Penjaringan. Tapi,
lagi-lagi anak-anak itu menangis sambil berkata, "Bapak ABRI, kulo nunut
...." Karena sudah lelah, Satrio, yang mengaku merasa trenyuh, kemudian
membawa anak-anak itu ke rumah kontrakannya.
Besoknya, kata Satrio, dia kaget ketika mengetahui bos pabrik itu melapor
pada Satuan Komando Garnisun (Skogar) Jakarta. Satrio dituduh melakukan
penculikan. Pada hari itu juga Satrio membawa anak-anak tadi bersama pengacara
Nursinggih menghadap Danyon IX Tangerang. Ternyata, pimpinan Satrio sudah tahu
masalah sebenarnya. Bersama-sama mereka berangkat ke Kodim Jakarta Utara
menyelesaikan masalah tersebut.
Tuduhan pun berbalik ke si pemilik pabrik pengepakan tersebut. Rabu pekan
lalu polisi menggerebek pabrik di Penjaringan itu dan meringkus bosnya,
Mulyadi. Malam itu juga polisi menyegel pabrik itu.
Sampai pekan ini anak-anak korban sekapan dan kerja paksa itu masih tinggal
di rumah Nursinggih. Kondisi mereka tampak lemah dan pucat. Sebagian besar
tubuh mereka kurus dan nampak kekurangan gizi. "Ini sudah mendingan, kalau
melihat pertama kali wah ngenes," kata Nursinggih.
Seperti juga Warsinah, ke-10 anak lainnya juga datang dari berbagai pelosok
desa di Jawa Tengah. Mereka tergiur bekerja di Jakarta karena dibujuk calo
tenaga kerja. "Saya dijanjikan kerja di Jakarta. Katanya enak," ujar
Warsinah.
Rekan sedesanya Karti, 13 tahun, menyusul. Sedangkan Tugini, 12 tahun,
dibujuk calo sekitar empat bulan lalu. Mereka akhirnya sama-sama terdampar di
pabrik tersebut. Delapan teman lain mereka direkrut oleh Yayasan Pancaran
Asih, Jakarta, sebelum dipekerjakan di situ.
Tarsilah sebenarnya tak menyetujui anaknya "hijrah" ke Jakarta. "Tapi dia
sudah terbawa arus. Kami hanya bisa menangis saat Warsinah pergi," kata
keluarga petani pembuat gula merah itu pada wartawan TEMPO Sri Wahyuni.
Pabrik pengepakan tempat anak-anak itu bekerja sehari-hari kelihatan sepi.
Gedung yang tampak tak terawat itu dikelilingi tembok setinggi empat meter
plus kawat berduri di atasnya. Setiap tamu harus melewati gerbang besi
setinggi 4 meter.
Di ruang beratap seng itulah, Warsinah dan kawan-kawannya selama
berbulan-bulan disekap oleh majikannya. "Untung, kami masih bisa mendengar
radio," kata Warsinah. Kalau mereka sakit, katanya, juragan mereka membawa ke
dokter. Tapi jangan harap bisa lama-lama. "Saya sakit dua hari, sama Nyonya
sempat ditampar sampai pipi saya bengkak. Sakit kok nggak sembuh-sembuh,
bentak Nyonya," cerita Misnah, yang sudah 10 bulan kerja di pabrik itu.
Tugas mereka setiap hari mengelem kardus-kardus untuk dijadikan kotak. Selama
bekerja mereka tak pernah menikmati gaji, jam kerjanya juga tak jelas. Masuk
pukul 8 pagi selesai pukul 9 malam. Tapi sering juga sampai pukul satu malam,
kalau pesanan banyak. "Malah salat lima waktu tak diperbolehkan," kata
Warsinah.
Mereka mengaku tidur berdesakan di lantai ubin beralas koran. Di kamar
tersebut hanya tersedia satu balai-balai untuk satu orang. Tak ada jendela,
hanya lubang angin biasa. Mereka makan sehari tiga kali. "Tapi, lauknya sayur
kacang dan ikan asin terus," cerita mereka.
Abeng, lelaki bertubuh sedang yang selama ini menjadi "tangan kanan"
Mulyadi, mengaku tak tahu tentang perlakuan majikannya pada anak-anak
tersebut. "Mereka ada di dalam terus, sedang saya tugas di luar," katanya.
Mulyadi ketika ditemui di Polres Jakarta Utara tetap membungkam. Lelaki itu
selalu mengacungkan jarinya ke arah polisi. Maksudnya supaya TEMPO menanyakan
saja kepada polisi. "Kami masih terus mengadakan pemeriksaan. Arahnya memang
tindak perampasan kemerdekaan," kata Kasatserse Polres Jakarta Utara Mayor
Didi Suwardi.
Gatot Triyanto, Nunik Iswardhani
|