Luka-luka tak tersembuhkan Hasil penelitian psikolog judith wallerstein anak-anak keluarga berantakan alami trauma kejiwaan yang berkepanjangan. anak perempuan lebih tahan dalam
badai perceraian, beban yang mereka tanggung teramat berat. |
BUBARNYA perkawinan, semua tahu, akan mengguratkan luka pada
anak-anak. Tapi tidak semua menyadari, luka itu bisa parah
sekali. Untuk menggambarkannya, psikolog Amerika Judith
Wallerstein sampai mengutip celetukan seorang anak lelaki
berusia 7 tahun. "Saya seperti duduk dalam sebuah jet coaster
rusak yang dibiarkan terus meluncur." Kata-kata ini sekaligus
mengungkapkan rasa takut dan ketidakberdayaan.
Hasil penelitiannya tentang akibat perceraian dituangkan Judith
Wallerstein dalam buku berjudul Second Chances: Men, Women,
Children a Decade after Divorce, yang baru terbit Februari ini.
Selama 10 tahun Judith meneliti dengan tekun, dan analisa yang
dibuatnya mengundang banyak perhatian. Ada yang berpendapat
bahwa Judith Wallerstein telah membangun sebuah teori baru
tentang perceraian.
Psikolog itu mengawali bukunya dengan fakta bahwa dampak
perceraian sering diremehkan. Mereka yang bercerai itu yakin,
luka-luka jiwa yang ditanggung oleh anak-anak mereka akan sembuh
dengan sendirinya dalam dua atau tiga tahun. Dan ini memang
terjadi, kalau ibu atau ayah -- walaupun sudah bercerai --
masing-masing kembali menempatkan diri sebagai orangtua yang
baik. Sayang, hanya sejumlah kecil anak yang mengalami nasib
baik seperti itu.
Selebihnya, menyedihkan. Benar, sesudah 10 tahun lewat, Judith
menemukan bahwa 45% anak-anak keluarga berantakan bisa tumbuh
sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dan punya rasa
belas kasihan.
Tapi 41% lainnya memasuki usia dewasa sebagai orang-orang yang
penuh keraguan, kurang sukses, pemarah, dan suka mencela diri
sendiri. Bagaimana mencari penyebabnya?
"Luka itu tak pernah bisa sembuh," kata Judith. Dengan kata
lain, anak-anak itu tak pernah bisa melupakan semuanya begitu
saja. Ia sampai pada kesimpulan ini, setelah menemukan trauma
kejiwaan pada sebagian besar anak-anak pasangan bercerai, yang
ditelitinya 10-15 tahun kemudian. Ketika ia mulai meneliti pada
tahun 1971, anak-anak itu berumur 2-8 tahun. Kini, 131 anak dari
60 pasangan bercerai itu sudah berusia antara 19 dan 25 tahun.
Judith berkisah tentang seorang anak asuhnya. "Ia gadis yang
periang dan cerdas," tulis psikolog itu. Ketika orangtuanya
bercerai, ia baru 11 tahun. Saat itu dampak perceraian tak
begitu nyata, karena si gadis cepat bisa menyesuaikan diri
dengan keadaan baru. "Namun, ketika saya mewawancarainya pada
usia 16 tahun, terungkaplah bahwa luka akibat perceraian bisa
saja terpendam sangat lama," tulis Judith.
"Ketika ia datang lagi pada umur 21 tahun, saya tahu pasti gadis
itu tetap merasakan perihnya luka yang terurat sejak perceraian
10 tahun lalu." Gadis itu kini menumpahkan dukacitanya pada
Judith. "Selama 10 tahun, saya mengira bisa hidup tanpa cinta,
amarah, rasa sedih, dan rasa sakit." Namun, segalanya jadi lain
ketika pada usia 21 tahun ia jatuh cinta.
Ia tiba-tiba takut, jangan-jangan ia juga akan mengalami
kepahitan yang sama. Ia takut ditinggalkan, persis seperti
ditinggalkan kedua orangtuanya, yang memang tak peduli. "Mereka
sudah terlalu lama hidup tanpa perasaan, atau barangkali mereka
sama sekali tak punya perasaan," katanya. Luka seperti ini, yang
kepedihannya baru terasa 10 tahun kemudian (disebut Judith
sebagai sleeper effect), dialami 66% anak-anak yang
ditelitinya.
