Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XX/29 Desember - 04 Januari 1991
   
Wawancara

Menghitung suku bunga turun

Wawancara tempo dengan yusuf kalla, komisaris grup bukaka. tentang perkiraan suku bunga, industri yang sedang ditekuni bukaka, dampak negatif krisis teluk terhadap bisnis bukaka, kendala yag akan dihadapi tahu 1991.

KRISIS Teluk, bagi M. Jusuf Kalla, 48 tahun, komisaris dan grup bisnis
Bukaka, banyak pengusaha lainnya, merupakan salah satu faktor penentu dalam
ekonomi tahun 1991. Apalagi tahun depan adalah Tahun Kambing, yang menurut
Menteri Sumarlin akan menimbulkan resesi di sejumlah negara. Gambaran sulam
ini juga dibahas dalam perbincangan antara Jusuf Kalla dan Budi Kusumah serta
Moebanoe Moera dari TEMPO, Jumat pekan lalu, di lantai 7 Menara Bank Dagang
Negara, Jakarta. Petikannya:

Pertama-tama, bagaimana perkiraan Anda tentang suku bunga?

Tahun depan dijamin akan turun. Yah, sekitar 20%-lah. Sebab, tentunya
Pemerintah juga tak ingin kalau sampai investasi jadi tersendat. Dan bukan
hanya itu. Pengetatan rupiah juga akan memacetkan sektor perdagangan. Nah
kalau itu tak segera dicegah, ujung-ujungnya akan menimbulkan banyak PHK.

Andaikata suku bunga tak turun juga, lalu bagaimana?

Mustahil. Pengusaha mana yang berani investasi dengan bunga 30%? Artinya,
kalau bunga tetap tinggi, yang hanya bisa melakukan penanaman modal hanyalah
konglomerat-konglomerat yang bisa meminjam dari luar negeri dengan bunga
12-13%. Karena itu, saya yakin, tahun depan rupiah akan dilonggarkan. Paling
tidak, saya perkirakan bahwa tight money hanya akan berjalan sampai April
1991.

Sesudah itu, investasi bidang apa kira-kira yang akan diserbu pengusaha?

Hampir semua bidang. Termasuk proyek-proyek yang tertunda di tahun 1990,
seperti pembangunan hotel. Bukaka sendiri berniat memperlebar usahanya di
sektor perkebunan kelapa sawit dan cokelat. Di samping itu, kami juga akan
menambah armada kapal angkutan untuk melayani lndustri Bagian Timur.

Sektor industri apa yang kini sedung ditekuni Bukaka?

Kami menangani industri "belalai gajah" -- sudah ekspor ke Jepang -- makanan
udang, dan daging segar. Tapi bisnis Bukaka terbesar adalah di bidang
konstruksi perhubungan dan alat-alat eksplorasi minyak. Salah satu proyek
konstruksi yang sedang kami garap sekarang adalah pembangunan jalan
Trans-Sulawesi sepanjang 400 kilometer, dengan biaya Rp 60 milyar. Total,
omset Bukaka setahun sekitar Rp 200 milyar.

Kalau begitu, Bukaka juga mengandalkan proyek-proyek dari Pemerintah?

Benar. Hampir 75% pasar kami adalah Pemerintah.

Adakah dampak negatif krisis Teluk terhadap bisnis Bukaka?

Tidak terlalu berarti. Kalau perang Teluk terjadi, dan harga minyak naik,
bisnis kami di bidang eksplorasi dan konstruksi akan membaik. Sebab, kan
pemerintah banyak duit. Pun jika yang terjadi sebaliknya, harga minyak turun,
kami tetap bisa jalan. Soalnya, eksplorasi kan tidak akan pernah berhenti. Dan
kami sudah terbiasa mendapatkan order ketika harga minyak hanya 15 dolar per
barel. Jadi tak ada masalah. Persoalan mungkin akan muncul dalam hal
penawaran. Biasanya, kalau harga minyak baik, proses penawaran berjalan tidak
terlalu alot.

Bagaimana prospek di bidang usaha yang lain?

Juga cukup baik. Udang dan daging, misalnya, akan tetap laku karena orang
takkan pernah berhenti makan. Begitupun industri belalai gajah. Anda tahu,
kini hampir semua perusahaan penerbangan di dunia antre di pabrik pesawat.
Artinya, sektor angkutan udara akan mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Nah, dengan sendirinya, ini akan mendorong perkembangan sarana pelabuhan
udara.

Kira-kira kendala apa yang akan dihadapi pada tahun 1991?

Kendala memang selalu ada. Misalnya di sektor angkutan laut. Tarif angkutan
laut di Indonesia ini termasuk yang paling murah. Ambil contoh tarif KM
Kerinci, yang Rp 43 ribu. Itu untuk perjalanan dua hari, plus enam kali makan.
Padahal, seperti di Jepang, uang senilai itu hanya cukup untuk tarif pelayaran
tiga jam saja. Pun tarif angkutan barang, yang berlaku di Indonesia termasuk
murah. Bayangkan, ongkos angkut barang sudah enam tahun tidak naik. Sementara
itu, harga kapal dan BBM sudah naik beberapa kali. Belum lagi devaluasi.

Tapi kok bisa survive?

Tentu saja. Kami menggunakan kapal-kapal bekas sehingga angka penghapusannya
juga kecil. Seperti tahun lalu (1989), yang kami investasikan untuk membeli 10
kapal hanya Rp 25 milyar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data