Energi dunia buat martha graham
energi dunia martha graham Kreator tari modern martha graham, 96, tutup usia. konsepnya: tari adalah
kebebasan gerak. setidaknya 200 tari telah diciptakan. sejumlah penari
indonesia pernah berguru pada martha graham. |
DUA tahun silam, dalam keadaan fisik yang tak lagi kukuh dan lebih banyak
duduk, Martha Graham untuk pertama kalinya berkata, "Saya memerlukan
codirector." Tapi ia tak berniat mundur dari dunia tari dan tetap mencipta.
"Tempat saya tetap di tengah (pentas), tempat yang akan selalu diingat,"
katanya lagi, kepada wartawati Marian Horosko dari majalah Dance.
Dan dunia memang tetap ingat pada Martha Graham, meski sejak 1 April lalu,
tubuhnya sudah terbaring kaku. Kreator tari modern abad ke-20 ini meninggal
dunia dalam usia 96 tahun.
Ia meninggalkan sebuah konsep: tari adalah ekspresi kebebasan gerak. Maka,
bagi Martha Graham, seorang penari mutlak memiliki kekayaan batin, agar
kekuatan emosinya -- kelembutan, kegembiraan, gairah cinta, sedih, amarah,
sampai yang paling ekstrem: perasaan berdosa -- melebur dalam gerakannya.
Arti gerak dikenal pertama kali dari orang yang justru melarangnya menari,
yakni ayahnya, Dr. George Graham. Sebagai seorang psikiater, ayahnya kerap
menerima pasien dengan berbagai keluhan kelainan jiwa. "Orang yang berbohong
bisa dilihat dari gerakannya," kata sang ayah kepada putri sulungnya ini.
"Jika ucapannya tak konsisten dengan gerak tubuhnya, ia pasti sedang
berbohong." Maka, si putri sulung, Martha Graham, berpendapat bahwa gerak
merupakan ekspresi jiwa. Itu sebabnya, dalam latihan ia membebaskan penari
mengekspresikan dirinya.
Tak ada yang tahu persis kapan Martha lahir. Namun, dipastikan ia lahir pada
Mei 1894 di Allegheny, Pennsylvania, Amerika. Pada usia 10 tahun orang tuanya
pindah ke Santa Barbara, California. Ia kemudian dimasukkan ke sekolah privat.
Suatu hari guru tarinya, Ruth St. Denis, mengundang murid yang pendiam dan
pemalu ini ke sekolah tari miliknya, Denishawn School di Los Angeles. Di
situlah Martha kecil memperlihatkan minat yang besar pada tari.
Baru 1916, beberapa saat setelah ayahnya meninggal dunia, Martha Graham bisa
bergabung dengan Denishawn Company. Suatu malam, seusai menarikan Xochitl,
seseorang membisikinya: "Seperti kaulah seharusnya seorang penari. Kau
memiliki 'sesuatu' yang luar biasa." Kelak Martha Graham tahu, orang yang
membisikinya itu bernama Alexander Pantages, pemilik beberapa teater.
Tahun 1930 ia mendirikan Martha Graham Dance Company di New York. Waktu itu
studio tarinya masih kecil. Seorang bankir yang juga pengagumnya, Bethsebee de
Rothschild, kemudian menghadiahkan sebuah apartemen berlantai tiga. Di situlah
studio tari Martha Graham sampai akhir hidupnya.
Setidaknya 200 tari telah diciptakannya. Ia menerima lebih dari 40
penghargaan dunia. Di antaranya, Medali Perdamaian dari Presiden Gerald R.
Ford (1976), French Legionof-Honor Chevalier dari Presiden Prancis (1984),
Carina Ari Medal dari Putri Christina, Swedia (1985), penerima pertama
National Medal of Arts dari Presiden Ronald Reagan (1985).
Konsep tarinya sangat universal, bisa diserap setiap bangsa. Tak heran jika
Martha Graham pernah dinominasikan sebagai penerima nobel perdamaian. "Dalam
peperangan, tangan-tangan prajurit menggenggam granat dan senjata. Tetapi
Martha Graham menggenggam tangan-tangan bangsa lewat koreografi tari yang
harmonis," begitu tertulis dalam lembar nominasi.
Sebagai penari idealis, Martha Graham menolak undangan Adolf Hitler pada
pembukaan Olimpiade Berlin (1936). Sampai menjelang ajalnya, ia pun menolak
pentas di Afrika Selatan.
Paling tidak ada lima penari Indonesia yang pernah berguru pada Martha
Graham. Yakni Meily Kawilarang, Seti Arti Kailola, Wisnu Wardhana, Bagong
Kussudiardjo, dan Sardono W. Kusumo. "Di studio Martha Graham saya baru
menemukan, seni tari ternyata mempunyai kedalaman dan horison sangat luas.
Semua cabang kesenian ada di dalam tari. Ini, terus terang, mempengaruhi
konsep dan karya saya," kata Bagong, yang pernah dua kali belajar di sana
(1957 dan 1964), kepada Sri Wahyuni dari TEMPO. Bagi Seti Arti Kailola, yang
pada 1957 mendapat beasiswa Rockefeller Foundation untuk belajar tari selama
setahun di studio Martha Graham, yang berkesan adalah kedisiplinannya. "Ia tak
segan-segan menegur dengan keras jika muridnya lengah," kata Seti.
Tentu Martha Graham punya banyak pengagum. Tetapi tak banyak yang mengetahui
kehidupan pribadinya. Ia pernah menikah dengan Erick Hawkins, seorang penari
di kelompoknya. Tapi tak jelas bagaimana akhir perkawinannya. "Ada tiga hal
yang tak ingin kubicarakan: politik, agama, dan seks," ucapnya.
Ia berhenti menari pada usia 75 tahun, tetapi tetap mencipta. Pada usia 95
tahun ia memperbarui koreografi American Document yang ditarikan Mikhail
Barishnikov -- penari balet Rusia yang membelot ke AS -- pada musim gugur yang
lalu. "Energi dunia tersedia bagi siapa saja. Dialah yang membuat planet dan
seluruh kehidupan bergerak. Semua bisa menggunakannya. Saya memanfaatkannya,"
ujar Martha Graham tentang usianya yang panjang.
Sri Pudyastuti R.
|