Hasil pengamatan Judith menunjukkan, separuh dari 60 pasangan
bercerai bertahun-tahun kemudian masih saja bersikap bermusuhan.
Anak-anak mereka terguncang dan tak tahu ke mana harus berpihak.
Judith semula yakin, pertemuan dengan orangtua mereka yang sudah
berpisah akan meringankan dampak perceraian atas diri anak-anak
itu. Namun, ternyata tidak. Tiga dari lima anak-anak yang
diteliti Judith ditolak dan dimusuhi -- paling tidak oleh salah
satu orangtua mereka.
Perceraian, menurut Judith, bukanlah penyelesaian bagi keretakan
yang tidak bisa lagi direkatkan. Perceraian adalah sebuah proses
yang berlangsung sejak perkawinan itu mulai gagal dan berlanjut
pada tahun-tahun berikutnya. Dari pengamatan atas 2.000 kasus
perceraian selama bertahun-tahun Judith akhirnya sampai pada
kesimpulan "Perceraian bukan sebuah jalan keluar, tapi
manifestasi kegagalan yang sudah berlangung lama."
Dalam perkawinan yang retak itulah 15% anak-anak terperangkap.
Anak-anak ini dihinggapi sindrom psikologis -- disebut sindrom
anak-anak yang keberatan beban karena digayuti beban batin yang
berlebihan. Kesengsaraan mereka melebihi penderitaan anak-anak
yang diperlakukan kasar oleh orangtuanya.
Second Chances mengetengahkan kisah tragis seorang anak kecil.
Pada usia 6 tahun setahun setelah ayah-ibunya bercerai, anak itu
sudah harus mengurusi sendiri semua keperluannya -- padahal
anak-anak seusianya masih bisa bermanja-manja. Pagi buta ia
bangun sendiri, menyiapkan sarapan sendiri mandi, dan -- mulanya
dengan susah payah -- berpakaian sendiri. Lalu, tanpa kecupan
dan lambaian seorang ibu, ia berangkat ke sekolah.
Seorang gurunya sekali waktu melihat lingkaran keletihan pada
mata anak yang malang itu. Hal ini ditanyakannya pada si anak.
Jawabnya, "Saya harus mengurus eorang bayi di rumah." Bayi?
Guru itu lalu berkunjung ke rumah muridnya, dan tak menemukan
seorang bayi. Yang ada ialah seorang ibu pemalas, yang mabuk
hampir setiap saat dan menjadi beban bagi anaknya yang baru
berumur 6 tahun. Dia ini adalah anak bungsu dari empat
bersaudara.
Pada usia 15 tahun, Judith beroleh kesan bahwa anak itu semakin
terikat. "Saya tak pernah bisa bermain, karena saya harus selalu
duduk di samping Ibu," katanya. "Saya lebih suka kalau ia
memaki-maki dan menumpahkan semua kegundahan pada saya, daripada
menyumpahi tetangga atau orang di tepi jalan." Ketika ibunya
menelusuri jalan dalam keadaan mabuk berat, anak itu dengan
setia mengikuti dari belakang.
Anak-anak perempuan usia 2-6 tahun justru paling bertahan di
tengah badai perceraian. "Mereka umumnya jadi anak-anak
tangguh," tulis Judith. Berbeda dengan anak laki-laki, yang
umumnya tumbuh rapuh dan lambat dewasa. Pada usia 12 tahun,
mereka sering masih bertingkah seperti anak di bawah lima tahun.
Tapi apakah anak-anak perempuan itu beruntung? Tidak selalu.
Justru karena mampu menanggulangi keadaan, mereka menanggung
beban berlebihan. Rasa tanggung jawab anak yang muncul sangat
dini dimanfaatkan para orangtua yang bercerai. Karena itu,
mereka runtuh juga pada akhirnya. Luka yang sudah tertutup
kembali menganga dan menimbulkan frustrasi. Luka jiwa itu,
seperti yang disimpulkan Judith, memang tidak pernah bisa
disembuhkan.
Jim Supangkat
|