Hobi yang datang pada satu tingkat Di jakarta dan beberapa kota besar dilanda demam mobil tamiya. muncul
berbagai arena sirkuit tamiya seperti di opi kids tamiya center. mobil tamiya
di pasok pt modern indocintra. |
Hobi yang Datang pada Satu Tingkat Kemapanan
Merakit dan memperlombakan mobil Tamiya tumbuh sebagai hobi baru di kalangan
orang-orang berduit. Selain menguras uang, hobi itu bisa lebih mengakrabkan
hubungan ayah dan anak.
READY, get-set, go! Dan melesatlah tiga mobil balap mungil itu memutari track
sepanjang 30 meter. Diiringi tepuk tangan dan jeritan tinggi dari ratusan
orang yang mengerumuni sirkuit mini, tiga mobil Tamiya tampak meliuk-liuk,
saling menyalip. "Ayo, sikat terus ... !" teriak seorang penonton, sambil
mengepalkan tinjunya. Halaman town house Pantai Mutiara Jakarta itu pun, Ahad
pekan lalu berubah menjadi arena balap yang sesak penonton.
Hari itu, tak kurang dari 600 Tamiya ikut berlaga, memperebutkan berbagai
hadiah sponsor yang disediakan panitia. Jumlah mobil sebanyak itu tak
sekaligus diluncurkan. Setiap pertandingan, hanya diikuti tiga mobil, sesuai
dengan jumlah lintasan di sirkuit, yang di Pantai Mutiara panjangnya mencapai
30 meter.
Aturan lomba sederhana: setiap mobil harus menempuh tiga kali putaran.
Melihat kondisi jalan dalam sirkuit plastik itu agaknya tak setiap mobil bisa
mulus menyelesaikan tiga putaran. Track yang melingkar-lingkar dilengkapi 10
hambatan, berupa tikungan maut, tanjakan tajam, jalan yang mendaki dan jalan
layang. Bila tak cermat mengatur kecepatan, bisa-bisa mobil langsung terguling
pada tikungan pertama.
Pada pertandingan hari itu, dari 600 lebih peserta hanya sebelas mobil yang
berhasil masuk finis. Yang lain umumnya gugur pada tingkat awal. "Penyebab
kecelakaan biasanya kurang cermatnya peserta merakit mobil," tutur seorang
panitia. Memang pada kiat merakit itulah, letak keasyikan permainan ini.
Penggemar yang kreatif dalam merakit, mobilnya pasti stabil dan mampu melesat
kencang. Tapi kecanggihan seperti itu menuntut biaya tinggi. Dari sini juga
langsung terbukti, betapa mahalnya mainan Tamiya.
Untuk bisa merakit, misalnya, diperlukan berbagai aksesori yang lumayan
mahal. Padahal, harga Tamiya dalam bentuk kit (belum utuh terpasang) hanya
sekitar Rp 15 ribu. Tapi, tanpa ditambah komponen lain, mustahil mobil bisa
berlaga di arena sirkuit. Soalnya, rancangan mobil yang asli, tak memungkinkan
benda itu lari kencang.
Mesin Tamiya adalah dinamo, digerakkan dua baterai kecil (UM 3, 1,5 volt).
Agar mampu meluncur kencang dan tak terpental di sirkuit, masih diperlukan
komponen tambahan yang harganya justru lebih mahal. Satu set ball bearing
untuk memacu putaran as roda misalnya, berharga di atas Rp 15 ribu. Agar mobil
tak gampang terpental di saat belok dan jumping, diperlukan balance weight
yang harganya sekitar Rp 5 ribu. Belum lagi antena, setup roller, bemper, dan
lain-lain, yang harganya pun mahal. "Untuk beli aksesori saja, saya habis Rp
100 ribu lebih," tutur Nyonya Deasy.
Celakanya, aksesori itu begitu rapuh. Tersenggol sedikit saja sudah harus
ganti baru. Nah, komponen pengganti mudah dicari di supermarket yang
menyediakan sirkuit. Dari ketergantungan seperti inilah, produsen Tamiya
mencetak untung besar.
Supermarket di Jakarta seperti Blok M Plaza, Golden Truly, Krekot Center,
Sogo menyediakan arena sirkuit Tamiya. Mereka pun sering mengadakan turnamen
dengan hadiah menarik, antara lain TV, video, Tabanas, dan lain-lain. Yang
getol menseponsori ini adalah perusahaan baterai ABC dan importir Tamiya.
Peserta membludak, karena tak dipungut bayaran. Syarat pendaftarannya cukup
dengan menyerahkan sejumlah bungkus kosong baterai -Alkaline.
Selain di Jakarta, demam mobil Tamiya juga melanda beberapa kota besar di
Indonesia. Terutama pada hari Minggu, sirkuit Tamiya ramai diserbu penggemar
mobil balap mainan yang mini itu. Pekan lalu, di Plaza Indonesia, Jakarta,
para 'pembalap' sampai antre. Ternyata, sebagian pembalap berasal dari Bogor.
