Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XIX/22 - 28 Juli 1989
   
Nasional

Diplomasi jenderal Try

Panglima ABRI jenderal try sutrisno didampingi sejumlah perwira tinggi mengadakan kunjungan ke Australia. dianggap sukses, kerja sama pertahanan keamanan yang terhenti tahun 1986, akan hidup lagi.

SEKELOMPOK pasukan istimewa Indonesia mendarat di Australia,
CJ awal bulan ini. Tentara dari Negeri Kanguru pun sigap
menyambutnya. Tapi tak ada letusan senapan dan bunyi bom. Yang
ada malah sejumlah jabat tangan yang hangat.

Harap maklum, yang datang adalah Panglima ABRI Try Sutrisno
didampingi sejumlah perwira tinggi. Maka, Kepala Staf Gabungan
Australia, Jenderal Peter Gration, pun menyambut di anak tangga
pesawat di pangkalan angkatan udara Fairbairn di Canberra, dua
Ahad lalu.

Kunjungan Jenderal Try sebenarnya tak lebih dari suatu kunjungan
balasan. Akhir tahun silam Jenderal Gration yang datang ke
Indonesia. Namun, kunjungan enam hari Panglima ABRI beroleh
sarnbutan yang tidak sebentar. Banyak yang menilai kunjungan
tersebut telah berhasil mempertemukan sejumlah perbedaan
pandangan. "Ini adalah kunjungan paling sukses yang pernah saya
lihat," kata atase pertahanan Australia di Jakarta, Brigadir
Jenderal Terry Holland, kepada TEMPO awal pekan ini.

Itu agaknya bukan sekadar basa-basi seorang jenderal. Sebab,
kunjungan ini ternyata berhasil membuahkan dialog terbuka antara
tuan rumah dan tamunya. Dan dialog itu, selain menemukan
sejumlah perbedaan persepsi, ternyata juga membuahkan banyak
kesamaan titik pandang.

Misalkan saja konsep ketahanan nasional RI ternyata banyak
kemiripannya dengan konsep seyreliance militer Australia.
Bedanya, konsep ketahanan nasional Indonesia sudah lama
dilahirkan, sedangkan konsep Australia belum berusia tiga tahun.

Arsitek di belakang konsep angkatan bersenjata Australia ini
adalah Paul Dibb, ahli intelijen berpengalaman 15 tahun, yang
bertitel doktor. Dan dia butuh waktu setahun untuk menyusun
konsep pembaruannya. Yakni yang menginginkan Angkatan Bersenjata
Australia (ABA) sebagai kekuatan penangkal yang dapat bergerak
cepat dalam satuan-satuan kecil.

Alur pemikiran ini berbeda dengan konsep sebelumnya, yang
menggabungkan pertahanan Australia sebagai bagian dari sistem
pertahanan dunia kubu Amerika. Yakni yang mengandalkan kekuatan
negara-negara sekutunya untuk menghadapi ancaman Australia dari
utara.

Konsep lama itulah yang menyebabkan Australia menghadirkan
kesatuan militernya di negara "garis depan" seperti Malaysia dan
Singapura, dan pernah ikut bertempur bersama tentara AS di Korea
dan Vietnam.

Kini, dengan konsep self reliance, ABA mulai melepaskan diri
dari sistem pertahanan global ke arah sistem yang lebih mandiri.
Itulah sebabnya kesatuan-kesatuan militer di luar Australia
mulai ditarik pulang. Hanya kesatuan-kesatuan kecil, biasanya
dari intelijen, yang masih ditempatkan di beberapa daerah yang
dipandang strategis di luar Australia.

Namun strategi baru tersebut bukan berarti kekuatan tempur
Australia lantas menjadi berkurang. ABA tetap mempertahankan
kekuatan penempur garis depannya. Hanya saja, kekuatan ini lebih
dititikberatkan pada matra laut dan udara, sedangkan darat
dikurangi. Jadi, kekuatan itu memang mempunyai postur lebih
defensif.

Postur ini jelas lebih dimengerti oleh ABRI yang, menurut
Jenderal Try, cenderung melihat ke dalam (inward looking).
Walhasil, kedua konsep yang sama-sama "defensif" ini tentu
sangat cocok bagi dua negara yang bertetangga seperti RI dan
Australia.
Yang jadi persoalan memang sejauh mana masing-masing mempercayai
niat tetangganya untuk melaksanakan konsep "defensif" ini. Dan
untuk menumbuhkan kepercayaan itu agaknya tak ada jalan lain
selain memperlancar kontak antara angkatan bersenjata kedua
negara.

Itulah sebabnya Jenderal Try dan Gration sepakat untuk
meningkatkan kerja sama ABRI dan ABA di masa depan. Terutama
karena kerja sama selama ini, yang dimulai sejak tahun 1970-an
dan dikenal dengan nama "Defco" (lihat Tiga dari Try), sudah
berakhir.

Salah satu bentuk kerja sama baru itu adalah kehadiran perwira
Indonesia sebagai pengamat pada latihan militer Australia-AS,
buhm depan. Latihan yang melibatkan 28 ribu personel dari
ketiga angkatan ini akan berlangsung selama sebulan dengan
skenario menghadapi serbuan musuh dari Kepulauan Maluku dan
Irian.

Serbuan ini, menurut skenario itu, berasal dari negeri khayal
Kamaria. Namun, kali ini ABRI tampaknya tak perlu merasa
tersinggung dengan skenario yang secara tersamar melihat kita
sebagai "agresor" itu. "Dalam latihan militer skenario seperti
itu biasa, tak usah dipolitisir," kata Jenderal Try dengan
senyum.

Ini bukan ungkapan diplomasi. Sebab, tentara AS juga pernah
membuat skenario invasi ke Kanada, padahal kedua negara tersebut
tergolong akrab. Sedangkan ancaman bagi Australia, seperti
dikatakan Menteri Pertahanan Keamanan L.B. Moerdani, "dari mana
lagi kalau bukan dari utara?"

Dan siapa pun yang akan menyerang Australia dari utara pasti
harus melalui Indonesia. Misalnya saja ketika Jepang menggunakan
Irian sebagai pangkalan mengebom Darwin sewaktu Perang Dunia II
hampir setengah abad silam. Maka, jangan heran kalau Australia
merasa berkepentingan untuk bersahabat dengan jirannya yang di
utara.

Dewi Anggraini (Australia), Dewi / Rustam F mandayun
Bambang Harymurti (Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data