Mereka mengeroyok tol Jalan tol padalarang-cikampek akan digarap sembilan investor. antara lain
travalgar house corp. dari inggris, kumagai gumi dari jepang, lamtoro gung dan
krakatau steel. memerlukan dana rp 678 milyar. |
LIMA tahun lagi, jarak Jakarta-Bandung mungkin dapat ditempuh hanya dalam
waktu dua jam. Ini bukan ramalan ngawur. Jalur tol Cikampek-Padalarang
--sepanjang 59 kilometer -- saat itu diperkirakan sudah mulus terhampar, hasil
kerja empat investor lokal dan lima pemodal asing. Dananya sekitar Rp 678
milyar, berarti Rp 11,5 milyar per kilometer.
Kali ini tiga investor asing datang dari Inggris, yakni Travalgar House
Corp., Rendel Palmer & Triton Corp., dan Commonwealth Development Corp. Mereka
diperkuat oleh dua "raksasa" Jepang: Kumagai Gumi dan Marubeni Corp.
Adapun partner lokalnya adalah sebuah nama yang tak asing lagi: PT Citra
Lamtoro Gung Persada, milik Siti Hardiyanti Rukmana, lebih dikenal sebagai
Mbak Tutut. Lamtoro sukses membangun jalan tol layang Cawang-Tanjungpriok,
malah belum lama ini memenangkan tender jalan tol di Malaysia. Dalam proyek
Cikampek-Padalarang, ikut bergabung PT Krakatau Steel, Yayasan Dana Pensiun
Perkebunan, dan PT Bakti Barito Agrotama Perkasa -- salah satu perusahaan dari
grup Prajogo Pangestu.
"Persentase pembagian sahamnya belum ditentukan, dan masih perlu mendapatkan
persetujuan dari Departemen Keuangan," kata Soehartono, Dirut PT Jasa Marga.
Persentase itu baru akan diputuskan awal Januari 1991, lengkap dengan
ketentuan tentang hasil pungutan tol, plus pembagian labanya. Yang pasti,
menurut Dirjen Bina Marga, Ruslan Diwiryo, dari jalur tol ini, para investor
akan menikmati konsesi selama 25 tahun.
Namun, jangan harap uang segera jatuh gemerincing. Menurut Soehartono, 50%
uang hasil tol biasanya digunakan untuk biaya perawatan jalan itu sendiri.
Sisanya, 50% lagi, juga belum bisa dihitung sebagai pendapatan bersih karena
masih harus dipotong biaya bunga investasi.
Nah, apakah karena soal dana itu begitu merepotkan, belakangan ini Pemerintah
selalu mengundang investor swasta? Padahal, ada PT Jasa Marga, BUMN yang tidak
saja spesialis jalan tol tapi juga cukup lihai menjaring dana -- lewat
penerbitan obligasi misalnya. Selain itu, masih bisa diandalkan kredit lunak
dari Bank Dunia, OECF, Kuwait Funds, ataupun Saudi Funds.
Kepada TEMPO Soehartono kontan menegaskan bahwa biaya bukanlah perkara
gampang. Katanya, untuk menerbitkan obligasi, diperlukan persyaratan khusus.
Selain itu, dana yang dibutuhkan harus berupa pinjaman jangka panjang,
"Sementara itu, obligasi kan punya tingkat pengembalian yang cepat," tuturnya.
Apalagi jalur Cikampek-Padalarang perlu dana Rp 678 milyar, padahal obligasi
yang diterbitkan Jasa Marga rata-rata hanya Rp 150 milyar per tahun. "Kalau
mengandalkan surat berharga, nggak bakalan nyampe, deh," kata Soehartono lagi.
Budi Kusumah
|