Ujian Negara 1986, Pokoknya Lulus Rumus nilai STTB diubah lagi. Bobot ebtanas paling
tinggi sama dengan ujian sekolah atau bergerak
antara 2 dan 0,5. Siswa yang lulus akan semakin
banyak. Nem tetap menentukan seleksi siswa & mahasiswa. |
UNTUK sekadar lulus tampaknya gampang. Rumus untuk menentukan
nilai ijazah yang kini disebut STTB (surat tanda tamat
belajar) tahun lalu, seperti diketahui, terpaksa diubah. Agar,
jumlah siswa yang tidak lulus diperkecil. Untuk ujian negara
tahun ini - direncanakan akan dimulai 8 April nanti - dengan
sedikit dipermak, bulan lalu rumus yang diubah itu justru
dibakukan.
Ebtanas (evaluasi belajar tahap akhir tingkat nasional, atau
ujian negara, tahun lalu. diterapkan lagi dengan maksud:
mendapatkan standar mutu lulusan. Berbeda dengan ujian negara
tahun-tahun sebelumnya, mulai tahun lalu kelulusan siswa
ditentukan oleh dua hal. Yaitu nilai rapor dan nilai ujian
negara. Tujuannya, agar nasib murid tak cuma ditentukan oleh
ujian yang hanya berlangsung beberapa hari itu. Ini, tentu,
sebuah kemajuan. Repotnya kemudian, bagaimana cara menggabungkan
dua nilai itu agar diperoleh nilai yang, katakanlah, obyektif.
Lalu lahirlah rumus nilai STTB yang menghebohkan itu:
(P+Q+nR):(2+n). P, nilai rapor semester pertama kelas terakhir.
Q, nilai ulangan semester kedua kelas terakhir. R, nilai
Ebtanas. Dan n, ini yang bikin heboh, adalah bobot R, yang waktu
itu ditentukan sama dengan 3. Dengan itu nilai STTB memang lebih
mendekati nilai Ebtanas daripada nilai rapor: 60% nilai STTB
ditentukan oleh R.
Tapi itulah soalnya. Ternyata, bila rumus itu benar-benar
diterapkan, akan banyak sekali siswa yang tak lulus, baik di SD,
SMTP maupun SMTA. Soalnya, nilai R (nilai Ebtanas) yang
diperoleh anak-anak itu sangat rendah. Maka, ditempuh
kebijaksanaan. Nilai n diturunkan, boleh dipilih antara 0,1 dan
3. Menurut pihak Departemen P & K, ternyata sebagian besar
sekolah di seluruh Indonesia menggunakan n antara 0,2, dan 0,5.
Gunawan Rahardjo, 43, Kepala STM Pringsewu, Lampung, berterus
terang, "Kami menggunakan n=0,3 Kalau lebih dari itu banyak
siswa kami tak bakal lulus." Hanya untuk Pendidikan Moral
Pancasila, bobot R bisa di atas 2.
"Memang," kata Asmui Lubis, 45, guru Bimbingan dan Penyuluhan di
SMP Harapan I, Medan, "nilai Ebtanas tahun lalu bergerak antara
2 dan 4." Bahkan di beberapa daerah, khusus untuk nilai Fisika
dan Matematika, tak sedikit siswa yang nilai Ebtanasnya di bawah
1.
Dilihat dari kenyataan tahun lalu itu, penetapan nilai n
sekarang memang sebuah tantangan. Lewat satu pertemuan dengan
para Kepala Kanwil Departemen P & K seluruh Indonesia, tutur
Hasan Walinono, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, akhirnya
disepakati n bergerak antara 2 dan 0,5. Batas maksimum
ditentukan lebih rendah daripada tahun lalu, sementara batas
minimum lebih tinggi. Batas minimum itulah yang bisa jadi
persoalan, mengingat tak sedikit sekolah yang memakai nilai n di
bawah 0,5.
