Kerukunan agama: belajar berlapang dada |
Dalam tulisan "Kerukunan Agama: Refleksi Teologis Pasca-Monitor" (TEMPO, 22
Desember 1990, Komentar), Masdar F. Mas'udi mengusulkan bagaimana melestarikan
kerukunan antarumat beragama.
Dalam tulisan itu, Masdar mempertanyakan, mampukah Pancasila untuk seterusnya
meredam ketersinggungan antarumat beragama. Menurut Masdar, Pancasila belum
cukup untuk meredam ketersinggungan itu. Sebab itu, kewaspadaan terhadap SARA
masih relevan.
Saya sependapat dengan Saudara Masdar bahwa persaingan antaragama dalam
menjalankan misinya terkadang bersifat tawur. Untuk meredam ketersinggungan,
Masdar mengusulkan semboyan kasih untuk pengabaran (Kristen), dan rahmat
kesemestaan untuk dakwah (Islam) dibalik menjadi pengabaran untuk menegakkan
kasih, dan dakwah untuk menggelarkan rahmat. Masdar juga menyarankan, biarkan
semua itu menjadi hak tiap-tiap orang untuk menentukan pilihannya.
Namun, menurut saya, semboyan -- atau katakanlah doktrin -- itu tak perlu
dibolak-balik asalkan misi untuk menjalankan semboyan itu dilakukan secara
proporsional, wajar, dan tak overacting.
Karena itu, dakwah lewat masjid (mimbar Jumat), mulai sekarang, sudah saatnya
ditertibkan dalam arti tidak dilakukan secara berlebihan dan memekakkan
telinga. Saya setuju dengan Ali Audah dalam tulisannya "Tentang Suara yang
Keras itu" (TEMPO, 22 Desember 1990, Kolom). Di situ, Ali Audah mengusulkan
agar Departemen Agama melarang cara-cara berdakwah seperti itu karena model
dakwah seperti itu dikhawatirkan justru bisa mengganggu ketenteraman rumah
tangga orang dan merugikan dakwah Islam itu sendiri.
Bagi umat di luar Islam, dakwah dengan pengeras suara itu sebenarnya tak
dirasakan mengganggu kalau saja isinya menyejukkan hati dan tidak menyinggung,
atau tidak mempermasalahkan agama lain. Saya tak tahu, apa motivasi sang juru
dakwah dengan menyiarkan khotbah-khotbah seperti itu.
Saya juga tidak tahu apakah kenyataan-kenyataan seperti yang dikatakan
Abdurrahman Wahid bahwa wajah Islam masih dipenuhi prasangka buruk dan menilai
orang lain nggak pantas (TEMPO, 29 Desember 1990, Prospek 1991). Kalau
demikian halnya, sudah saatnya kita semua belajar berlapang dada, introspeksi,
dan menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang bukan milik kita sendiri.
TULUS SIH KARUNIANTO
Jalan Puspanjolo VI/5
Semarang
|