Opi Kids Tamiya Center yang berada di pertokoan Krekot Center, Jakarta, tak
kalah ramai. Tempat ini menyediakan 7 sirkuit, dan tergolong paling besar di
Jakarta. Menurut Direktris Opi Kids, Linda Wendra, pihaknya sudah menghimpun
300 anggota. "Selain itu, sudah ada 1.000 calon anggota yang minta
bergabung," kata Linda, bangga.
Sebagai anggota, mereka memperoleh fasilitas pertama untuk menggunakan track
dan membeli aksesori baru di tokonya. Dengan membentuk klub semacam itu, Opi
Kids merasa beruntung karena bisa dengan mudah menjual dagangannya. Bagi
pecandu, sekali belanja bisa ratusan ribu rupiah. Syarat menjadi anggota
memang mudah: cukup menjadi pelanggan Opi Kids.
Pemasok tunggal mobil Tamiya di Indonesia adalah PT Modern Indocitra. Menurut
Hendra Gunawan, manajer pemasaran PT Modern Indocitra, mobil Tamiya diimpor
langsung dari Jepang. Hingga sekarang, pihaknya mengimpor tak kurang dari 100
ribu unit per bulan, belum termasuk suku cadang.
Tapi khusus sirkuit, Hendra sengaja tak mau memasarkannya secara bebas.
"Kalau sirkuit itu dijual bebas, nanti hanya orang tertentu saja yang kuat
beli. Dan permainan itu jadi kurang memasyarakat," katanya kepada Susilawati
Suryana dari TEMPO. Harga sebuah sirkuit plastik bisa mencapai Rp 0,5 juta.
Apalagi, menurut Hendra, dari kalangan pengusaha, sambutannya amat
menggembirakan. Banyak yang menawarkan diri untuk dilibatkan sebagai sponsor
pertandingan, seperti perusahaan real estate, Pizza Hut, Ny. Tanzil, sejumlah
perusahaan minuman dan supermarket.
Menurut perkiraan Hendra, di Jakarta ada 20 Tamiya Race Club. Tapi, jika
dibanding negara ASEAN lainnya, dalam perkara demam Tamiya, Indonesia
ketinggalan. Di Singapura, Malaysia, dan Filipina demam itu sudah berlangsung
setahun lebih. Permainan ini juga sangat populer di Korea, Taiwan, Amerika,
dan negara-negara Eropa.
Mengapa orang menggemari Tamiya? Beberapa pecandu menyebutkan kepada TEMPO
pada awalnya mereka cuma iseng. "Saya tertarik gara-gara mengantar anak-anak
main di Opi Kids," kata Ahmad Albar. "Eh, lama-lama kok kecanduan juga,"
tambah pemain rock itu.
Alasan serupa juga dikemukakan Irwan Darmawan, Deputi Direktur Pemasaran PT
Amcol Graha Electronic Industries. Irwan melihat hobi barunya justru banyak
memberi kepuasan batin, di samping bisa bernostalgia -ia dulu bekas
pembalap. "Saya juga menjadi dekat dengan anak-anak," tuturnya penuh
sukacita.
Menurut Irwan, jika sudah asyik merakit Tamiya, bisa lupa segala-galanya.
Kini Irwan memiliki tujuh mobil Tamiya. "Satu mobil yang kami rakit bisa
menghabiskan ongkos Rp 350 ribu," ujar pengusaha muda ini. Semula sang istri
sebal juga melihat hobi Irwan. "Tapi lama-kelamaan, istri saya juga ikut
menikmati," kata ayah dua anak itu.
Banyaknya orang berduit yang lari ke hobi Tamiya, menurut psikolog Sartono
Mukadis, tak bisa dilihat sebagai gejala penyimpangan. Pada tingkat kemapanan
yang sudah dicapai golongan tertentu, menurut Sartono, ada orang yang merasa
kehilangan sesuatu. "Barangkali lewat permainan itulah, yang hilang itu bisa
ditemukan kembali." Jadi, pada dasarnya mereka hanya ingin mencari
keseimbangan psikologis.
Buby Chen, pemusik jazz asal Surabaya, mengakui hal itu. Ia sudah lama
mengembangkan hobi merakit bermacam-macam mainan seperti pesawat tempur mini
dan mobil-mobilan. Dengan hobi itu, ia melatih dirinya untuk berlaku sabar,
satu hal yang tak mungkin didapatnya, kendati dengan bermain musik sekalipun.
"Bagi saya, mainan ini merupakan medium terapi psikologis," kata pianis
beken itu. Koleksinya mencapai 700 set mainan -sebagian besar pesawat
tempur.
Aries Margono, Leila S. Chudori, Achijar Abbas (Jakarta) Kelik M. Nugroho
(Surabaya)
|