Dengan rumus itu pula ditetapkan bobot soal Ebtanas tertinggi
akhirnya hanya sama dengan ujian sekolah. R hanya punya pengaruh
50% pada nilai STTB. Separuh nilai yang lain ditentukan oleh
angka rapor. Itu nilai n yang tertinggi. Untuk yang terendah,
0,5 tadi, andil R dalam menentukan nilai STTB hanyalah 20%.
Dengan perhitungan yang sudah jelas itu, mulai sekarang sudah
bisa diperhitungkan umpamanya bila ada sekolah yang punya ambisi
meluluskan semua siswanya. Coba saja hitung. Bila angka rapor
semester pertama 6, dan semester kedua 7, dengan n=0,5, seorang
siswa hanya perlu mendapatkan nilai Ebtanas 4 agar dinyatakan
lulus. Makin tinggi nilai rapor makin rendah pula nilai Ebtanas
untuk sekadar bisa lulus. Bila angka rapor seorang siswa dalam
dua semester 8 dan 8, umpamanya, maka teoretis ia bisa tak usah
mengerjakan Ebtanasnya. Dengan angka tersebut, bila tetap
dipakai n=0,5, nol untuk ujian negara pun siswa tersebut bisa
mendapatkan angka STTB 6, dan lulus.
Maka, tidak tahun lalu tidak tahun sekarang, kata Morlan
Silaban,Kepala SMAN I Medan, "guru harus punya sikap dan mental
yang baik." Maksud kepala sekolah berusia 56 tahun ini, supaya
nilai rapor benar-benar mencerminkan kemampuan siswa dan
bukannya merupakan nilai katrolan. Tapi di situlah sulitnya.
Bukan rahasia lagi, di sejumlah sekolah yang kurang maju, para
guru terbilang berani memberikan angka rapor. Ini diakui sendiri
oleh Dahlan Manik, Kepala SMA PGRI 12 Helvetia, Medan. "Supaya
banyak yang lulus, dan karena itu sekolah makin dipercayai
masyarakat," kata Dahlan. Itu sebabnya, tuturnya kepada Amir S.
Torong dari TEMPO, "juara kelas di sini dengan nilai rapor
rata-rata 8, sebenarnya kemampuannya kalah dengan siswa sekolah
favorit yang rata-rata angka rapornya cuma 6."
Memang benar bahwa nanti yang boleh menentukan nilai n hanyalah
pihak Kanwil P & K setempat bukannya tiap-tiap sekolah bisa
menentukan angka n seenaknya sendiri. Tapi melihat pengalaman
selama ini, kanwil pun agaknya akan memilih jalan aman daripada
menimbulkan keresahan.
Ini semua bukan tak disadari oleh pihak Departemen P & K. Hasan
Walinono, Dirjen itu, mengakui, melihat kemampuan siswa dan
sekolah hanya dari STTB, sulit. Bukan itu yang harus dilihat,
tapi nilai Ebtanas murninyalah, katanya. Dan bila untuk tahun
ini batas minimum angka n bisa ditentukan 0,5 - lebih tinggi
dari nilai n yang dipakai sebagian besar sekolah tahun lalu -
itu karena memang ada yang berbeda dalam soal-soal Ebtanas
nanti. Yakni, atas kesepakatan semua Kepala Kanwil P & K seluruh
Indonesia, soal Ebtanas tak lagi sepenuhnya diambilkan dari bank
soal. "Soal Ebtanas disusun oleh wakil-wakil dari Kanwil dengan
pedoman soal dari bank soal." Dengan cara ini diharapkan bobot
Ebtanas tetap, tapi dengan materi yang sesuai dengan kemampuan
daerah. Itu berarti, materi soal yang diberikan di Jakarta,
misalnya, akan berbeda dengan yang untuk sekolah di Irian Jaya.
Betapa longgar pemerintah memberikan jalan untuk lulus, bisa
dibuktikan dengan prioritas yang diberikan untuk sejumlah
daerah. "Untuk sekolah di daerah terpencil dan kondisinya belum
baik," kata Hasan Walinono, "diberikan wewenang menggunakan
nilai n kurang dari 0,5." Jadi, apa artinya lulus sekolah
sekarang?
Bambang Bujono Laporan Indrayati (Jakarta)
|